CINTA 9: Saling Memikirkan

13 2 0
                                        

Motor Marka sudah berhenti di pekarangan rumahnya. Laki-laki itu kemudian turun dari jok diikuti dengan Rehan yang juga ikut turun dari motor temannya.

"Ya udah, Mar. Perlu gue anterin sampe dalem, nggak?" tanya Rehan.

"Nggak usah, Han. Gue bisa sendiri," balas Marka, "lo gak pa-pa ngelanjutinnya pake angkutan umum?"

Rehan mengangguk. "Iya. Lagian rumah gue juga sebenarnya udah nggak jauh juga, sih. Santai aja," kata laki-laki itu, "yang penting nanti pas dirumah, lanjutin lagi dikompresnya, tuh."

"Siap-siap. Sekali lagi makasih," jawab Marka.

Namun, Rehan tiba-tiba masih terdiam di tempatnya. Hal itu membuat Marka melihatnya dengan bingung. "K-kenapa nggak pergi?" tanya laki-laki itu.

"Gue masih penasaran sama cewek yang tadi nolongin lo, Mar."

Marka menggaruk kepalanya karena merasa terpojokkan. "Ck. Sorry, deh. Gue tadi cabut evaluasi karena pengen nemuin dia," ucapnya.

"Lho? Gue nggak nanya soal itu, Mar. Yang gue tanya, cewek itu siapa? Nggak mungkin cewek lo, sih. Orang tadi dia jutek gitu," balas Rehan.

Namun, Marka justru tertawa setelah mendengarnya. "Hahaha. Jangan gitulah. Doain yang bagus-bagus, moga bisa cepet-cepet jadi cewek gue," ucapnya.

Rehan menaikkan sebelah alis. "Jadi ... itu cewek yang lo suka, Mar?"

"A-ah, kenapa jadi makin panjang gini. Udah, ya, gue mau masuk dulu. Cape, Bro," kata Marka seraya melambaikan tangan dan membalikkan tubuhnya.

Marka membuka pintu depan dan masuk setelah menaruh sepatunya di rak. Dia kemudian langsung duduk di sofa yang ada di ruang tamu karena merasa tidak kuat jika harus berjalan sampai ke kamarnya.

Tidak berselang lama, seorang wanita paruh baya terlihat baru saja keluar dari salah satu kamar. Wanita berusia tujuh puluh tahun itu terlihat menyipitkan mata untuk melihat sosok laki-laki yang sedang duduk sambil meluruskan kakinya di sofa.

"Marka ... Nenek kira siapa yang tadi buka pintu—kamu nggak ngucap salam dulu," ucap Ajeng. Dia adalah Nenek Marka dari pihak ibu.

Marka kemudian menoleh dan melihat sang Nenek. "Maafin Marka, Nek. Tadi Marka cuma kepengen cepet-cepet masuk. Soalnya cape banget," kata laki-laki itu.

Ajeng melihat raut wajah lelah dan kesitan yang diperlihatkan cucunya. "Kamu kenapa, Marka??" tanya wanita itu.

"Ng—gak pa-pa, Nek. Tadi kaki Marka cuma kram aja," jawabnya.

"Kram?? Sebentar, ya, Nenek ambil kompresan dulu," kata Ajeng, bergegas ke dapur sebelum Marka sempat menahannya.

Laki-laki itu merasa tidak enak karena harus merepotkan Ajeng. Sudah hampir sepuluh tahun lebih Marka tinggal bersama sang Nenek dan dia masih belum mandiri. Selalu ada celah bagi Ajeng untuk terus membantunya ketika mengalami kesulitan.

Mereka hanya memiliki satu sama lain selama sepuluh tahun terakhir. Mungkin Ajeng juga hanya ingin membantu sang cucu selagi dia masih bersama dengannya.

^^^

Raisa akhirnya benar-benar memilih pulang ke rumah. Namun, setidaknya hari sudah berubah gelap saat dia sampai di rumah. Setelah menghabiskan beberapa jam di kafe bersama Kayla, gadis itu memutuskan untuk pulang ketika Kayla masih memiliki beberapa urusan di kampus.

Gadis itu membuka pintu dan mengucap salam. Walaupun jarang sekali dibalas oleh penghuni rumah. Karena hanya satu orang yang biasanya membalas ucapan salam dari Raisa—sang ibu.

Dari Raisa untuk CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang