Jelang ulang tahun Zean yang semakin dekat, maka hari Kalivia pun semakin suram. Baginya ulang tahun Zean adalah hari malapetaka buatnya. Dan segala yang Kalivia lakukan nyatanya masih jalan ditempat.
"Gue kan dah bilang. Mending selingkuh aja. Lo-nya malah kagak setuju." dumel Kalivia yang mana ditujukan pada sahabatnya, Irena.
"Yeee, yang ada Zean kagak percaya. Paling dia nganggep itu akal-akalan lo doang demi mutusin nih pertunangan."
Kalivia melengos, tapi yang dikatakan Irena memang benar. Bila Zean tau ini akal-akalannya doang, yang ada Zean melaporkannya pada keluarga. Tentulah Kalivia yang akan kena dampak.
Tak lama bel pulang berbunyi. Kontan semua siswa bergegas bersiap-siap termasuk Kalivia dan Irena.
"Udahlah, Na. Gue balik dulu." usai berkata demikian, Kalivia berlalu dengan bahu terkulai lemas.
Hari ini Kalivia pulang sendiri, itu karena Zean lebih memilih mengantar gadis lain yang katanya lagi sakit. Seperhatian itu, hingga Kalivia merasa tidak pantas. Terlebih bayangan ciuman Oliv dan Zean masih membayangi Kalivia.
Ternyata se-sesak itu.
Menendang batu-batu kecil yang ada di hadapannya, Kalivia menghela napas pendek. Kenapa Tuhan senang sekali memberinya ujian.
Mulai dari Galaxy yang tidak normal, lalu ada tunangannya yang menyukai kakak perempuannya sendiri. Belum lagi orangtuanya yang meneror perihal hadiah Kalivia pada Zean.
Seandainya mereka tau, ulang tahun Zean adalah hal yang Kalivia hindari. Karena di momen itu masa depan Kalivia menjadi penentu.
"Gue pengen ngilang. Sebentaaar aja. Sampae ulang tahunnya Zean lewat." monolognya sambil memilih berteduh. Kalivia mengangkat kepalanya, menatap langit biru di atas sana.
Lama dia melamun sampai angkutan umum berhenti di depannya barulah Kalivia mengalihkan atensinya.
🌰🌰🌰
"Kali, gue tau lo bodoh. Tapi gak sebodoh ini jugaaa..." Irena merasa gemas lantaran mendapati Kalivia yang jauh-jauh datang ke kost-nya hanya demi menghindari ulang tahun Zean yang terjadi malam nanti.
Kenapa waktu cepat berlalu?
"Gue bingung, Na." akunya memukul-mukul kaki Iren yang sedari tadi masih setia berdiri sedangkan Kalivia duduk melantai.
"Heh, otak kura-kura. Lo ya, gue nanya ada masalah apa lo sama si Zean malah jawab rumit. Rumitnya itu gimana, Kalii." Irena merasa geram, sedari kemarin Kalivia merasa aneh.
"Irena. Gue gak bisa cerita. Tapi suatu saat lo bakalan tau. Dan gue minta tolong, cariin lelaki yang mau jadi selingkuhan gue." usai mengatakan itu ponsel Kalivia berdering. Siapa lagi jika bukan orang tuanya yang menelponnya dari beberapa jam lalu.
"Oke, gue bantuin kali ini. Tapi janji, setelah ulang tahun Zean lo harus ceritain semuanya."
Kalivia mengangguk pasrah.
Malam ini adalah malam penentu masa depannya. Jika Kalivia berhasil maka esok pasti dia akan melihat dunia. Tetapi bila tidak, maka Kalivia hanya bisa berdoa. Semoga ada keajaiban.
"Lo tenang aja. Gue bakalan bantu. Lo siap-siap aja."
🌰🌰🌰
Malam berlalu begitu cepat. Kalivia berdiri gelisah. Saat ini mobil keluarganya sedang menuju di kediaman Ovinus. Jarinya terus memilin, menyalurkan kegelisahan yang menyerangnya sedari tadi.
"Pah, mendadak Kali demam. Kali gak usah pergi, ya." dustanya memasang wajah memelas yang mana mengundang kedua orangtuanya menaruh atensi padanya
"Demam? Perasaan beberapa jam lalu kamu masih happy happy. Bohong, Ih." ujar Zintya setelah meraba dahi Kalivia dan ternyata suhunya normal.
"Gugup gitu. Kayak Zean mau nelen kamu aja." seloroh Rei yang tanpa sadar perkataannya tepat sasaran.
Menarik napas panjang, Kalivia hembuskan lewat mulut. Saat ini kedua orang tuanya tak bisa diajak kompromi. Tentu mereka berada dipihak Zean, bukan dirinya.
Dan jantungnya semakin bertalu-talu setelah mobil keluarganya berhenti. Menandakan perjalanan mereka sudah tiba ditempat tujuan.
"Jangan lupa kadonya." Zintya memperingati sebelum keluar dari mobil. Menatap bangunan di depannya gamang, Kalivia menghela napas.
Pokoknya malam ini Kalivia harus sebisa mungkin mengurangi berinteraksi bersama Zean.
Baru saja menjejalkan langkahnya, suara riuh tamu sudah menyambutnya. Kediaman luas milik keluarga Ovinus kini telah disulap menjadi pesta ulang tahun Zean.
Semuanya tertata dengan rapi dan indah. Kalivia diam-diam berdecak lidah, bukan hanya itu. Seluruh teman-teman sekolahnya pun turut hadir termasuk Irena yang sekarang melambaikan tangan ke arahnya.
Dengan riang Kalivia mendekati Irena lalu tiba di hadapan gadis itu Kalivia membisikkan sesuatu. "Gimana? Aman kan?"
"Sipp, doi udah nunggu di gazebo. Baju biru dongker." Irena memberi spill pada siapa Kalivia malam ini akan menentukan masa depan gadis itu.
Bergegas Kalivia melangkahkan kakinya ke arah yang Irena maksud. Tiba di sana matanya berpenjar. Di antara banyaknya tamu, hanya satu orang pria yang memakai baju biru dongker.
"Hai." sapanya yakin bahwa dialah pria yang Irena maksud.
Pria itu menoleh kemudian tatapannya memindai Kalivia. "Gue kira lo cupu." ungkapnya seraya membedakan foto Kalivia yang Irena kasih dan sekarang.
"Ya untuk malam ini gue khusus-in ulang tahun Zean. Besok juga balik ke setelan awal." paparnya tersenyum malu lantaran baru menyadari ketampanan pria yang belum Kalivia tau namanya.
Entah di mana Irena menemukan pria seganteng ini.
"Kenalin, gue Enza. Irena udah banyak cerita terus mengenai rencana kita gue serahin sepenuhnya ke lo. Asal bayaran lancar." tukasnya mengulurkan tangan yang segera disambut Kalivia.
Kepalanya mengangguk kemudian mengamati sekitar. "Sebelum ulang tahunnya mulai, kita akan berlagak sebagai sepasang kekasih hanya di hadapan Zean. Buat dia percaya bahwa kita benar-benar sepasang kekasih atau istilahnya lo jadi selingkuhan gue."
Kalivia mulai membeberkan segala rencananya yang Enza dengar secara baik.
"Paham kan?"
"Oke."
Kalivia menghela napas lega. Apapun. Apapun akan ia lakukan demi memutuskan pertunangan ini dengan mengesampingkan perasaannya kepada Zean. Akan ia buat Zean memutuskan sendiri pertunangan mereka.
Segala resiko sudah ia pertimbangkan. Tetapi alangkah lebih baiknya Kalivia segera menghindari sebelum terjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Maaf, pa. Maaf, ma. Batin Kalivia dengan sorot sendu. Ia tau keputusannya ini akan berdampak besar pada orangtuanya. Namun Kalivia juga melakukan ini demi mereka.
Zean bisa saja melakukan apapun termasuk menyingkirkan keluarganya bagai kedipan mata. Dan demi mencegah itu, Kalivia akan memutuskan rantai penghubung sebelum benar-benar menjalar ke segela arah.
🌰🌰🌰
BTD back!
Masih setia nungguin cerita satu ini?
Maaf ya kalo belakangan ini lama up. Sejujurnya aku lagi nyusun laporan. Doain aja moga cepat kelar.
Next cepat?
Maka beri dukungan penuh untuk cerita ini.
Sampai jumpa di part selanjutnya.
Sayang ReLuvi banyak2😘😘

KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Dream
FantasySPIN OFF BINAR REMBULAN~ "Yang gue denger nih ya, si doi lebih suka cewek anggun, kalem, dan yang paling penting harus pintar," "Trus?" Kalivia menatap sahabatnya itu tidak mengerti. "Nah, kalo mau pertunangan lo berakhir maka lo harus menjadi keba...