Setelah bersalaman dengan para pemain satu timnya dan tim lawan, Marka tidak mengikuti evaluasi karena harus mengejar sesuatu. "Y-ya! Kamu mau ke mana, Marka? Tunggu—" Mas Radit melihat Marka dengan bingung.
"Maafin gue, Mas—gue skip dulu. Gue buru-buru!" jawab Marka yang sudah kembali berlari setelah mengambil tasnya. Dia benar-benar berlari seakan-akan ada hal penting yang harus dia kejar.
"Ya ampun ... ngejar apa, sih?? Padahal gue baru mau ngasih dia traktiran buat permainannya hari ini," ucap Mas Radit yang semula mengeluarkan dompet, tapi justru kembali dimasukkan ke saku celana.
"Y-ya, yah, Mas. Buat kita aja kalau si Marka nggak mau," kata Rehan.
"Bener, tuh. Rezeki nggak boleh ditolak," lanjut Vino.
"Orang rezekinya si Marka. Udah-udah, kita mulai evaluasinya sekarang," kata Mas Radit yang hanya bisa dibalas helaan napas berat dari kedua laki-laki itu.
Marka masih terus berlari menuju pintu keluar gedung. Dia sampai berdesak-desakkan dengan para penonton yang juga ingin keluar. Namun, untung saja laki-laki itu tidak perlu berlari lebih jauh karena sudah berhasil melihat keberadaan Raisa.
"Ketemu juga," ucapnya seraya berjalan sedikit cepat menghampiri gadis itu.
^^^
Pada saat yang bersamaan, Raisa juga melihat kedatangan Marka. Awalnya dia ingin pergi dari tempat itu sebelum Marka berhasil menghampirinya. Namun, gadis itu justru dibuat terkejut saat melihat Marka yang hampir kehilangan keseimbangan saat hampir sampai di hadapan Raisa.
Gadis itu sontak menahan tubuh Marka yang saat ini sudah jatuh. Marka terlihat sangat kesakitan. "A-awh, kaki gue—"
Raisa menjauhkan tubuh Marka dan membiarkan laki-laki itu berbaring di lantai dan mulai bergerak-gerak untuk meredakan rasa sakit di kakinya. Namun, Raisa yang masih berada di dekat tubuh laki-laki itu, segera melihat ke kaki Marka.
"Lo kram, pasti. Lagian, ngapain pake lari-lari segala, sih??" omel Raisa.
Namun, Marka tidak menjawab. Laki-laki itu sibuk memejamkan mata sambil mengepalkan tangan karena sedang menahan sakit di kakinya. Raisa berdecak karena bingung. Dia segera mencari bantuan dari orang-orang di sekitarnya.
"Tolong-tolong. Bisa beliin air hangat, es batu, sama air mineral, nggak?" tanya Raisa kepada seorang pria yang tidak sengaja berjalan di sebelah mereka. Tidak lupa gadis itu memberikan uang kepada pria itu.
"A-ah, oke-oke. Sebentar," balasnya dan langsung pergi.
"R-Rai, Rai. Aduh ... aduh sakit banget—" Tangan Marka yang lainnya tiba-tiba menggenggam tangan Raisa dan tidak sempat dicegah oleh gadis itu.
Raisa hanya bisa menggaruk kepala saat menyadari kalau mereka berdua sudah berhasil menarik perhatian dari orang-orang sekitar. Duh. Si Kayla ke mana, lagi? Kok nggak keluar-keluar? Dia bertanya dalam hati sambil berusaha menghindari pandangan mata orang-orang yang melihat ke tempatnya dan Marka.
Tidak berselang lama. Orang yang sedari tadi dicari-cari Raisa akhirnya muncul juga. Namun, Kayla tampak terkejut saat melihat keadaan temannya saat ini. Dia fokus dengan tangan Raisa yang sedang digenggam oleh seorang laki-laki.
"Y-ya ampun, Rai—anak orang lo apain??" tanya Kayla yang juga sudah ikut berjongkok. Gadis itu melihat Marka yang masih memejamkan mata karena rasa sakit di kakinya yang belum juga hilang.
"L-lo ke mana aja, sih?? Gue tungguin dari tadi," keluh Raisa, tanpa menjawab pertanyaan Kayla.
"Gue tadi nggak sengaja ketemu temen, diajak ngobrol bentar. Lo gue tinggal sebentar aja, udah gini-ginian sama cowok," balas Kayla, membuat Raisa membulatkan kedua matanya marah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Raisa untuk Cinta
ChickLitDari Raisa untuk Cinta Cinta, apakah aku pernah merasakah kehadiranmu? Aku hampir lupa bagaimana wujud dan perasaan saat kamu ada. Jika cinta tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaanku. Kuharap nantinya akan hadir seseorang di hidupku yang bisa me...
