Kalivia mengerang frustasi lalu menandaskan satu gelas kecil alkohol yang mana Kalivia kira hanyalah air putih.
Usai pengumuman sepihak yang Zean berikan, Kalivia harus menerima di berondong pertanyaan dari orang tuanya.
"Kali juga gak tau."
Hanya kalimat itu yang Kalivia berikan sebagai jawaban.
Jiwa serta raganya teramat lelah. Bukannya menjauh, dirinya malah makin terikat oleh Zean. Sepertinya pulang dari sini Kalivia harus berdiskusi serius dengan orang tuanya.
Di sela menenangkan perasaannya, ponsel dalam tasnya bergetar. Kalivia membukanya dengan mata yang sedikit menyipit. Sepertinya kepalanya mulai pusing.
Ternyata pesan dari Irena. Huh! Setelah rencana gagal, sahabatnya justru menghilang. Dan sekarang dia minta bertemu di paviliun belakang untuk membahas masalah tadi.
Menaruh kembali ponselnya dalam tas, Kalivia bangkit.
Jalannya sedikit sempoyongan tetapi Kalivia masih sepenuhnya sadar. Tak membutuhkan waktu lama, Kalivia tiba di paviliun. Kepalanya maju guna mendengar sesuatu dari dalam, tetapi tak ada sama sekali suara apapun.
Membuka pintu perlahan, Kalivia melongokan kepala. Gelap adalah hal pertama yang menyambut Kalivia. Samar dia bisa melihat siluet yang berdiri tak jauh dari jendela.
Akibat rabun jauhnya, Kalivia musti menyipitkan mata meski apa yang dia lakukan tidak berguna.
"Irena, kok gelap sih? Saklar lampunya mana? Gue susah liat." keluhnya berjalan hati-hati takut kakinya yang terbalut high hels yang tidak tinggi tersandung sesuatu.
"Rencana kita gatot. Suerr, gue kesel tapi gak berani marah ama Zean. Lo tau gak, ini malam paling sial buat gue. Hish, kenapa coba dia musti bilang nikah segala. Ya iya sih gue emang masih cinta ama dia, tapi membina rumah tangga sama seseorang yang mengancam nyawa juga ogah. Mending gue kabur." racaunya memilih duduk dilantai setelah di rasa kepalanya mulai bertambah pening.
"Oh iya, kenapa gak kabur aja, ya? Nanti gue kong kali kong ama ortu. Lo bantu gue, ya? Gue serius mau jauh, sejauh-jauuuuhnyaa dari Zean. Hih, ngeri idup gue kalo beneran kawin ama dia." Kalivia bergidik lalu lampu di ruangan itu menyala setelah seseorang menepuk tangannya.
Kalivia sempat dibuat terkagum-kagum, lebih tepatnya pada paviliun yang Kalivia masuki. Emm, tunggu.
Meski kepalanya pusing, Kalivia tau bahwa dia tidak berada di paviliun, melainkan sebuah ruangan berwarna krem. Ada bar serta satu meja biliar.
Sepertinya Kalivia salah memasuki ruangan!
Tanpa diperintah dua kali, Kalivia bergegas berdiri tetapi sialnya tubuhnya malah nyaris roboh bila tak ada yang menahan.
"Makasih, hik." cegukan Kalivia bersamaan netranya memindai sosok yang masih memeluk pinggangnya itu. Detik berikutnya, Kalivia dibuat membelalak sadar bahwa dia sedang berhadapan dengan segala sumber masalahnya alias Zean.
Mampus!
"Z-Zean," Kalivia ingin menolak apa yang matanya lihat. Maka dari itu ia memegang pipi Zean lalu menariknya.
"Eh, beneran Zean ternyata. Hehehe." cengirnya dengan kedua mata mengerjap-ngerjap. Sepertinya kesadarannya mulai diambil oleh alkohol.
"Mmm, tadi aku ngomong kamu denger ya? Maaf Zean, tapi aku gak bohong. Aku mau kabur, atau gak menghilang tanpa jejak. Kek di novel-novel gitu." racaunya menusuk-nusuk dada Zean. Kalivia tertawa kecil saat Zean menggendong tubuhnya.
Kedua tangannya melingkar di leher pria itu lalu mulai mengendus layaknya seekor anjing.
"Zean wangi. Parfum aku aja gak seharum ini. Kapan-kapan Zean bagi, ya." pintanya membuat lelaki itu memandangnya.
"Bisa. Sekarang pun kita bisa berbagi aroma tubuh."
"Beneran?! Mau! Mau!" Pekik Kalivia bersamaan tubuhnya ditaruh di atas ranjang tanpa menyadari bahaya sedang mengintainya.
"Tapi, setelah itu lo isi." bisiknya serak mengamati wajah merah Kalivia yang Zean tebak sedang mabuk.
"Isi? Apanya?" tanyanya menunjukkan tampang lugu. Kepalanya menunduk saat tangan Zean menepuk-nepuk perutnya menjadikan Kalivia tertawa kecil.
"Bayi." jawab Zean menjauhkan tangannya lalu mulai membuka kancing kemejanya.
"Bayi? Tapi aku gak hamil."
Zean tersenyum skeptis. "Iya. Nanti lo hamil."
"Aku mau hamil. Tapi gak mau hamil anak Zean. Nanti anak aku dibunuh."
Katanya bicaranya orang mabuk itu tergolong jujur. Zean bahkan harus memijit pelipisnya namun tak urung kekehan geli keluar dari bibirnya.
"Tergantung, Sayang. Sikap lo menentukan semuanya." ujar Zean mendorong pelan tubuh Kalivia agar berbaring.
"Ihh, Zean udah mirip kak Gala. Tiap ada kesempatan pasti dia grepe-grepe aku. Aku benci kak Gala, tapi gak berani lapor papa mama." ungkapan itu sukses menghentikan Zean dari tangannya yang sibuk dengan dress Kalivia.
"Galaxy?"
Kalivia mengangguk dengam bibir mengerucut. "Pokoknya kak Gala itu monster. Aku kan jadi takut."
Mulut Zean bungkam, diantara celotehan Kalivia malam ini, haruskah perkataan terakhirnya Zean percayai?
"Sejak kapan Gala nyentuh lo?" tanya Zean mulai beranjak menjauh dari tubuh Kalivia.
"Emm, gak ingat. Eh mungkin waktu SMP. eh SMA, gak tau ah. Aku gak ingat." katanya dengan wajah keruh.
Zean bersedekap ia memilih bungkam dan membiarkan Kalivia meracau sembarangan.
"Gerah." Kalivia mengibaskan tangan di depan wajah, tubuhnya bergerak gelisah. Tanpa memikirkan apapun, Kalivia membuka bajunya semua tak luput dari netra hitam yang sedari tadi mengamatinya dalam diam.
"Zean, katanya mau bagi parfum. Mana?" Kalivia menengadahkan tangan, sedangkan lelaki itu nampak mengatur napasnya.
"Lo beneran mau?" tanyanya dan Kalivia mengangguk pasti.
"Gak bakal nyesel?"
Sekali lagi Kalivia mengangguk. Zean diam-diam menahan senyum, kembali tubuhnya mendekati Kalivia. Menatap rumit wanita itu sebelum mengeluarkan bisikan.
"Janji gak nyesel, ya. Soalnya setelah malam ini, lo kagak bisa lepas lagi."
Kalivia mengerjap, dia hanya menatap Zean yang tersenyum lebar di depan wajahnya. Ikut tersenyum Kalivia sekali lagi meraba-raba wajah itu seraya cekikikan.
Sepertinya sudah benar-benar teler.
"Okok. Terpenting Zean udah janji."
🌰🌰🌰
Mabuknya Kalivia membawa bencana atau berkah nih?
Zean masih sama brengseknya, ya. Gak di lapak sebelah gak di sini.
Btw ada gak pendukung kapal ini?
Pengen liat Zean versi bucin gak?
Next cepat?
Jangan lupa beri dukungan cerita ini
Sampai jumpa di part selanjutnya.
Sayang ReLuvi banyak2😘😘

KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Dream
FantasíaSPIN OFF BINAR REMBULAN~ "Yang gue denger nih ya, si doi lebih suka cewek anggun, kalem, dan yang paling penting harus pintar," "Trus?" Kalivia menatap sahabatnya itu tidak mengerti. "Nah, kalo mau pertunangan lo berakhir maka lo harus menjadi keba...