Raisa sangat bingung. Saat dia menaiki bus, saat dia turun di tempat tujuannya, dan saat dia sudah berdiri di depan gerbang rumahnya. Gadis itu masih merasa bingung dengan perasaannya.
Namun, suara klakson mobil berhasil menyadarkan Raisa. Saat melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam di depan gerbang, gadis itu segera menyingkir agar mobil itu bisa masuk.
Raisa berjalan pelan dengan maksud ingin menunggu si pengemudi keluar, tapi saat pengemudi itu sudah turun dari mobil, dia sama sekali tidak menoleh dan melihat Raisa. Pria itu langsung melangkah memasuki rumah.
Gue seharusnya udah biasa diabaikan seperti ini, tapi tetep aja ... rasa sakitnya juga terus gue rasain, kata Raisa dalam hati diakhiri helaan napas berat.
Pria dengan setelan pakaian rapi itu adalah Ares, suami Sira sekaligus ayah dari Raisa. Seharusnya begitu, tapi perannya tidak pernah dirasakan Raisa. Tidak ada satu kenangan tentang perlakuan layaknya seorang ayah kepada putrinya yang bisa Raisa ingat. Karena memang tidak ada.
Raisa berjalan memasuki rumah dan langsung merasakan perbedaan suasana di sana. Pada pagi hari tadi dan malam hari ini. Ketika semua penghuni rumah bisa saling bertemu dan bicara, tapi tanpa Raisa. Seakan-akan gadis itu tidak ada.
"Halo, Pa," ucap seorang laki-laki yang tadinya sedang menempati sofa di ruang keluarga. Laki-laki itu mendapat kecupan di puncak kepalanya dari Ares.
"Kamu udah makan, Ghi?" tanya Ares.
"Belom. Nunggu Papa pulang," jawab laki-laki itu. Namanya Arighi, tapi biasa dipanggil Aghi. Dia adalah anak terakhir dari Ares dan Sira.
"Abang kamu belom pulang, ya? Kamu tahu dia ke mana?" tanya Ares lagi.
Namun, Aghi justru membalasnya dengan gelengan kepala tanda tidak tahu. Hal itu membuat Ares mengangguk paham dan meninggalkan Aghi menuju ke kamarnya. Saat Ares sudah pergi, barulah Raisa melanjutkan langkahnya.
Aghi tidak sengaja melihat Raisa sebelum kembali melanjutkan kegiatannya menonton televisi. Namun, laki-laki itu hanya membiarkan sang kakak terus melangkah menuju dapur tanpa ada niatan mengajaknya bicara.
Raisa kembali mengembuskan napas berat. Gadis itu mengeluarkan air mineral dingin dari kulkas dan menuangkannya ke gelas. Tidak berselang lama, dia melihat Sira keluar dari kamar.
"Kamu udah pulang, Rai," kata Sira seraya menghampiri gadis itu.
Raisa menaruh gelasnya dan menyalami tangan Sira. "Kalau udah mau makan, duluan aja gak pa-pa, Bun. Raisa mau mandi dan ... ada sesuatu yang harus dikerjain," kata gadis itu, sedangkan Sira hanya bisa tersenyum seraya mengangguk pelan.
Wanita itu merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa-apa. Raisa terlihat selalu kuat dan dirinya tidak ada di balik kekuatan itu. Sira tidak akan ada apa-apanya saat sang suami sudah memberi perintah.
Sira mengusap rambut Raisa sebelum putrinya pergi. "I love you, Sayang."
"I know."
^^^
Di sebuah warung kopi yang hanya didatangi tiga orang, salah seorang laki-laki yang saat ini menempati meja di dekat pintu utama tampak senang. Sebenarnya belum jelas alasan laki-laki itu merasa senang, tapi tebakan dari penjual kopi di sana berhasil membuatnya mengacungkan ibu jari.
"Keren. Memang jelas banget, ya, kalau gue senengnya karena cewek??" tanya Marka, kemudian kembali meminum es kopi miliknya.
"Ya jelas, Mar. Kalau bukan cewek, lo mikirin cowok, gitu?"
Marka tertawa mendengarnya. "Gila. Ya enggaklah!" balasnya.
Penjual kopi itu biasa dipanggil Mas Igan. Marka adalah pelanggan tetap yang memang sering sekali menjadikan Warung Kopi Mas Igan sebagai tempat pelariannya. Di sana, Marka merasa memiliki orang-orang yang bisa diajak bicara tentang isi hati dan kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Raisa untuk Cinta
Chick-LitDari Raisa untuk Cinta Cinta, apakah aku pernah merasakah kehadiranmu? Aku hampir lupa bagaimana wujud dan perasaan saat kamu ada. Jika cinta tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaanku. Kuharap nantinya akan hadir seseorang di hidupku yang bisa me...
