Latihan pada hari itu berlangsung dengan serius, tapi tetap menyenangkan. Hal yang membuat latihan itu menyenangkan adalah perayaan ulang tahun dari dua anggota basket. Kedua anggota itu mendapat hadiah berupa siraman air oleh rekan-rekannya.
Raisa hanya menonton. Gadis itu ikut merasa senang saat melihat keseruan yang diciptakan oleh rekan-rekannya. Raisa tidak sekali dua kali diajak bergabung, tapi gadis itu selalu menolak.
"Gue di sini aja, Kak. Nggak mau kena siram juga," ucap Raisa diakhiri tawa.
"Oke, deh," balas Gion.
"Kalau udah masuk bagian ditraktir, baru gue join," lanjut Raisa yang berhasil menarik perhatian rekan-rekannya.
"Yeee, bisa aja, lo Rai," sambar Adelia.
Raisa kembali meminum air mineral dalam posisi duduk dengan kedua kakinya yang dia luruskan. Tiba-tiba Raisa melihat pelatihnya duduk di sebelahnya. Ayden lalu melihat Raisa.
"Pergerakan lo makin jelas kemajuannya, Rai. Good job," kata Ayden.
"Makasih, Kak," jawab Raisa.
"Semoga pas pertandingan nanti, kemampuan lo bisa maksimal buat tim. Oke?"
Raisa pun mengangguk. "Iya, Kak. Gue nggak bakal ngecewain lo sama anak-anak. Gue bakalan berusaha yang terbaik walaupun masih pertandingan antarfakultas, tapi nggak boleh dianggap enteng juga, 'kan?" balas gadi situ.
Ayden mengangguk setuju sembari menepuk pundak Raisa. "Semoga juga, lo bisa lolos seleksi buat join skuat utama. Gue yakin, sih, lo pasti bisa," kata pria itu yang berhasil membuat Raisa terdiam.
Gadis itu tidak menyangka kalau pelatihnya akan menyinggung tentang seleksi itu. Akhirnya ... ada pencerahan juga soal seleksi skuat utama. Kalau gini gue harus bekerja lebih keras lagi, batin Raisa.
"Kira-kira buat seleksi itu ... udah tahu kapannya, Kak?" tanya Raisa.
"Kalau buat fakultas kalian, kayaknya masih beberapa bulan lagi. Masih bisalah buat lo persiapan biar makin mateng," balasnya, sedangkan Raisa hanya mengangguk paham.
Ayden kembali berdiri dan menghampiri semua anggota basket yang sepertinya masih hanyut dalam situasi menyenangkan itu. "Hei-hei. Udahan, kalian ini—si Haris sama Mia sampe basah kuyup gitu," kata Ayden.
"Gak pa-palah, Den. Lagian habis ini mereka juga langsung balik, 'kan?" tanya Gio, tapi justru mendapat gelengan dari Mia.
"Gue masih ada kelas pengganti, Gi ...," kata gadis itu dengan polosnya.
"H-HAH?!" Gio bersama rekan-rekannya yang lain tampak terkejut.
Ayden mengangkat kedua tangan seraya berkata, "Wah-wah. Gue nggak ikut-ikutan, ya. Gue dari tadi sama Raisa—tanya aja sama si Raisa."
Namun, Raisa hanya bisa tersenyum. Gadis itu juga bingung. Saat sudah mulai merasa kasihan, Raisa teringat kalau kosan Mia tidak jauh dari kampus. Sepertinya dia juga sudah berniat untuk pulang lebih dulu dan membersihkan diri setelah latihan hari ini.
Ayden menggendong ranselnya dan berkata, "Buat yang nggak ada kelas lagi, hati-hati pulangnya, ya!"
^^^
Raisa berjalan menuju gerbang utama kampus. Gadis itu tidak lagi mengenakan kaus dan celana pendek yang tadi dia pakai saat latihan. Raisa menggunakan kembali pakaian yang sebelumnya, tapi dibalut dengan jaket tipis.
Senyum di wajah Raisa masih terukir walaupun tidak selebar dan menandakan kalau dia sedang merasa senang. Gadis itu hanya tidak mau orang-orang yang melihat senyumnya berpikir yang tidak-tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Raisa untuk Cinta
ChickLitDari Raisa untuk Cinta Cinta, apakah aku pernah merasakah kehadiranmu? Aku hampir lupa bagaimana wujud dan perasaan saat kamu ada. Jika cinta tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaanku. Kuharap nantinya akan hadir seseorang di hidupku yang bisa me...
