CINTA 28: Rasa Bingung

3 0 0
                                        

"RAISAAA! SELAMAT, YAAA!"

"—astaga, Kay ... kaget, gue," ucap Raisa yang sempat menjauhkan ponselnya dari telinga karena merasa terkejut.

"Eh? Sorry-sorry. Abisan gue seneng banget pas tahu kalau tim lo tadi menang! Aaah, gue nyesel nggak bisa bela-belain buat nonton. Sorry, yaaa," ucap Kayla.

Raisa terkekeh pelan. "Ya ampun, Kay. Santai aja, kali. Lo juga ada acara, 'kan? Pertandingan ini nggak sebanding," jawab gadis itu.

"E-eeh, siapa bilang? Pertandingan lo pasti lebih seru daripada acara yang tadi gue datengin! Orang gue cuma diem doang dengerin keluarga gue ngobrol soal masa depan—nggak tahu juga masa depan siapa," balas Kayla, membuat Raisa tiba-tiba penasaran.

"Lo mau dijodohin, Kay?"

Ucapan asal Raisa sebenarnya memang hanya asal ucap saja, tapi siapa sangka kalau Kayla justru memberi respons yang berhasil mengejutkan Raisa. Ucapan asal itu ternyata suatu kebenaran.

"KOK LO BISA TAHU, RAI?!"

"E-eh? Bener?" Raisa masih terkejut.

"Ganti ke mode vidcall, please. Lo harus liat muka kusut gue," pinta Kayla.

Sesuai permintaan Kayla, Raisa langsung mengubah mode panggilan menjadi video call. Sekarang Raisa bisa melihat dnegan jelas raut wajah kusut temannya. Bukan tanpa alasan, Raisa juga sudah tahu penyebab temannya terlihat sangat pusing.

"—iya juga, ya. Si Vino gimana, tuh? Lo sama dia kan lagi PDKT—"

"Nah itu dia yang bikin gue makin pusing, Rai ... gue belom komunikasi lagi sama dia hari ini," potong Kayla, "gue yang ngehindarin dia, sih."

"Eh? Gimana-gimana? Lo kan sekarang lagi teleponan sama gue," tanya Raisa.

"Ya itu ... gue sengaja telepon lo lama-lama karena tahu kalau si Vino bakalan nelepon gue misalkan gue senggang sebentar aja—jadi jangan dimatiin dulu, ya," balas Kayla diikuti senyum

"Ng—iya, deh ... tapi gue bingung mau ngebahas apa lagi—"

"AH, IYA!"

Seruan Kayla kembali mengejutkan Raisa. Gadis itu sampai mengusap dada dan langsung melihat temannya dengan sorot mata tajam. "Jangan suka ngagetin guelah, Kay ... minimal kasih aba-aba," pinta Raisa.

Kayla tertawa geli. "Maksudnya gimana? Harus ngasih aba-aba segala—lonya nggak kaget, dong," ucap gadis itu.

Raisa mendengkus sebal. "Jadi ... maksudnya kenapa lo ngomong 'ah, iya' itu? Kayak ada sesuatu yang baru lo inget," tanyanya penasaran.

"Iya. Gue bete sama lo! Bisa-bisanya lo nggak cerita kalau udah nge-date sama si Marka. Mana lucu banget, lagi, beli jersey couple-an," kata Kayla yang walaupun awalnya terlihat sebal, tapi setelahnya tampak memberi senyum meledek.

Raisa terkejut. Gadis itu terkejut karena Kayla tahu. Karena dia memang belum menceritakan kejadian itu kepada siapa-siapa. Dia justru ingin merahasiakannya.

^^^

"—Mar ... kenapa malah ke mall, sih? Kita mau ngapain?" tanya Raisa ketika motor yang dikendarai Marka baru saja memasuki area parkir dari salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota.

"Mau seneng-seneng. Ayo, Rai," ajak Marka setelah selesai memarkir motor.

Raisa turun dari jok motor Marka sembari melepaskan helm. Gadis itu hanya bisa menurut ketika Marka tersenyum dan mulai mendorong tubuhnya untuk berjalan memasuki gedung besar di depan mereka.

Saat sudah berada di dalam, Raisa tidak heran lagi dengan banyaknya orang yang ada di sana. Gadis itu mengembuskan napas berat sembari melihat Marka yang justru tampak tersenyum.

"Seneng? Senengnya buat lo aja, kali," kata Raisa, membalikkan tubuhnya.

Namun, Marka dengan cepat menahan pundak Raisa. "E-eits—mau ke mana, sih?? Baru juga masuk, mana tahu bisa bikin seneng atau enggak?" ucap laki-laki itu.

"Ya ampun, Mar ... gue baru selese tanding, lho ... cape," kata Raisa.

"Yakin? Kalau gue ajak lo main basket di games zone. Masih bilang cape juga? Yakin, nih?" tanya Marka, membuat Raisa kembali mengembuskan napas berat.

Raisa melihat kedua tangannya. Sebenernya tangan gue juga udah nggak kram-kram banget, sih, tapi ya masa gue turutin aja usul dari si Marka? Ayolah, Rai, kata gadis itu dalam hati.

"Lama banget mikirnya, Bu?" kata Marka sambil menyenggol lengan Raisa.

Raisa berdecak sebal. "Iya, deh. Si paling ambis pengen lebih jago daripada gue," balas gadis itu, membuat Marka tertawa.

"Wah ... nggak kebalik, tuh? Yang lebih dulu gabung ke skuat—"

"Nggak usah bawa-bawa skuat utama, deh!" omel Raisa sambil melihat Marka dengan raut wajah kesal, sedangkan Marka malah kembali tertawa.

Marka menahan tangan Raisa sebelum gadis itu kembali melangkah. "Tapi ... nggak cuma main aja, ya. Pokoknya harus ada hadiah buat yang menang," ucapnya.

"Ah—biasanya juga gitu, 'kan?" kata Raisa, "dan kali ini, gue nggak bakalan biarin lo menang." Marka hanya tersenyum menanggapi perkataan Raisa.

Raisa terdiam setelah menyadari sesuatu. "—kenapa jadi gue yang cerita? Lo belom kasih tahu bisa tahu informasi itu dari mana, Kayla ...."

"Eh? Masa, sih? Gue tahu dari temen—dia sampe ngirimin foto, jadinya gue yakin kalau yang diomongin itu bener," kata Kayla, "berarti lo kalah dari Marka, ya?"

Raisa tampak memutar bola matanya malas. "Ck. Kasian gue."

"Kasian atau kasian??" balas Kayla dengan nada meledek.

"A-aah, udahlah. Kenapa jadi bahas dia muluuu—bahas yang lain!"

"Ya udah. Bahas yang lain," kata Kayla, "liat jersey couple-annya, dong. Tadi temen gue nggak jelas ngirim fotonya."

Raisa membulatkan kedua matanya, lalu tanpa sadar melihat ke tempat lain dan berhasil membuat Kayla menyadari kalau temanya pasti sedang melihat jersey yang sedang dibicarakan.

"AAAAAH, RAISAAAA, GUE MAU LIAAAAT!! PLEASE KASIANILAH GUE YANG SEKARANG LAGI BINGUNG INIIII," rengek Kayla, membuat Raisa terkejut bukan main.

Gadis itu bahkan tanpa sadar mengakhiri panggilan telepon dengan temannya. Dia takut kalau orang rumah mendengar saat Kayla berteriak. Raisa tidak mau kalau ayah dan kedua saudaranya menangkap basah gadis itu.

"Aduh ... Kayla kenapa berisik banget, sih??" kata Raisa, kemudian mengirim pesan di ruang orbolannya bersama Kayla dan memberi tahu gadis itu kalau sekarang dia tidak bisa dihubungi dulu.

Setelah itu Raisa beralih melihat ke kasur. Dia bangkit dari kursi dan berjalan agar bisa melihat dengan lebih jelas jersey basket berwarna ungu itu. "Ck. Gue masih heran kenapa dia milihnya warna ungu, sih?" kata Raisa diakhiri kekehan geli.

"Tapi kalau diliat-liat ... lucu juga."

Raisa mengambil jersey itu dan mengusap bordiran nama dan angka yang ada di sana. Mereka—Marka dan Raisa—memilih angka yang sama. Hal itu jelas membuat Raisa makin tidak habis pikir dengan hubungan yang sedang dirinya jalani dengan laki-laki itu.

"Gue ... apa semua ini bisa berjalan seperti yang gue harapkan? Gue takut ... kalau Papa tahu gue menjalin hubungan sama Marka—apa yang bakal terjadi?" tanya Raisa, "sedangkan Bang Arya udah megang kartu AS gue."

<...>

Dari Raisa untuk CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang