CINTA 17: Luka yang Berbeda

12 0 0
                                        

Raisa terbangun dari tidurnya dan berniat untuk pergi ke dapur karena merasa haus. Namun, ketika hampir sampai di dapur, gadis itu justru tidak sengaja mendegar suara tangis. Sebenarnya ini bukan kali pertama, tapi rasanya sudah cukup lama karena memang Raisa tidak selalu terbangun dari tidurnya dan pergi ke luar kamar.

"Bunda ...."

Raisa hanya mampu berucap lirih. Gadis itu tidak memiliki keberanian untuk menghampiri sang ibu karena takut akan membuat wanita itu harus menahan tangisnya. Raisa ingin memberi ruang untuk Sira meluapkan emosi—walaupun sama artinya dengan membiarkan sang ibu menangis.

Hati Raisa ikutan sakit, Bun ... apa Bunda nggak bisa lepas dari penderitaan ini? Apa Bunda nggak punya pilihan? Raisa hanya mampu berdiri di balik pintu kamar mandi, tempat Sira berada.

Namun, Raisa tidak bisa berlama-lama di sana. Gadis itu tidak mau kalau Sira mengetahui keberadaannya. Raisa segera kembali ke kamar sambil menggigit bagian bawah bibirnya.

Raisa mengusap wajahnya. Kenapa gue juga mau nangis, sih ...? Gue tahu Bunda nangis karena Papa dan gue nggak mau harus nangis karena penyebab yang sama ....

Setelah kembali ke kamar Raisa tidak langsung tidur. Gadis itu terduduk di kasur sambil memikirkan sesuatu. "Dulu gue masih terlalu kecil ... gue nggak ngerti luka yang selama ini Bunda tanggung," ucapnya.

Raisa sebenarnya sudah beberapa kali memiliki keinginan untuk bicara. Bicara kepada sang ibu. Bukankah kita memiliki pilihan untuk meninggalkan rasa sakit itu? Hanya saja ... Raisa merasa kalau Sira terlampau kuat karena masih memilih bertahan dengan rasa sakit itu.

"Cinta itu buta—mungkin."

Sekarang gadis itu tidak bisa tidur dan dia tidak memiliki kegiatan yang bisa dilakukan. Tiba-tiba saja pandangannya terhenti ke tempat ponselnya berada. Setelah mengambil benda pipih itu, Raisa kembali duduk di kasur.

"Nonton film aja, kali ya? Gue nggak bakal bisa tidur lagi kalau udah kebangun gini," ucap Raisa seraya menyalakan ponselnya.

Namun, baru saja ponselnya menyala, Raisa mengerutkan kening saat melihat jumlah notifikasi pesan yang sangat banyak. "Spam atau gimana? Gue nggak pernah dapet chat sebanyak ini, deh," kata gadis itu.

Karena penasaran, Raisa memutuskan untuk membuka aplikasi pesan tersebut. Namun, itu adalah keputusan yang salah. Gadis itu akan menyesalinya.

^^^

"Seperti yang gue bilang. Gue nggak bakal nyerah."

Marka tersenyum sambil memandangi layar ponselnya. Laki-laki itu mungkin sudah kehilangan akal, tapi lebih baik daripada harus kehilangan kesempatan. Dia tidak mau terlambat lagi.

Saat SMA dulu, Marka memang sudah menaruh rasa kepada Raisa, tapi dia tidak terlalu peduli karena berpikir kalau perasaan itu hanyalah perasaan sesaat. Untung saja dia hanya kehilangan kesempatan untuk menyatakan perasaan kepada Raisa.

"Yang gue tahu ... Raisa memang belom pernah pacaran—jadi masih adalah ... kesempatan buat gue jadi pacar pertamanya dia," kata Makra, masih dalam keadaan tersenyum.

Marka lalu meletakkan ponselnya. Dia beralih menjatuhkan tubuhnya di kasur. Pandangan laki-laki itu tertuju ke langit-langit kamarnya yang tampak polos. Saat dia memutuskan untuk memejamkan kedua mata, tiba-tiba saja sebuah suara membuatnya kembali terbangun.

"Raisa nggak mungkin baca chat gue—E-EEH?!"

Mata Marka membulat ketika melihat notifikasi pesan di layar ponselnya. Laki-laki itu langsung membukanya tanpa berpikir panjang. Belum sampai sepuluh detik dia membaca pesan masuk itu, Marka kembali dibuat terkejut karena Raisa tiba-tiba saja menghubunginya.

Dari Raisa untuk CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang