Marka sekarang sudah mengenakan atasan tanpa lengan dan celana pendek. Dia baru selesai mandi karena rambutnya masih setengah kering. Ketika tangannya baru berniat mengambil handuk untuk mengeringkan rambut, perhatian Marka teralihkan.
Ponselnya berbunyi.
"Siapa, sih—RAISA?!"
Mata Marka membulat ketika melihat pemilik nama penelepon yang muncul di layar ponselnya. Buru-buru Marka menerima panggilan telepon itu sebelum mati. "H-halo, Rai. Ada apa?"
"...."
Tidak terdengar jawaban. Marka mengerutkan kening karena bingung. Laki-laki itu melihat ponselnya sambil berpikir. Ini Raisa beneran yang nelepon gue, 'kan? Apa jangan-jangan ... kepencet doang?
"Rai?"
"...."
"Duh. Gue udah seneng banget padahal pas tahu ditelepon sama lo," katanya, "tapi kalau gue doang yang ngomogn, nggak en—"
"Gue mau ngasih lo kesempatan."
Raisa lebih dulu memotong ucapan Marka dan berhasil membuat laki-laki itu merasa terkejut. Pada awalnya Marka tidak terlalu memahami maksud perkataan Raisa, tapi setelahnya dia tersadar.
"K-kesempatan?? Lo serius mau ngasih gue kesempatan, Rai?!" tanya Marka, "berarti sekarang kita pacaran. Iya, 'kan??"
"Gimana bisa langsung pacaran, hah? Lo jangan aneh-aneh. Kesempatan yang gue kasih—maksudnya lo kasih bukti biar gue nggak perlu lagi ngeraguin perasaan lo. Ngerti?" jelas Raisa, membuat Marka salah tingkah.
"A-ah ... dikiranya langsung pacaran aja, kita."
"Nggak ada kesempatan kedua."
"E-eh, siap-siap, Rai," kata Marka, "jadi ... gue harus mulai dari mana?"
"Ya nggak tahu."
Marka menggaruk tengkuknya. Gue harus mulai dari mana, ya? Bingung juga, deh. Giliran si Raisa udah ngasih respons, lo malah nge-blank gini, sih? Marka masih menggaruk tengkuknya karena bingung.
"Jadi gimana?" tanya Raisa.
Marka menarik dan mengembuskan napas pelan. "Lo lagi kepengen makan apa? Gue beliin plus anterin ke rumah lo," ucap laki-laki itu.
"Basi."
"Yah, Rai ... hargai dululah usaha gue," kata Marka, "yang baru pertama kali PDKT bukan cuma lo doang."
^^^
Raisa tersenyum geli, tapi setelahnya menyadari sesuatu. Si Marka nggak salah ngomong? Dia baru pertama kali PDKT—dan orangnya itu gue? Raisa terdiam cukup lama dan baru berhasil disadarkan oleh suara Marka.
"Yah. Gue ditinggal. Belom apa-apa udah dicuekin."
"Ini bukan pertama kalinya gue nyuekin lo," kata Raisa, membuat Marka tidak bisa menahan tawanya dari seberang telepon.
"Ya makanya, berubah. Ya kali lo masih nyuekin gue setelah bilang mau ngasih gue kesempatan," balas Marka, "situasi kali ini mengharuskan kita saling kerjasama, tahu."
"Apa, sih? Kan yang punya perasaan, elo. Bukan gue."
"Nantinya lo juga bakalan punya perasaan ini, Raisa. Ayo, belajar menghargai keberadaan gue di hidup lo," kata Marka yang dibalas embusan napas berat oleh Raisa.
"Iyain aja biar cepet."
"E-eh, serius? Wah! Gue jadi makin semangat, nih."
"Ck. Apa, sih? Lebay."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Raisa untuk Cinta
ChickLitDari Raisa untuk Cinta Cinta, apakah aku pernah merasakah kehadiranmu? Aku hampir lupa bagaimana wujud dan perasaan saat kamu ada. Jika cinta tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaanku. Kuharap nantinya akan hadir seseorang di hidupku yang bisa me...
