CINTA 18: Bangkit untuk Bermimpi Lagi

7 0 0
                                        

"Coba aja gue bisa bolos ...."

Namun, itu tidak mungkin. Karena Raisa tidak tahu berapa lama yang gadis itu butuhkan untuk menghindari Marka. Saat perjalanan menuju ke kampusnya, dia sangat amat berharap laki-laki itu tidak akan tiba-tiba muncul seperti biasa.

Karena kalau iya, Raisa sudah mempersiapkan satu tinjuan untuk dihadiahi di wajah laki-laki itu. Jelas, Marka akan menyesalinya, tapi tidak akan cukup membuat laki-laki itu menyerah.

Raisa mengembuskan napas berat. "Kalau udah kayak gini ... gue pengennya main basket aja, deh," katanya.

Pada akhirnya Raisa menahan diri. Setidaknya dia sudah memiliki rencana untuk bermain basket setelah kelas pertamanya berakhir. Dua jam. Cuma butuh dua jam sebelum gue bisa ketemu bola orange itu lagi, ucap Raisa dalam hati.

"Hoi!"

Raisa terlonjak kaget saat sebuah tangan menyentuh bahu gadis itu—bersama dengan suara seruan menyapa. Namun, gadis itu hanya bisa mengembuskan napas saat melihat sosok Kayla di sebelahnya.

"Lo ngagetin gue aja," ucap Raisa.

Kayla nyengir. "Lagian. Lo kayak lagi mikirin apaan aja. Sampe kaget gitu—e-eh ... atau memang lagi mikirin 'apaan gitu', ya? Mikirin apa, hayooo," goda temannya diikuti tangan yang sudah merangkul pundak Raisa.

Raisa berdecak sebal sambil melihat Kayla sekilas. "Ck. Gue nggak mau kalau harus ngebahas soal 'apaan gitu'—please stop—aaaah, gue mau ke kelas ajaaa," kata Raisa sembari menyingkirkan tangan Kayla dan langsung berjalan cepat meninggalkan sang teman.

Kayla yang melihatnya hanya bisa mengerutkan kening. Seperti sesuatu yang baru—dia memang belum pernah melihat Raisa bersikap seperti itu. "Tuh anak kenapa, deh??" tanyanya bingung.

^^^

Padahal tadi Raisa berencana untuk langsung ke kelas, tapi gadis itu berakhir di kamar mandi. Dia ingin menyegarkan diri dengan membasuh wajah. Untung saja saat Raisa sampai di kamar mandi, tidak ada orang di sana.

"Gue nggak tau lagi. Kayla pasti curiga kalau ada sesuatu yang terjadi sama gue ...," kata Raisa sambil melihat pantulan dirinya di cermin.

Raisa menyalakan keran seraya meletakkan kedua tangan untuk menampung air. Setelah itu dia menggunakan air tersebut untuk membasuh wajahnya. Seakan-akan beban pikirannya menghilang sejenak, gadis itu bisa tersenyum.

"Gue harus fokus. Fokus sama pertandingan," ucap Raisa kepada dirinya, "lo nggak boleh nyia-nyiain kesempatan ini, Rai. Belajar dari kesalahan lo yang dulu."

Raisa menarik dan mengembuskan napasnya pelan. Kenapa hal yang membuat kita sakit harus terus teringat. Raisa ingin sekali melupakannya, tapi hal tersebut justru sering kali muncul pada waktu yang tidak tepat.

Seharusnya hari ini adalah hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh Raisa. Gadis itu sudah mempersiapkan segalanya dengan harapan bisa menghasilkan sesuatu yang baik. Namun, Raisa justru harus merasakan luka yang sama sakitnya untuk kali kedua.

Dalam waktu yang sangat amat dekat.

Gadis itu memegangi pipi kanannya, berharap make up yang pagi tadi dipoles di sana berhasil menutupi bekas tamparan dari sang ayah. Melupakan kejadian yang baru berlangsung tidak sampai satu hari ini sungguh tidak mudah.

Kejadian itu berhasil mengacaukan fokus Raisa pada hari ini.

"Rai, are your okay?"

Raisa menoleh. Dia melihat beberapa rekan setimnya sudah berdiri di depan tempat gadis itu duduk. Mereka tampak khawatir karena sedari tadi mendapati Raisa yang sedang melamun.

"Gue? Gue baik-baik aja—mending sekarang kita pemanasan, yuk! Abis itu lanjut doa," kata Raisa seraya bangkit dari duduknya. Namun, bukan menuju ke tengah lapangan seperti biasanya, gadis itu pergi ke pinggir lapangan dan mulai melakukan pemanasan seorang diri.

Raisa menarik napas dan mengembuskannya pelan. Gadis itu terus mengatakan kepada dirinya sendiri untuk fokus dengan pertandingan. Rai, ini final pertama lo dan lo yakin bisa pulang dengan piala juara satu. Lo mau buktiin ke Papa, 'kan? Lo harus fokus, kata Raisa dalam hati.

Raisa menggelengkan kepala. Gadis itu kembali melihat pantulan dirinya dari cermin. Dia menggigit bagian bawah bibirnya. "Nggak. Gue nggak mau kejadian itu keulang lagi," kata Raisa, "gue cuma perlu mikirin satu orang. Bunda. Gue pasti bisa ngebuat Bunda bangga."

^^^

Marka sedang berkeliaran di gedung fakultas Raisa. Bukan tanpa alasan, tentu saja untuk bertemu dengan gadis itu. Namun, Marka tidak begitu yakin untuk benar-benar bertemu dengan Raisa.

"Kayaknya ngeliat dia dari jauh aja udah cukup. Gue takut kalau mood-nya masih jelek gara-gara semalem," ucap Marka yang sedang berjalan di koridor belakang sambil mencari-cari keberadaan Raisa.

Laki-laki itu tiba-tiba mengeluarkan ponselnya yang berbunyi. Tanpa berpikir lama, Marka menjawab panggilan telepon dari salah satu temannya. "Apaan?"

"Lo di mana? Abis kelas main cabut aja nggak bilang-bilang," kata Vino.

"Tau lo, Mar. Nggak ngajak-ngajak!" sahut Rehan.

"Ck! Ngapain, sih lo? Pake teriak-teriak segala, lagi."

"Ya kan biar si Marka denger, Vin."

"Udah-udah. Telepon lo nggak penting, tahu. Gue kira ada apaan," balas Marka yang langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.

Marka mendengkus pelan. "Gue kira mereka mau ngasih tahu kabar penting."

Tiba-tiba langkah kaki Marka terhenti. Laki-laki itu langsung bersembunyi di balik dinding karena baru saja melihat Raisa. Ya, Raisa. Raisa yang sedari tadi dia cari.

"Huft ... untung aja Raisa nggak sempet ngeliat gue," kata Marka, mengelus dada karena merasa sangat lega.

Perlahan-lahan Marka keluar dari tempat persembunyiannya. Laki-laki itu lalu melihat Raisa yang sudah berada di lapangan basket. "Hari ini ada latihankah? Berarti gue datengnya pas banget. Gue lagi pengen ngeliat Raisa sama pacarnya—read bola basket," kata Marka diakhiri kekehan pelan.

Namun, setelah beberapa saat, Marka hanya melihat Raisa berdiam diri tanpa melakukan hal selain duduk dan memandangi lapangan itu. Marka hanya berpikir kalau anggota lainnya belum datang dan memang Raisa yang tiba lebih awal.

"Tapi ini udah kelamaan, deh. Gue aja bosen," kata Marka yang masih berdiri sambil melihat Raisa dari kejauhan.

Setelah laki-laki itu melihat dengan lebih saksama, sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan Raisa. Gadis itu ... seperti sedang memikirkan sesuatu dalam diamnya. Ditambah lagi, Raisa terlihat sedih.

"Gue nggak salah liat, 'kan?" Marka sampai mengucek-ngucek matanya untuk memastikan kalau yang dia lihat tidak salah.

Raisa baru saja menyeka pipinya.

Dari kejauhan memang tidak terlihat jelas, tapi jika dipikirkan dengan logika, dia sedang menyeka air mata, bukan?

"Rai ... apa yang terjadi sama lo?" tanya Marka yang tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya.

Marka ingin sekali menghampiri gadis itu, tapi dia masih bisa menahan diri. Hal ini benar-benar menyiksanya. Pandangan mata laki-laki itu masih jatuh ke tempat Raisa duduk, hanya bisa melihat dari kejauhan.

"Maafin gue, Rai ... seperti dulu, gue cuma bisa melihat lo dari kejauhan—lo yang seharusnya diberi sandaran," ucap Marka diakhiri embusan napas berat.

"Yang bisa gue beri sekarang hanya waktu. Waktu selama yang lo butuhin."

<...>

JANGAN LUPA VOTE DAN KOMENNYA, YA GUYS! <3333

Dari Raisa untuk CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang