17 ⚠

6.7K 203 0
                                        

"Aku... a-aku menyukaimu San."

Tak ada jawaban dari San, itu berhasil membuat Wooyoung sedih. Wooyoung menatap San, disana San sedang memandangnya tanpa ekspresi apapun. Wooyoung mulai mengerutkan bibirnya.

San menghela nafasnya pelan, jika sudah seperti ini ia harus bagaimana. Tak mungkin bagi mereka untuk menjalin hubungan mengingat Wooyoung adalah anggota keluarganya juga.

"Ma-maafkan aku... aku hiks-"

San memeluk Wooyoung erat, ia sebenarnya tak masalah dengan perasaan Wooyoung padanya, terlebih San juga menyayangi Wooyoung dan tak ingin Wooyoung menjadi milik orang lain.

San mencoba untuk menenangkan Wooyoung yang sudah terisak didalam pelukannya, tak semestinya ia berbuat seperti ini pada Wooyoung. Haruskah dirinya sedikit menjauh pada Wooyoung sekarang.

Wooyoung membalas pelukan San, ia menenggelamkan wajahnya diceruk leher San. Seharusnya Wooyoung tak berkata seperti itu tadi, ia mulai khawatir jika nanti San akan menjauh darinya.

"Sanie hiks, ja-jangan menjauhiku hiks hiks... aku minta maaf."

"Aku tak akan menjauhimu Woo, kamu tak perlu meminta maaf. Kamu tak salah apapun."

"Ta-tapi hiks, aku..."

San mulai menangkup wajah Wooyoung, seharusnya ia sudah bisa menebaknya sedari dulu, bahkan itu terasa aneh saat Wooyoung dapat bersikap manja padanya dan tidak pada lelaki lain.

Karena egonya terus berkata tidak, San jadi membuang pikiran-pikiran tentang sikap Wooyoung padanya yang terlihat aneh itu. San mencoba untuk tersenyum, ia mulai mengecup bibir Wooyoung.

"Aku tak masalah dengan itu Woo. Berhetilah menangis, jika kamu terus menangis aku akan benar-benar menjauhimu."

"Ti-tidak! jangan lakukan itu hiks..."

Wooyoung mengusap air matanya, ia hanya takut jika San menjauhinya saat dia tau kalau dirinya menyukai San. Wooyoung menatap San yang tersenyum manis padanya sekarang.

San mengelus rambut Wooyoung, seharusnya ini tak akan menjadi masalah jika tak ada yang mengetahuinya bukan. Hubungannya dan Wooyoung yang sudah melebihi batas antar saudara itu. San tak terlalu memperdulikannya, tapi pandangan orang lain pasti akan berbeda.

"Sanie janji tak akan menjauhiku?"

"Aku berjanji."






-






Wooyoung menggeliatkan badannya, ia mulai mendudukan dirinya, melihat kesamping dan mendapati San yang masih tertidur disana. Sepertinya semalam ia ketiduran karena sempat menangis, membuatnya jadi mengantuk.

Wooyoung sedikit mengecup pipi San dan beranjak dari ranjangnya, ia harus segera membuat sarapan. Wooyoung turun ke bawah berjalan menuju dapur, semenjak tak ada mamanya ia jadi harus bangun lebih awal.

Meskipun San sempat berkata tak usah membuat sarapan karena mereka dapat membelinya diluar, tapi Wooyoung berpikir jika itu akan sangat boros. Ia juga ingin San memakan apa yang ia masak.

Dan sudah hampir 10 menit lamanya Wooyoung didapur, ia hampir menyelesaikan masakannya. Wooyoung sedikit terkejut saat ada yang memeluknya dari belakang sekarang, Wooyoung sedikit melirik ke belakang melihat San yang masih mengantuk disana.

"Selamat pagi Sanie."

"Pagi Woo, kenapa kamu tak membangunkanku?"

"Kamu tidur sangat nyenyak, lagi pula aku belum selesai memasaknya."

STEPBROTHER : Sanwoo/WoosanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang