22. Lahir

239 8 0
                                    

Nyx Ivona dibawa ke rumah sakit dan setelah melalui sakit perut yang panjang, keesokan harinya wanita itu pun melahirkan normal. Jaden tidak ikut, hanya Riley dan wanita paruh baya yang biasa menemani Nyx Ivona yang mengantar. Lelaki tersebut tidak peduli dengan bayi itu. Dia hanya menginginkan Nyx Ivona. Jaden tidak mempunyai niat untuk merawat dan membesarkannya. Bayi tersebut tidak ada artinya.

"Bayinya sudah lahir, Uncle. Jenis kelaminnya laki-laki." Riley melaporkan melalui sambungan telepon.

"Segera buang bayi itu. Aku tidak mau dia menjadi pengganggu," perintahnya tak berperasaan.

Riley tercengang dengan ponsel yang masih setia di rungunya. "Di–dibuang? Ta-tapi dibuang ke mana, Uncle? Bagaimana kalau Nyx Ivona tahu nanti?"

"Siapa peduli? Anak itu bukan anakku. Tenggelamkan saja di tengah laut supaya tidak ada drama dari pihak keamanan setempat. Untuk Ivona, dia urusanku. Dia akan aku bawa pulang ke Italia."

Riley melamun di kursi tunggu. Dia tak tega membuang bayi kekasihnya tetapi, Riley pula tak berani menentang titah sang paman. Dia sudah menerka akan seperti ini. Pamannya tidak akan peduli pada bayi itu, karena yang dia inginkan hanya Nyx Ivona, tidak dengan yang lainnya. Riley mengacak-acak rambutnya. Dia pusing.

"Bangunlah. Dokter sudah memperbolehkanmu pulang. Hari ini kita ada penerbangan. Kita akan kembali ke wilayah kekuasaanku, Italia," jelas Jaden pada Nyx Ivona seraya memainkan telepon genggamnya.

"Apa? Ke Italia? Untuk apa? Untuk menjadi wanita peliharaanmu lagi? Aku tidak mau, Jaden!" Nyx Ivona mengusap gusar wajahnya. Dia sudah muak menjadi pemuas bi rahi lelaki itu. Kini Nyx Ivona sudah mempunyai anak dan dia ingin bebas supaya bisa merawat bayinya dengan baik.

"Kau tidak mempunyai kuasa untuk menolakku, Ivona. Hanya aku yang bisa menentukan kapan kau boleh bebas."

"Egois! Aku sudah tidak bisa lagi melayanimu, Jaden. Aku baru saja melahirkan dan membutuhkan waktu untuk penyembuhan. Carilah wanita lain. Lepaskan aku," sungut Nyx Ivona marah.

"Tentu saja bisa, Ivona. Saat ini juga kalau aku mau, kita bisa melakukannya di sini." Jaden menyeringai tak acuh. Dia yang duduk di sofa pun merenggangkan badannya.

"Kau sudah tidak waras!" Nyx Ivona menggeram sembari mengepalkan tangannya kuat menahan kesal. Dia tak kuat membayangkan bila saat ini pria itu kembali menja mahnya. Sakit pasca melahirkan saja masih dia rasakan. Bagaimana jadinya kalau pria itu menggau linya saat ini? Itu pasti akan terasa sangat menyakitkan. Tiba-tiba dada Nyx Ivona basah, ASI-nya keluar. "Mana bayiku? Tolong bilang ke suster untuk membawanya padaku. Dia harus minum ASI." Hari ini Nyx Ivona belum melihat bayinya, padahal biasanya jam segini perawat akan menyerahkan bayi itu padanya untuk diberi ASI. Namun sudah terlewat beberapa jam perawat itu masih belum juga menunjukan batang hidungnya.

"Tenang saja. Bayi si pengkhianat itu sudah aku buang. Dia tidak akan merepotkanmu lagi."

Nyx Ivona melengung–termangu tercenung karena terkejut. "A–apa?!" Dia terpelengak–tercengang amat terkaget. "Maksudmu apa, Jaden? Kau …." Dia syok. Napas Nyx Ivona mulai terasa sesak dan berat. Dia mencoba mengendalikan jiwanya yang terguncang. Nyx Ivona kehilangan kesadaran.

Jaden menghampiri Nyx Ivona yang terkulai. "Ivona? Sial dia pingsan!" Dia malah memikirkan jadwal keberangkatan pesawat. Jaden tidak mau penerbangannya ditunda. Apa dia bawa saja keadaan Nyx Ivona yang seperti ini? Tampaknya Jaden tidak mempunyai pilihan. 

Iblis Di Sampingku (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang