Raisa sudah sampai di rumah. Setelah berpisah dengan Marka yang masih ingin berlari, gadis itu berkata kalau dia harus pulang. Dia memasuki rumah dengan tangan kosong. Tentu saja Raisa tidak membeli pesanan sang kakak karena memang penjual ketoprak itu sedang tidak berjualan.
"Eh-eh, lo mau ke mana?" tanya Arya saat melihat Raisa yang berniat langsung ke kamarnya.
"Ke kamar."
"Pesenan gue mana?" tanya laki-laki itu lagi.
"Nggak ada. Abangnya nggak jualan," balas Raisa seraya melangkah pergi. Dia tidak akan merespons lagi jika sang kakak masih ingin bicara dengannya karena tidak terima.
"Rai, kamu belom sarapan, 'kan? Ayo makan bareng Bunda," kata Sira, melihat kedatangan putrinya.
"Bunda belom sarapan?" balas Raisa.
"Bunda nungguin kamu. Tadi pas Bunda samperin ke kamar, kamunya malah nggak ada. Baru inget kalau kamu biasa lari pagi juga, jadi Bunda tungguin, deh," kata Sira sambil tersenyum.
"Tapi, ayah?" tanya Raisa ragu.
"Dia udah berangkat beberapa menit lalu sekalian nganter Aghi. Jadi gak pa-pa, Sayang," balas Sira sembari mengusap pundak anak perempuannya.
Raisa akhirnya mengangguk. Walaupun dia sudah sarapan di luar, tapi dia ingin mengambil kesempatan untuk bisa makan bersama dengan sang ibu. Tidak apalah dia hanya makan sedikit.
Saat sudah duduk di kursi di ruang makan, Raisa hanya mengambil sedikit nasi dan lauk. Hal itu membuat Sira bingung. "Kenapa dikit banget, Rai? Kamu harus makan yang banyak," jawab wanita itu, berniat menambah porsi di piring putrinya.
Namun, Raisa dengan cepat menahan tangan Sira. "B-Bun, udah, gak pa-pa. Ini udah lebih dari cukup," kata gadis itu, "sebenernya aku udah sarapan pas tadi di taman, tapi sekarang mau makan lagi karena makannya bareng sama Bunda."
Sira tersenyum setelah mendengarnya. Kemudian keduanya makan bersama di meja itu. Semuanya berjalan lancar sampai seseorang datang dan membuatnya kacau. Laki-laki itu berniat untuk mengambil minum di kulkas, tapi tidak bisa tidak berhenti saat melihat kedua perempuan yang masih berada di meja makan.
"Wah, enak, ya? Gue pesenin buat beli makanan, tapi nggak lo beliin. Sekarang lo malah enak-enakan makan," kata Arya sambil melihat Raisa.
Namun, Raisa mengabaikan perkataan laki-laki itu. Dia melanjutkan makannya yang memang hanya sedikit tanpa berniat melihat ke tempat sang kakak berdiri. Arya lalu beralih melihat sang ibu.
"Jadi ini alesan Mama nggak ikut makan, tadi? Mama maunya makan sama anak kesayangan Mama?" tanya Arya.
"A-Ar, kenapa kamu ngomongnya gitu?" tanya Sira.
"Memang benar, 'kan? Mama lebih sayang sama dia."
Raisa sudah tidak tahan lagi. Gadis itu pun berdiri dan melihat Arya. "Lo bisa nggak, nggak usah ngebesarin masalah kecil?" tanya Raisa.
"Apa lo bilang ...?" tanya Arya.
Sekarang keduanya sedang saling memandang dengan tajam. Raisa melangkah makin dekat dengan Arya agar keduanya benar-benar berdiri berhadapan. Namun, hal itu tidak membuat Arya gentar.
"Lo cuma mau mancing emosi gue. Biar kesannya selalu gue yang salah. Iya, 'kan?" balas Raisa, tapi tidak langsung dijawab oleh Arya.
"Kita bakal lanjutin ini," balas Arya seraya pergi dari hadapan Raisa.
Raisa hanya bisa memutar bola matanya malas. "Bun, aku mau siap-siap pergi ke kampus, ya," ucapnya, juga melangkah pergi dari ruangan itu.
^^^
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Raisa untuk Cinta
ChickLitDari Raisa untuk Cinta Cinta, apakah aku pernah merasakah kehadiranmu? Aku hampir lupa bagaimana wujud dan perasaan saat kamu ada. Jika cinta tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaanku. Kuharap nantinya akan hadir seseorang di hidupku yang bisa me...
