CINTA 14: Pendukung Setelah Nomor Satu

8 2 0
                                        

Raisa tidak berharap keluarganya akan hadir dan memberi dukungan untuknya yang pada hari ini akan menjalani pertandingan basket antarfakultas. Seblum gadis itu berangkat dari rumah, dia sempat bertemu dengan sang ibu.

"Maafin Bunda, ya Rai ... Bunda nggak bisa ngedukung kamu secara langsung, tapi doa Bunda akan selalu menyertai kamu."

Terima kasih, Bun. Doa Bunda udah lebih dari cukup buat Raisa, batinnya.

Sekarang gadis itu sedang melakukan pemanasan di pinggir lapangan bersama beberapa rekannya, tapi tidak sedikit juga dari mereka yang masih bersiap-siap. Raisa melihat banyak mahasiswa dan mahasiswi yang mengisi kursi penonton di stadion pada pagi hari itu.

"Penontonnya cuma anak-anak KAJAY aja, 'kan ya?" tanya Raisa kepada salah satu rekannya.

Adelia menoleh. "Nggak tahu, gue, tapi kayaknya ada penonton dari kalangan umum juga, deh," balasnya.

"Memangnya kenapa, Rai?" tanya Yuni.

"Ng—gak pa-pa, sih. Gue cuma nanya," jawab gadis itu.

Setelah menyelesaikan pemanasan, Raisa berjalan menuju bench untuk minum. Saat sedang minum, gadis itu tidak sengaja meliha seseorang karena lambaian tangan yang diarahkan ke tempat gadis itu berdiri.

Raisa langsung terbatuk karena terkejut.

Orang itu—Marka—juga ikut terkejut dan langsung bangkit dari duduknya. Dia sedikit maju untuk melihat keadaan Raisa. "L-lo gak pa-pa, Rai??" tanya Marka dengan suara agak keras.

Raisa menyeka mulutnya dengan ujung jersey dan baru kembali melihat Marka dengan wajah marah. "Lo ngapain di sini, sih??" balas gadis itu.

"Lho? Ini kan tempat umum, Rai. Lagian, gue di sini buat ngasih dukungan ke elo," jawabnya.

"Gue nggak butuh."

"Terserah lo mau ngomong apa. Nggak ngaruh juga. Gue bakalan tetep di sini," balas Marka sambil tersenyum, sedangkan Raisa masih memperlihatkan ekspresi wajah marahnya.

Interaksi kedua orang itu ternyata tidak cukup menarik perhatian orang-orang yang ada di sana. Namun, Ayden yang melihat Raisa sedang memisahkan diri segera memanggil gadis itu untuk bergabung kembali dengan mereka.

"Terserah lo aja," ucap Raisa sebelum pergi meninggalkan Marka yang masih tersenyum kepadanya.

^^^

Pertandingan sudah dimulai beberapa menit lalu. Marka terlihat sangat serius menonton pertandingan itu. Walaupun tidak bisa disembunyikan kalau sebenarnya dia hanya fokus memerhatikan Raisa.

Raisa kalau lagi main basket, cantiknya bertambah jadi seratus kali lipat, kata Marka dalam hati sambil tersenyum.

Namun, kedatangan dua laki-laki yang sekarang sudah menempati kursi kosong di sebelah Marka berhasil mengalihkan perhatian laki-laki itu. "Kalian ngapain?" tanya laki-laki itu kepada dua laki-laki yang ternyata adalah temannya.

"Ya mau nontonlah. Memangnya nggak boleh?" tanya Vino.

"Tahu. Tiketnya beli pake duit sendiri, kok, bukan duit lo," sambung Rehan.

Marka malah tertawa. "Ya nggak salah juga, sih, tapi gue kira kalian nggak mau nonton pertandingan yang ceweknya," jawab laki-laki itu.

"Wah ... salah besar, Mar. Yang kita tungguin malah pertandingan ceweknya," sahut Rehan, "apalagi kalau sampe ada yang berantem."

"Parah, lo—j-jangan sampe berantemlah. Kayak anak kecil aja," kata Marka.

Kedua temannya langsung melihat Marka dengan raut wajah bingung. Namun, hanya satu dari keduanya yang berucap setelah itu. "Tumben banget lo nggak langsung ngerti kalau kita cuma nge-jokes," balas Rehan.

Dari Raisa untuk CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang