Raisa berjalan menuju pintu depan dengan terburu-buru karena harus berangkat ke kampus. Namun, panggilan dari sang ibu berhasil membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik.
"B-Bun, Raisa harus berangkat sekarang."
Sira terlihat mempercepat langkahnya untuk menghampiri Raisa. "Iya-iya, tapi ini dibawa, ya. Kamu hari ini ada latihan. Bunda nggak mau kamu cuma makan bubur aja, Rai," katanya sambil memberikan kotak bekal yang wanita itu bawa dari dapur.
Raisa hanya bisa mengangguk sembari memasukkan kotak bekal itu ke dalam tas. "Makasih, Bun. Rai berangkat," ucap gadis itu, kemudian menyalami tangan Sira.
"Hati-hati—"
"Sira. Di mana kopi saya??"
Perhatian Raisa dan Sira teralihkan ketika mendengar panggilan Ares. Sira lalu mengusap tangan putrinya dengan lembut sambil tersenyum. Setelah itu Sira bergegas kembali ke ruang makan, sedangkan Raisa hanya bisa melihat keempat orang itu dari jauh.
Raisa mengembuskan napas berat dan langsung melangkah ke luar. Dia tidak perlu berlama-lama melihat pemandangan yang hanya bisa membuat hatinya sakit. Dia juga sudah amat sangat terbiasa. Terbiasa menyakiti hatinya sendiri.
Pemandangan itu adalah saat sebuah keluarga yang dipimpin oleh seorang ayah dan kedua anak laki-lakinya di meja makan. Mereka menikmati sarapan dengan tenang tanpa berpikir kalau ada sesuatu yang kurang di meja itu. Keberadaan perempuan yang tidak pernah ada di tengah-tengah mereka.
^^^
Udara pagi selalu berhasil membuat hati Raisa tenang. Namun, sekarang gadis itu harus pasrah karena dia tidak bisa benar-benar menikmati udara pagi. Raisa sedang buru-buru mengejar bus agar tidak terlambat ke kampus.
Raisa terlambat bangun. Hal itu disebabkan karena dia sedang berhalangan dan sepertinya membuat gadis itu tidur terlalu nyenyak. Raisa hanya berharap kalau hari ini tidak akan lebih buruk lagi.
Sesampainya di halte, gadis itu tidak melihat keberadaan orang-orang yang juga berniat menunggu angkutan umum. Hal itu membuat Raisa mengembuskan napas berat karena berpikir kalau bus yang ingin dinaikinya sudah lewat.
"Aish ... kalau bener gitu, berarti gue harus nunggu sepuluh menit lagi? Aah ... gue bakalan telat masuk kelasnya Pak Ibnu, nih," ucap Raisa, kemudian mengeluarkan ponselnya. Gadis itu berniat menghubungi Kayla.
Belum sempat menekan nomor telepon temannya, Raisa justru dikejutkan saat melihat sebuah motor yang sudah berhenti di pinggir jalan tempat Raisa berdiri. Gadis itu menaikkan pandangan dan menemukan sosok Marka yang baru saja melepas helm dari kepalanya.
"Wah! Kebetulan banget kita ketemu di sini," kata Marka sambil tersenyum.
Namun, Raisa tidak mau ambil pusing. Gadis itu memilih memalingkan wajah sembari melanjutkan kegiatannya tadi—menghubungi Kayla. Dia menempelkan ponsel di telinga kiri sembari menunggu Kayla menjawab panggilan telepon darinya.
"Ck. Kok nggak diangkat-angkat, sih??" tanya Raisa.
"Lagi nelepon siapa, sih?" tanya Marka yang berhasil membuat Raisa kembali melihatnya. Gadis itu tampak bingung.
"L-lo ngapain masih di sini??" tanya gadis itu.
Marka menggaruk tengkuknya setelah mendengar pertanyaan Raisa. "Mending lo berangkat ke kampusnya bareng gue aja, Rai," ucap laki-laki itu.
"Nggak nyambung. Gue nanya apa, dijawabnya apa," balas Raisa, "daripada lo nggak ada kerjaan, mendingan cepet pergi, deh." Gadis itu kembali menghubungi Kayla dengan harapan temannya akan segera menjawab panggilan telepon Raisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Raisa untuk Cinta
ChickLitDari Raisa untuk Cinta Cinta, apakah aku pernah merasakah kehadiranmu? Aku hampir lupa bagaimana wujud dan perasaan saat kamu ada. Jika cinta tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaanku. Kuharap nantinya akan hadir seseorang di hidupku yang bisa me...
