"Kalivia, tolong anter buku-buku di perpus." ujar sang guru Bahasa Indonesia. Kalivia yang sedang berjalan bersama Irena dibuat kikuk saat tumpukan buku itu diserahkan begitu saja padanya.
Untuk Irena dia sudah ngacir setelah memberikan ciuman perpisahan lalu kabur meninggalkan Kalivia yang misuh-misuh ditempat.
Dengan perasaan setengah ikhlas, Kalivia berjalan menuju perpustakaan yang kebetulan berada di ujung lab kimia.
Tiba di sana, Kalivia menatap gamang tangga penghubung lantai dua. Kenapa harus dilantai dua sih?
Gerutunya tanpa suara.
Fokus pada jalannya, akhirnya Kalivia tiba dilantai dua. Segera dia menuju rak yang berada di ujung dekat jendela. Setelah menyusun buku-buku secara rapi, sejenak Kalivia berdiri lalu menatap pemandangan melalui jendela perpustakaan.
Posisinya yang berada dilantai dua menjadikan Kalivia bisa melihat pemandangan kebun buah Batik Biru. Kebun itu dijaga ketat, lantaran buah-buahan di sana belum ada yang matang. Bahkan sering kali ada siswa yang mengambilnya termasuk Kalivia sendiri.
Maka dari itu disediakan penjaga yang pos penjaganya dapat Kalivia lihat meski hanya atapnya saja.
Menopang dagu di pinggir jendela, Kalivia lagi-lagi memikirkan pernikahan yang bahkan sampai detik ini masih membelenggunya.
Kalivia menghembuskan napas pendek lalu menegaknya tubuhnya. Baru saja mau berbalik meninggalkan perpustakaan, sebuah objek menarik perhatiannta.
Netra birunya menyipit guna memperjelas siapa kira-kira dua sosok itu yang berada di tengah-tengah ladang.
"Zean." gumamnya setelah melihat postur tubuh yang Kalivia hafal di luar kepala.
Dia terus mengamati interaksi Zean bersama seorang gadis yang sayangnya tidak Kalivia ketahui namanya. Sepertinya mereka sedang terlibat obrolan serius, itu dilihat bagaimana gadis itu seperti berteriak sambil menunjuk-nunjuk Zean.
"Sepertinya dia gadis kesekian yang meminta pertanggungjawaban Zean." monolo Kalivia menggeleng prihatin.
Gadis itu lalu berbalik pergi namun belum ada beberapa langkah, lehernya dipukul sebuah sekop tanaman dengan keras.
Semua itu tak luput dari netra Kalivia bahkan sekarang seluruh tubuhnya bergetar. Tidak berhenti di sana, Zean juga mengambil sebuah kayu kecil lalu dengan sadisnya menusuk perut gadis itu secara berulang kali.
Kalivia menutup mulutnya, takut bercampur kaget tengah Kalivia rasakan. Kepalanya menggeleng dengan badan perlahan mundur. Seluruh darahnya seperti turun di bawah kakinya, Kalivia meremas tangannya dan segera pergi meninggalkan perpustakaan dengan nyawa yang nyaris melayang.
🌰🌰🌰
"Mama!"
Zintya yang sedang melipat pakaian, dibuat terkejut saat pintu rumah di dobrak begitu kasar oleh Kalivia.
"Kali! Kamu bolos?!" sentaknya menyadari ini bukanlah jam pulang sekolah. Namun anak bungsunya itu langsung berlari lalu menubruk tubuhnya.
Merasa ada yang tidak beres, Zintya menaruh pakaiannya lalu menepuk-nepuk punggung Kalivia yang mana saat ini tengah menangis hebat.
"Kali, ada apa? Ada yang ganggu kamu di sekolah?" tanyanya yang dibalas gelengan oleh Zintya. Di sela pelukan itu, sosok Rei yang muncul dari luar lengkap dengan pakaian kantornya, dia harus kembali ke rumah sebab melupakan berkasnya. Rei dibuat menyerngit mendapati istri dan anak bungsunya saling berpelukan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Dream
FantasySPIN OFF BINAR REMBULAN~ "Yang gue denger nih ya, si doi lebih suka cewek anggun, kalem, dan yang paling penting harus pintar," "Trus?" Kalivia menatap sahabatnya itu tidak mengerti. "Nah, kalo mau pertunangan lo berakhir maka lo harus menjadi keba...