"Kau tidak pergi ke rumah sakit, hon?" Jennie melangkah ke arah Lisa dan duduk tepat di samping gadis jangkung itu.
Lisa menggeleng, kemudian menarik tubuh Jennie untuk duduk di pangkuannya. Kedua tangannya melingkar di perut Jennie.
"Wae?" Jennie mengusap pipi Lisa dengan lembut.
"Hanya tak ingin. Biarkan aku tetap di sini. Kemarin aku pergi juga bukan untuk memastikan keadaan daddy. Hanya ingin bertemu Canny karena dia pasti shock mendengar daddy kecelakaan" balas Lisa seraya menjatuhkan kepalanya di punggung Jennie.
Jennie cukup kaget mendengar ucapan Lisa. Kenapa kekasihnya bisa setenang itu saat mendengar kabar bahwa sang ayah mengalami kecelakaan? Bahkan, dia buru-buru datang ke rumah sakit bukan untuk ayahnya, melainkan menemui sang adik dan menjaganya. Setelah memastikan Chiquita tenang dan bisa ditinggal bersama pengawal yang lain, Lisa pun memutuskan untuk pulang. Bahkan tidak berniat kembali hingga sekarang.
"Kau memiliki masalah dengan daddy?" Jennie bertanya dengan hati-hati.
Lisa terdiam, kemudian menghembuskan nafasnya kasar. Ia kembali mendongakkan kepalanya dan menatap Jennie dengan intens.
"Bisakah kau berdiri sebentar, J?"
Jennie bingung dengan permintaan Lisa. Bukannya menjawab pertanyaannya, Lisa malah menyuruhnya untuk berdiri. Namun, Jennie tetap menurutinya dan bangkit dari pangkuan Lisa.
Setelah Jennie berdiri, Lisa pun ikut berdiri. Membuat Jennie sedikit mengernyit heran.
"Aku sebenarnya malas membahas tentang ini. Terlalu menyakitkan. Tapi, kau adalah kekasihku, kau berhak tau segalanya tentangku dan hanya aku yang berhak memberitahunya padamu. Kau tidak boleh mendengarnya dari orang lain" kata Lisa, semakin membuat Jennie merasa bingung.
"Apa mak-"
Belum sempat Jennie menyelesaikan kalimatnya, ia melihat Lisa yang tengah bersiap membuka bajunya. Tanpa mengatakan apapun, Lisa melepaskan hoodie yang ia kenakan dan melemparkannya ke sembarang arah.
"Kau pasti bertanya-tanya kan kenapa aku selalu memakai hoodie kemana pun aku pergi bahkan tidak pernah melepaskannya. Inilah jawabannya.
Jennie cukup shock dengan pemandangan di depannya. Ia sampai menutup mulut dengan kedua telapak tangannya sangking tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Jennie melangkah mendekati Lisa. Tangannya sedikit bergetar kala terulur untuk menyentuh bagian tubuh Lisa yang selama ini tidak pernah dilihatnya.
Sejak berpacaran, mereka memang belum pernah melakukan hal yang lebih jauh selain berciuman dengan panas. Keduanya belum pernah saling bertelanjang di depan satu sama lain. Untuk pertama kalinya, Jennie bisa melihat apa yang ada pada tubuh Lisa dan itu berhasil membuatnya kaget bukan main.
"Hon..."
Jennie masih menatap tidak percaya dengan apa yang ada di tubuh Lisa. Jari lentiknya bergerak untuk menyentuh salah satu bekas luka yang ada pada bagian perut Lisa. Bekas luka dengan motif bergaris miring seperti bekas sayatan sesuatu yang tajam. Jarinya kembali tergerak untuk menyentuh bagian kulit yang terlihat cekung di lengan atas Lisa. Jika tidak salah menebak, sepertinya itu adalah bekas luka bakar.
Hati Jennie semakin terasa sesak kala ia melihat banyaknya bekas luka sayatan di lengan Lisa. Bahkan, yang semakin membuatnya tersakiti adalah, masih ada luka yang terlihat baru di sana. Luka sayatan itu masih terlihat terbuka dan memerah.
"Hon ini-" Jennie menyentuh bagian luka di lengan Lisa yang masih basah.
"Aku yang melakukannya sendiri. Aku melukai diriku. Tapi alasanku melakukannya karena daddy. Sedangkan luka ini-" Lisa menunjuk bekas luka di perutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Healer [END]
Fanfiction"Kehadiranmu, salah satu bukti bahwa obat tidak selalu berbentuk pil" G!P 🔞
![Healer [END]](https://img.wattpad.com/cover/335615513-64-k59006.jpg)