Raisa benar-benar tidak mau ada yang tertinggal walaupun perlengkapan untuk latihan basket kali ini tidak jauh berbeda dengan latihan basket biasanya.
"D-duh, apa gue yang terlalu bersemangat, ya? Rai, tenangin diri lo," ucapnya seraya mendudukkan dirinya di atas kasur untuk berhenti sejenak dari kegiatannya.
Tiba-tiba perhatian gadis itu teralihkan ketika mendengar suara ketukan di pintu kamar. "Siapa, ya?" tanya gadis itu seraya bangkit dari duduknya dan berjalan untuk membuka pintu itu.
Saat pintu sudah sepenuhnya terbuka, Raisa melihat sang ibu yang sudah berdiri di depannya. Wanita itu tersenyum seraya melangkah masuk ke kamar sang putri. Dia langsung melihat ke kasur Raisa yang tampak berantakan.
"Lho? Kamu mau pergi ke mana, Sayang?" tanya Sira.
Raisa menggaruk pelipisnya dan berjalan menghampiri sang ibu. "Aku belom bilang, ya? Hari ini aku ada latihan basket, Bun," jawab gadis itu.
"Eh? Sejak kapan kamu ada latihan hari ini?" tanya Sira dengan wajah bingung.
Namun, Raisa justru tersenyum dan membuat Sira makin merasa bingunh.
"Ada apa, Sayang? Kayaknya kamu lagi seneng banget, ya??" tanya Sira.
"Iya, Bundaku," balas Raisa seraya memeluk Sira.
"Sebenarnya ada apa, sih? Bunda penasaran banget, jadinya," kata Sira sembari mengelus rambut Raisa dengan lembut.
"Hari ini aku bakal latihan sama skuat utama basket kampusku, Bun."
Sira langsung melepaskan pelukannya untuk bisa melihat putrinya kembali. Dia ingin memastikan kalau dirinya tidak salah dengar. "Yang bener, Rai? Wah ... selamat, ya Sayang," kata sang ibu, kembali memeluk Raisa.
"Makasih, Bun," balas Raisa.
"Ya udah. Kalau gitu Bunda mau buatin sarapan dulu buat kamu, ya? E-eh, jam berapa kamu mau berangkat?" tanya Sira setelah melepaskan pelukannya dengan sang putri.
"Jam delapan, Bun. Soalnya jam sembilan harus udah sampe di tempat latihan."
"Oke-oke. Masih sempet," kata Sira, "kalau udah siap, kamu langsung ke meja makan, ya."
"Iya, Bun," balas Raisa diikuti senyum.
Setelah Sira keluar dari kamarnya, Raisa kembali duduk di atas kasur dengan senyum yang belum pudar. "Kayaknya ... sehari ini bisa ngerasa bahagia terus. Please banget, ini," kata Raisa.
^^^
Sekarang penampilan gadis itu sudah berubah. Raisa memakai atasan kaus putih dibalut dengan jaket abu-abu dan bawahan celana olahraga berwarna hitam. Gadis itu berjalan menuju ruang makan sambil menggendong tasnya.
Di meja makan, Raisa hanya melihat keberadaan sang ibu. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk mempertahankan senyum di wajah gadis itu. Tanpa mau tahu tentang tiga anggota keluarga lainnya, Raisa lebih memilih untuk langsung duduk di kursi yang ada di meja makan.
"Selamat pagi, Bundaku," kata Raisa sambil tersenyum.
Sira yang melihatnya juga ikut tersenyum. "Pagi juga, Sayang. Ayo, kamu harus makan dulu biar tenaganya full buat latihan hari ini," balas Sira.
"Wah ... keliatannya enak, tapi aku yakin kalau masakan Bunda selalu enak."
"Kamu, ini. Bisa aja, deh," balas sang ibu.
Sekarang piring yang semulanya kosong sudah diisi oleh nasi goreng yang Sira buat. Sepertinya nasi goreng itu sangat spesial jika dilihat dari penampilannya. Bahkan Sira menambahkan potongan beberapa sayur di sisi nasi goreng itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Raisa untuk Cinta
ChickLitDari Raisa untuk Cinta Cinta, apakah aku pernah merasakah kehadiranmu? Aku hampir lupa bagaimana wujud dan perasaan saat kamu ada. Jika cinta tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaanku. Kuharap nantinya akan hadir seseorang di hidupku yang bisa me...
