CINTA 30: Ketakutan yang Menjadi Nyata

4 0 0
                                        

"Perasaan gue kenapa aneh gini, ya?" tanya Raisa pelan.

Kayla yang berhasil menangkap pertanyaan itu, langsung melihat Raisa. "Rai? Lo kenapa?" tanya temannya.

"E-eh? Memangnya gue kenapa?" tanya Raisa sambil melihat Kayla.

"Ck. Tadi gue denger lo ngomong sendiri—perasaan lo kenapa? Lo ngerasain sesuatu yang aneh—maksudnya ... buruk atau gimana?" tanya Kayla yang sepertinya sudah telanjur merasa ingin tahu.

"G-gue ngomong kayak gitu?" tanya Raisa. Gadis itu sedang berusaha terlihat tenang agar Kayla tidak makin curiga.

Kayla mendengkus sebal. "Iya, Rai ... ada apa, sih? Lo juga dari tadi nggak fokus sama kelas—mikirin apa, lo? A-ah, apa perlu gue ganti pertanyaannya? Mikirin siapa, lo?" tanya temannya, "Marka?"

"Aduh, Kay ... lo udah nanyanya banyak, abis itu dijawab sendiri, lagi. Ngapain nanya, coba?" balas Raisa, tapi bukan bermaksud untuk meladeni gadis itu.

"Jadi beneran mikirin Marka? Ya ampun ... nggak nyangka gue, Rai. Ternyata lo bisa bucin juga," kata Kayla diakhiri tawa meledek, sedangkan Raisa tampak manyun walaupun tidak lama.

Coba gue chat aja, kali ya? Sekadar ... nanya dia lagi apa? Raisa berpikir.

"Kelamaan mikir, lo. Kalau mau chat, chat buruan." Kayla menyenggol lengan Raisa dan berhasil membuat gadis itu tersadar.

"E-eh? Lo ngintip-ngintip aja, sih," omel Raisa, sedangkan Kayla malah tertawa saat melihat raut wajah kesal temannya.

Namun, Raisa malah mematikan ponselnya, membuat Kayla bingung.

"L-lho? Kok nggak jadi?" tanya Kayla.

"Males. Lo berisik, sih," balas Raisa.

"Eh-eh ... gara-gara gue liatin? Ya udah, nih, gue tutup mata," kata Kayla, tapi saat sudah menghalangi pandangannya dengan tangan, gadis itu sempat curi-curi untuk tetap mengintip.

Raisa membulatkan mata. "Kaylaaa," keluhnya.

Siapa sangka kalau pembicaraan keduanya berhasil menarik perhatian dosen di ruangan itu. Memang, kelas mereka belum sepenuhnya berakhir dan bisa-bisanya kedua perempuan itu mengobrol. Tidak boleh ditiru, ya!

"RAISA, KAYLA. SEDANG APA KALIAN?"

Panggilan dari Pak Niko berhasil mengejutkan kedua perempuan itu. Raisa dan Kayla langsung melihat ke depan dengan wajah takut. Ditambah lagi sekarang semua pasang mata dari teman-teman sekelasnya juga tertuju ke tempat mereka berdua.

Semoga ketakutan gue cuma perasaan sesaat aja, batin Raisa.

^^^

Marka sedang berjalan menuju ke kampusnya melalui jalan belakang dan tiba-tiba dibuat tersenyum saat melihat pesan masuk dari sang pujaan hati.

"Raisa abis kesambet apa, nih? Tumben banget dia yang nge-chat gue duluan," ucap laki-laki itu.

Namun, baru saja dia berniat membalas pesan dari Raisa, seseorang menarik pundak laki-laki itu. Tubuh Marka tertarik ke belakang dan melihat tiga sosok pria yang tampak berpenampilan seperti preman.

"Kalian sia—"

Marka bahkan belum menyelesaikan pertanyaannya karena salah satu dari tiga pria di depannya sudah lebih dulu meninju perut laki-laki itu. Tidak sempat bersiap, Marka terjatuh sambil memegangi perutnya.

"G-gue nggak pernah tahu kalau ada preman di daerah sini ...." Marka berusaha kembali berdiri sendiri, tapi dua pria lain langsung memegangi lengannya dan membuat laki-laki itu kembali berdiri.

Dari Raisa untuk CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang