Setiap kali Raisa berhadapan dengan kakaknya, gadis itu merasa gugup. Padahal sebelum ini dia tidak pernah takut dengan laki-laki itu. Apa mungkin karena Arya bisa kapan saja mengungkap rahasianya?
Seperti pagi ini. Walaupun sudah menjadi hal yang biasa bagi Raisa tidak ikut bergabung saat sarapan pagi, tapi ketika dia turun ke lantai bawah, gadis itu pasti akan melihat ke ruang makan sebelum pergi.
Pada saat itulah matanya dan Arya saling bertemu. Sang kakak tampak memberi senyum penuh arti yang berhasil memunculkan rasa gugup di dalam diri Raisa. Namun, ketika gadis itu berkeinginan untuk cepat-cepat meninggalkan rumah, dia juga takut jika sang kakak akan memberi tahu sang ayah ketika dirinya tidak ada.
Gue harus gimana?? Maunya Bang Arya apa, juga gue nggak tahu karena dia nggak bilang, batin Raisa.
"Raisa ... kamu kenapa, Sayang? Ada yang ketinggalan?"
Raisa tersadar ketika tangan sang ibu menyentuh pundaknya. Gadis itu kembali melihat ke meja makan dan menemukan Arya sedang menahan tawa. Sekarang Raisa jadi bingung sendiri.
"A-ah, enggak, Bun—"
"Ikut sarapan dulu, yuk?" ajak Sira, membuat Raisa mengerutkan kening.
Namun, gadis itu dengan cepat menolak setelah melihat kalau sang ayah dan kedua saudaranya masih menempati meja makan itu. Walaupun niat sang ibu baik, tapi Raisa masih belum membiasakan diri untuk berada terlalu lama di antara ketiga laki-laki itu.
"Ng—maaf, Bun. Raisa harus berangkat sekarang," jawab Raisa, lalu memberi kecupan singkat di pipi Sira.
Sira mengembuskan napas pelan. "Ya udah. Kamu hati-hati, ya."
"Iya, Bun."
Raisa langsung berjalan ke luar rumah. Ketika gadis itu masih berada di teras, dia mengambil ponselnya yang berbunyi. Raisa membulatkan mata saat melihat nama Marka muncul di layar ponselnya.
Gadis itu lantas bergegas pergi sebelum menerima panggilan telepon itu. Saat dia sudah berada di luar rumah dan berjalan menuju ke gerbang kompleks, barulah dia menjawab telepon.
"—kamu kenapa telepon pagi-pagi gini, sih?"
"Eh?"
Raisa mengerutkan kening. "Apaan?" tanyanya.
Terdengar kekehan geli dari seberang telepon. "Rai, kamu yang konsisten, dong. Kadang ngomongnya pake aku-kamu, tapi bisa tiba-tiba lo-gue lagi. Kan bingung," jawab Marka yang baru membuat Raisa tersadar.
"A-apaan, sih? Kalau lo nelepon bukan karena hal yang penting, gue tutup—"
"E-eh, jangaaan! Iya-iya, tapi omongan aku tadi juga serius, nih. Kita pakenya aku-kamu aja, ya? Biar lucu," sambar Marka, membuat Raisa memutar bola matanya malas.
"Terserah."
"Oke ... jadi alasan aku nelepon kamu karena mau bilang ... aku udah stand by di depan gerbang kompleks. Kamu masih lama, nggak?" tanya Marka.
Raisa sontak terkejut. Gadis itu langsung melihat ke depan. Walaupun jauh, tapi dia masih bisa melihat samar-samar keberadaan sosok laki-laki yang sedang duduk di atas jok motor.
"A-astaga, Mar ... kenapa nggak bilang dulu kalau mau ke sini, sih? Aku jalan ke sana sekarang!" balas Raisa seraya mengakhiri panggilan. Bahkan dia tidak sempat mendengar respons dari Marka.
Semoga aja nggak ada yang sempet ngeliat kita berdua di sini, kata Raisa yang sudah mempercepat langkahnya.
^^^
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Raisa untuk Cinta
ChickLitDari Raisa untuk Cinta Cinta, apakah aku pernah merasakah kehadiranmu? Aku hampir lupa bagaimana wujud dan perasaan saat kamu ada. Jika cinta tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaanku. Kuharap nantinya akan hadir seseorang di hidupku yang bisa me...
