Hari-hari terus berlanjut dan Wooyoung masih saja mengabaikan San, bahkan ini sudah terhitung lebih dari 2 bulan lamanya. Itu berhasil membuat San merasa kehilangan sosok Wooyoung di hidupnya.
"Kamu tak terlihat baik-baik saja San, ada masalah?"
San menatap Seonghwa yang sedang berada dihadapannya sekarang, ia sedikit tersenyum padanya. San mulai mengelus rambut Seonghwa, ia merasa jika dirinya tak bisa terus-menerus menjadi selingkuhan Seonghwa.
Seonghwa mengerutkan dahinya, ia merasa tak nyaman dengan perasaannya sekarang karena sikap San yang terasa berbeda dari sebelumnya. Seonghwa mulai memeluk San dengan erat.
"Kak, bagaimana jika kita sudahi hubungan ini?"
Seonghwa sedikit terkejut dengan perkataan San padanya, ke khawatirannya benar-benar terjadi sekarang, ia bahkan sudah terlalu bergantung pada San. Seonghwa tak bisa begitu saja melepasnya.
"Aku tak mau."
"Kak-"
"Tidak San."
"Dengarkan aku terlebih dahulu, aku masih akan tetap ada untukmu tapi aku tak bisa terus melanjutkan hubungan ini."
Seonghwa menghela nafasnya berat, jika San sudah tak bisa melakukannya, ia juga tak seharusnya memaksakan San. Selagi San masih terus berada disampingnya sepertinya itu sudah sangat cukup untuknya sekarang.
Seonghwa sedikit melonggarkan pelukannya, ia mulai menatap manik coklat milik San dihadapannya. Dirinya sungguh egois karena tak bisa melepaskan salah satu diantara kekasihnya atau San karena ia menyayangi keduanya.
"Aku mengerti."
-
"San kemana sebenarnya, dia tiba-tiba pergi begitu saja."
Wooyoung menggendikan bahunya tak peduli, ia semakin tak bersemangat untuk pergi ke sekolah setelah ia mulai mengabaikan San. Wooyoung bahkan tak sadar jika dirinya sudah mengabaikan San selama hampir 2 bulan.
Mingi sedikit mengedarkan pandangannya saat sudah berada di area parkiran motor, tapi pandangannya tiba-tiba terhenti saat melihat San yang sedang mencium Seonghwa. Itu berhasil membuatnya terkejut sekarang.
Mingi tersadar dari keterkejutannya itu dan langsung memandang Wooyoung yang berada disampingnya, ia melihat Wooyoung yang sama terkejutnya dengan dirinya saat melihat San didepan sana.
"Young, kau-"
Wooyoung beranjak pergi dari tempatnya setelah ia tak sengaja melihat San yang mencium Seonghwa di parkiran. Bahkan itu bukan ciuman di pipi ataupun kening, tapi di bibir. Wooyoung sudah sangat kesal dan tanpa ia sadari air matanya mulai menetes sekarang.
"Sialan."
Wooyoung berjalan pergi entah kemana, pikirannya terus-menerus mengingat tentang San yang mencium Seonghwa. Ia sedikit mengusap kasar air matanya yang masih saja berjatuhan di pipinya.
Setelah Wooyoung bersusah payah untuk melupakan perasaannya pada San, ia malah harus melihat kejadian seperti itu. Bahkan hatinya kembali sakit sekarang, ia tak bisa lagi menahan rasa cemburunya.
Wooyoung sungguh tak bisa melupakan perasaannya yang sangat mencintai San. Dan jika boleh jujur ia sudah benar-benar merindukan San sekarang, ia rindu saat San bersikap manis padanya. Seharusnya ia tak mencoba untuk mengabaikannya.
-
"San dimana Wooyoung sebenarnya?!"
"Aku tak tau ayah, Wooyoung tak bersamaku sejak sepulang sekolah tadi."
"Bagaimana bisa?! ayah mengatakan untuk kamu pulang bersamanya, tapi kenapa sekarang kamu pulang sendirian!?."
"Sayang tenanglah."
Nara mencoba untuk menenangkan Junhee, ia tau jika Wooyoung dan San sedang bertengkar karena ia melihat Wooyoung yang terus mengabaikan San. Nara juga yakin jika San tak menginginkan hal ini terjadi, terlebih San sangat menyayangi Wooyoung.
Junhee menghela nafasnya berat, entah apa yang sebenarnya terjadi antara San dan Wooyoung sekarang. Tapi ia tak menyangka jika Wooyoung belum pulang padahal ini sudah hampir tengah malam, ia juga tak bisa menghubungi nomornya.
Nara juga semakin khawatir pada Wooyoung, karena tak ada satu teman Wooyoung yang tau keberadaan dia ada dimana. Ini bahkan tak pernah terjadi sebelumnya, ia takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Wooyoung sekarang.
"Aku akan mencarinya."
-
Wooyoung sudah merasa lelah karena terus berjalan ditepi jalanan sampai ia tak tau dimana ia berada sekarang. Wooyoung melihat suatu tempat yang sangat ramai dihadapannya, bahkan itu terlihat seperti sebuah club.
"Bagaimana bisa aku sampai ditempat seperti ini."
Wooyoung merasa jika kakinya sudah tak bisa bergerak lagi, bahkan matanya sudah terasa sangat berat akibat bengkak karena menangis terus-menerus. Ia memaksakan diri untuk terus berjalan, bahkan ia tak bisa menghubungi siapapun karena ponselnya mati.
Harinya benar-benar sial sekarang, dirinya yang harus melihat orang yang ia cintai mencium orang lain, lalu ponselnya mati dan sekarang ia tak sengaja menabrak seseorang. Apakah kesialannya tak cukup untuk hari ini.
"Maaf, aku tak sengaja."
"Wooyoung?"
Wooyoung mengerutkan dahinya, ia mencoba untuk mengangkat kepalanya dan melihat Yeonjun dihadapannya sekarang, sepertinya orang yang tak sengaja ia tabrak adalah Yeonjun. Mengapa harus dia.
"Bagaimana bisa kamu ada disini Wooyoung?"
"Aku tak tau."
Yeonjun mulai menatap Wooyoung dari atas sampai bawah, dia masih menggunakan seragam sekolah. Bahkan ia bisa melihat jejak tangisan di wajahnya, Yeonjun berpikir jika terjadi sesuatu pada Wooyoung yang membuatnya tak pulang ke rumah.
Yeonjun tersenyum tipis, ini benar-benar keberuntungannya karena bertemu dengan Wooyoung disebuah club. Melihat Wooyoung yang sepertinya sedang memiliki masalah, mungkin ia bisa mengajak Wooyoung masuk kedalam club.
"Mau masuk kesana? sepertinya kamu sedang memiliki masalah."
"Aku tak cukup umur untuk bisa masuk kesana."
"Itu tak akan menjadi masalah, aku bisa membawamu masuk kedalam."
"Bagaimana?"
Wooyoung menatap bingung kearah Yeonjun yang masih saja tersenyum aneh disana. Ia sedikit ragu untuk masuk kedalam karena jika ketauan sudah pasti dirinya akan terkena marah. Tapi disatu sisi ia juga ingin masuk untuk menghilangkan pikirannya tentang San.
Yeonjun mulai menarik tangan Wooyoung untuk masuk kedalam club, seharusnya anak sekolahan memang tak bisa masuk kesana. Beruntung karena club itu milik sepupunya jadi ia bisa bebas masuk dan membawa siapapun kedalam sana.
Wooyoung terkejut karena saat ia masuk tak ada satupun yang menahannya, mereka membiarkan dirinya masuk kedalam. Itu membuat Wooyoung sedikit kebingungan, terlebih ia masih memakai seragam sekolah, seharusnya ia ditahan untuk tak masuk kedalam.
"Sudah aku bilang, aku bisa membawamu masuk."
"Umm."
"Kamu memakai kaos lagi bukan? lepaskan seragamnya, jika ada yang menyadarinya, kamu bisa terkena masalah nanti."
Wooyoung mengangguk paham, ia mulai melepaskan seragamnya. Wooyoung sedikit merasa asing dengan tempat seperti club, suasananya benar-benar ramai, ditambah banyak orang yang berpakaian dengan seksi. Bahkan ada dari mereka yang sedang bercumbu.
"Apa kamu ingin meminum alkohol?"
"Ta-tapi..."
"Hanya sekali ini saja itu tak akan menjadi masalah untukmu, lagi pula jika kamu memang sedang dalam masalah, alkohol adalah jalan keluar yang terbaik."
"Baiklah, a-aku akan mencobanya..."
KAMU SEDANG MEMBACA
STEPBROTHER : Sanwoo/Woosan
Fiksi PenggemarJung Wooyoung mengalami Brother Complex pada saudara tirinya, Choi San. Dimana Wooyoung mulai melakukan segala hal untuk bisa mendapatkan San agar tetap berada di sisinya. - San : top Wooyoung : bottom Homophobic do not interact this story. ⚠ There...
