CINTA 25: Cerita Marka

6 0 0
                                        

Hanya sebuah tebakan, tapi di sinilah Marka.

"—gue ada urusan sama dia. Tenang. Nggak bakal gue tikung, kok. Kalian juga tahu gimana setianya gue sama Raisa, 'kan?" kata Marka saat bertanya kepada Vino tentang Alamat indekos Kayla.

"Iya. Paham gue. Lagian si Kayla juga nggak bakal mau sama lo."

Marka memutar bola matanya malas. "Kepedean banget, lo."

Vino tersenyum bangga dan berkata, "Memang bener, kok."

"Untung aja Vino bisa diajak kerjasama," ucap laki-laki yang sekarang masih duduk di jok motornya. Motor itu dia berhentikan di depan sebuah gang.

Marka mengembuskan napas lega. "Untungnya juga dia nggak banyak tanya—dan semoga dia juga nggak kepo nanya ke Kayla alasan gue minta alamat kosannya," kata laki-laki itu.

Namun, sekarang Marka bingung. Dia akan tetap menunggu di sana atau pergi ke indekos Kayla untuk mencari tahu keberadaan Raisa—sepertinya laki-laki itu akan menunggu saja.

"Gue udah ngelewatin batas kalau sampe nyamperin ke kosannya—sampe sini aja udah cukup, Mar. Sekarang lo pantau dari jauh dulu," ucap Marka sambil melihat ke indekos Kayla yang tampak sepi dari luar.

Tiba-tiba sebuah motor melewati Marka. Laki-laki itu melihat seragam yang dipakai pengemudi motor dan bisa langsung menebak kalau itu adalah ojek online. Saat menyadari kalau ojol tersebut berhenti di depan gerbang indekos Kayla, Marka makin penasaran.

Benar saja dugaannya. Sosok Raisa dan Kayla muncul setelah gerbang indekos itu terbuka. Sepertinya ojol itu datang untuk menjemput Raisa. Terlihat sebelum Raisa menaiki jok motor itu, dia berpelukan dengan Kayla.

"—kabarin kalau udah di rumah," ucap Kayla.

Raisa tampak mengangguk. "Sekali lagi makasih, ya Kay," balasnya.

Kayla menepuk bahu Raisa dan berkata, "Sama-sama, Rai. Kalau sesi curhatnya masih belom cukup, bisa lanjut teleponan."

"Gue paling mau langsung istirahat aja, sih. Gara-gara udah lama nggak nangis, jadi agak pusing," balas Raisa diikuti senyum kecil.

"Ulululu. Ya udah—Mas, tolong hati-hati boncengin temen saya, ya?" Kayla melihat pengemudi ojek online tersebut mengangguk, lalu memberikan helm kepada Raisa.

Marka segera tersadar saat melihat Raisa yang sudah duduk manis di motor. Dia harus bergegas pergi sebelum keberadaannya diketahui gadis itu. Marka tentu saja tidak mau membuat suasana hati Raisa memburuk.

Laki-laki itu segera bersembunyi setelah memindahkan motornya dari tempat semula. Setelah Raisa beserta ojek yang dinaikinya pergi, Marka langsung keluar dari tempat persembunyiannya.

"Raisa ... dia beneran nggak baik-baik aja," kata Marka diikuti embusan napas berat. Dia merasa tidak berguna karena tidak bisa menghibur Raisa pada saat seperti ini.

Marka mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Mar, jangan ngulangin kesalahan yang sama." Laki-laki itu kemudian mengepalkan tangannya erat-erat.

^^^

Hari-hari biasanya tampak biasa saja, tapi hari ini ada yang berbeda. Sesuatu yang berhasil membuat Marka terkejut saking tidak menyangkanya. Mungkin memang Marka ditakdirkan untuk berada di sana pada saat itu.

"Ternyata gue disuruh lewat jalan ini bukan tanpa alasan ...."

Marka masih terdiam di tempatnya, bersembunyi di balik pilar di koridor paling belakang sekolah yang menghubungkan gedung A dan B. Koridor itu termasuk koridor yang paling sepi dan sering digambarkan memiliki aura yang menyeramkan.

Namun, entah kenapa hari ini Marka ingin melewatinya untuk sampai ke kelas.

"—g-gue ... masa gue diem aja di sini? Seenggaknya gue harus nyamperin dan tanya dia kenapa, 'kan?" tanya Marka kepada dirinya sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul setelah Marka tidak sengaja melihat sosok gadis yang sedang berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Bukan hanya itu yang Marka lihat, tapi suara tangis pelan yang berhasil ditangkap oleh telinganya.

Pada awalnya Marka belum bisa menangkap dengan jelas sosok gadis itu, tapi saat dia memutuskan untuk melangkah maju, Marka benar-benar terkejut. Sosok gadis itu adalah Raisa.

G-gue nggak salah liat, 'kan? Ini beneran Raisa? D-dia ... nangis? Marka tidak bisa mencegah rasa terkejutnya dan kembali diam di tempat.

Gadis yang setiap hari dia lihat sangat kuat dan ceria ... ternyata juga manusia biasa yang memiliki emosi lain. Dia juga bisa menangis. Hal itu membuat Marka makin bertanya-tanya dengan sesuatu yang disembunyikan Raisa dari orang-orang.

Tentu saja Marka sudah bisa menduganya sejak lama. Raisa menyembunyikan sesuatu dari orang-orang di sekitarnya. Di balik senyum yang dia perlihatkan setiap hari, ada luka yang tersimpan.

Sayangnya, pada saat itu Marka memilih untuk bersembunyi.

"Sekarang nggak boleh kayak dulu—gue nggak mau bikin Raisa nyesel karena udah ngasih kesempatan buat gue," ucap Marka. Laki-laki itu mengendarai motornya dan berharap masih bisa mengejar laju ojek online yang dinaiki Raisa.

Marka tersenyum saat berhasil menemukan motor yang ditumpangi Raisa. Laki-laki itu langsung mempercepat laju motornya agar bisa melaju di sebelah ojek tersebut. Marka menoleh dan memberi kode kepada pengemudi ojek itu untuk menepi.

"M-Marka?" Raisa tampak terkejut saat melihat keberadaan Marka, tapi gadis itu lebih terkejut karena motor yang dinaikinya memilih untuk menuruti permintaan Marka.

Setelah menepi, Marka turun dari motor dan menghampiri Raisa. Laki-laki itu mengeluarkan dompetnya dari saku. "Maaf, Rai," ucap Marka, "kamu biar aku aja yang anter, ya? Ada sesuatu yang mau aku omongin."

"M-Mar—kamu nggak boleh gini, dong. Aku kan lagi naik ojek," ucap Raisa yang juga sudah turun dari jok motor.

"I-iya—makanya aku minta maaf dulu."

"Tapi, Mas ... saya tetep harus nyelesein perjalanan di alamat tujuan."

Perhatian Marka teralihkan ke pengemudi ojek tersebut. "Iya, Mas. Saya tahu aturannya memang begitu, makanya saya mau kasih tip buat Masnya," ucap Marka.

"Ng—Mbanya gimana? Kalau Mbanya keberatan, saya nggak bisa terima."

Raisa menarik dan mengembuskan napas berat. "Ya udah, Mas. Saya ikut sama dia aja," kata gadis itu, "saya minta maaf, ya Mas." Raisa memberikan helm yang tadi dia pakai kepada pengemudi ojek itu.

Pengemudi ojek itu mengangguk. Dia menerima uang pemberian Marka dan juga helm dari Raisa. "Kalau begitu saya permisi, Mba, Mas," jawabnya, kemudian kembali melajukan motornya pergi dari tempat itu.

Raisa beralih melihat Marka. "Sekarang apa? Jangan sampe malem. Gue cape."

"Kita jalan dulu, yuk? Nanti pas udah nyampe ke tempatnya, baru kita ngobrol," balas Marka sembari memberikan helm kepada Raisa. Lagi-lagi Raisa mengembuskan napas berat, tapi tidak menolak.

Setelah Raisa menduduki jok belakang motor Marka, laki-laki itu melajukannya pergi. Sepanjang perjalanan, Marka sesekali melihat kaca spion dan menemukan Raisa masih belum tersenyum.

Gue nggak seratus persen yakin cara ini bisa bikin Raisa senyum, tapi semoga aja beneran bisa, kata Marka dalam hati.

<...>

Dari Raisa untuk CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang