Kalimat Ernest masih membayangi Zean hingga detik ini. Sejak beberapa hari juga, dia kurang fokus.
"Tuan..."
Panggilan dari asistennya menyadarkan Zean. Pria itu mengangkat alisnya sebagai respon.
"Istri Anda sudah siuman."
Segera setelah itu Zean bangkit kemudian berjalan keluar dari kantornya. Bahkan Zean tak peduli ada jadwal bertemu kolega sehabis makan siang nanti.
Terhitung Kalivia sudah tidur selama 5 hari. Dan di hari ketiga, Zean memutuskan mengambil langkah besar yakni menikahi wanita itu yang masih asik tertidur.
Sedeng memang, tapi Zean menyukainya.
Mengendarai kendaraan secara ugal-ugalan, akhirnya Zean tiba di kediamannya tepat si menit 10. Tergolong cepat karena biasanya memakan waktu hingga setengah jam.
Langkah kakinya begitu lebar masuk ke dalan rumahnya, menaiki tangga hingga Zean tiba di kamar tempat Kalivia dirawat. Tanpa sabaran dia membuka pintu secara kasar, akibat tindakannya itu, orang-orang yang berada di sana terkejut.
"Dia sudah lumayan baik. Perbanyak istirahat dan jangan stres, itu bisa memulihkan kondisinya stabil lebih cepat." ujar dokter pribadi usai menghampiri Zean.
Zean mengangguk singkat kemudian memberi kode agar mereka keluar.
Berlalunya orang-orang, Zean mendekati ranjang tempat di mana Kalivia sekarang juga menatapnya dengan sedikit sorot takut.
Mengambil tempat di sisinya, Zean meringsut mendekat kemudian mengelus perut rata Kalivia.
"Aku cukup bosan menunggu, beruntung kamu cepat bangun." celetuknya yang memang tidak memiliki niat apapun, namun Kalivia sudah lebih mengambil kesimpulan duluan.
Pikirannya selalu mengatakan bahwa Zean akan menggugurkan anaknya.
Meski Zean tau apa yang dipikirkan wanita itu, namun tetap dia tak ingin ambil pusing. Sebaliknya Zean merengkuh hangat tubuh Kalivia.
"Aku tak sabar melihatnya lahir. Kira-kira dia mirip siapa, ya? Tapi aku harap dia mirip diriku, biar aku memiliki kembaran," katanya lagi sambil membayangkan sosok bayi yang bahkan belum berbentuk sempurna tersebut.
"Emm, sepertinya aku harus mulai memikirkan namanya. Laki-laki atau perempuan? Lebih cocok siapa, ya?" tanyanya yang tak mendapat tanggapan. Meski begitu, Zea tetap bercerita.
"Oh ya, kemarin mendadak aku pengen sayur pare. Padahal sebelumnya aku benci sayur itu, tapi sekarang aku malah berbalik menyukainya. Apakah itu berarti aku ngidam? Kalau aku ngidam, berarti kamu gak ngidam lagi dong?"
Kali ini Kalivia memberi reaksi dengan mengangkat sedikit kepalanya dan menatap Zean dari bawah.
Jujur saja, dia bingung akan celotehan lelaki itu. Bahkan Kalivia ingin sekali mengorek telinganya, barangkali Kalivia salah dengar.
"Kata sekolah kita libur semingguan, habis itu masuk. Jujur, aku gak percaya kamu bisa nembus 15 besar. Hebat banget kamu, gitu aja aku udah seneng banget. Gak papa nggak masuk sepuluh besar, masuk 15 besar aja udah wow banget. Aku bangga. Tapi, lain kali jangan maksain diri kamu, ya. Kalau lelah, istirahat aja. Ranking bukan patokan seseorang itu sukses, tapi skill. Dan kamu jago mainin alat musik. Itu lebih keren lagi." ungkapnya dengan nada menggebu.
Kalivia melongo sesaat, benarkah Zean mengatakan demikian? Agaknya sulit dipercaya.
"Kamu, serius? Atau ini hanya trik, Zean?" pertanyaan Kalivia akhirnya membuat Zean menurunkan pandangannya ke arah Kalivia.

KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Dream
FantastikSPIN OFF BINAR REMBULAN~ "Yang gue denger nih ya, si doi lebih suka cewek anggun, kalem, dan yang paling penting harus pintar," "Trus?" Kalivia menatap sahabatnya itu tidak mengerti. "Nah, kalo mau pertunangan lo berakhir maka lo harus menjadi keba...