Raisa merasa lega sudah berada di depan kelas. Pintu kelas sudah terbuka walau mata kuliah pertamanya baru dimulai tiga puluh menit lagi. Hal itu membuat dia tidak perlu bingung mencari tempat untuk menunggu.
Gadis itu memilih kursi di bagian tengah ruang kelas. Setelah duduk, Raisa mengeluarkan earphone dari tas dan memasangkan di kedua telinga. Dia mencari lagu yang akan menemani gadis itu sambil menunggu kelas dimulai.
Saat lagu sudah terdengar, Raisa menundukkan kepala dan tubuhnya ke meja dengan punggung tangan yang digunakan sebagai sandaran dagu. Gadis itu kemudian memejamkan mata, tapi tidak tidur.
Hari-hari Raisa selama satu tahun ke belakang hampir dijalani dengan kegiatan yang tidak jauh berbeda. Mungkin mahasiswa/mahasiswi yang sering bertemu dengan Raisa sudah hafal dengan kegiatan gadis itu.
Satu per satu mahasiswa/mahasiswi memasuki ruang kelas. Keberadaan Raisa yang sudah lebih dulu sampai di sana hanya membuat perhatian mereka teralihkan tidak lebih dari lima detik.
Raisa kembali mengangkat kepalanya dan melihat ruang kelas yang tadinya sepi, berubah menjadi ramai. Sebenarnya gadis itu memang hanya mendengarkan lagu dengan volume kecil yang membuatnya bisa mendengar perubahan suasana di kelas itu.
"Selamat pagi, Rai," ucap salah satu teman perempuannya yang sudah mengisi kursi di sebelah gadis itu.
Raisa tersenyum seraya membalas, "Pagi juga, Kay."
Kayla melihat Raisa sesekali ketika gadis itu sedang sibuk memainkan ponsel. "Lo nggak cape, Rai? Berangkat kelas pagi, pulang dari kampus malem karena latihan basket dulu," kata Kayla membuka obrolan.
"Ya dibilang cape, ya pasti cape," balas Raisa, "tapi gue juga seneng karena ada kegiatan yang gue sukai dan bisa gue lakuin tanpa perlu dilarang-larang."
Namun, tidak ada yang menyangka kalau ucapan Raisa berhasil membuat Kayla melihat dirinya dengan bingung. "Tanpa perlu dilarang-larang? Memang lo pernah dilarang buat main basket, gitu?" tanya Kayla.
Raisa sempat terkejut. Namun, dia selalu memiliki alasan jika tiba-tiba terjebak dalam pertanyaan seperti itu. "Maksud gue, selagi belom dilarang, hehehe," jawabnya.
"Aaah, gitu ...." Kayla kembali fokus dengan ponselnya ketika Raisa baru saja mengembuskan napas lega.
Sebenernya nggak dilarang. Lebih nggak dipeduliin. Gue mau ngapain aja yang penting nggak ngelibatin mereka, batin Raisa diakhiri helaan napas berat.
^^^
Jadwal kuliah Raisa hari ini cukup berantakan. Namun, dia masih memiliki satu kegiatan yang tidak akan dia sesali walaupun harus membuatnya pulang lebih terlambat dari biasanya.
"Untung gue selalu bawa kunci cadangan. Walaupun gue tahu kalau Bunda pasti bakalan tetep bukain pintu, tapi buat jaga-jaga aja," ucap Raisa setelah selesai berganti pakaian di toilet kampus.
Mata kuliah Raisa hari ini sebenarnya sudah selesai sejak empat jam yang lalu, tapi gadis itu memilih tetap berada di kampus walaupun temannya—Kayla—memberi Raisa tawaran untuk menunggu di indekosnya.
Gue udah punya tempat favorit yang bikin waktu berjalan lebih cepat, batinnya. Gadis itu sedang membicarakan perpustakaan di gedung fakultasnya. Selain tempatnya yang tenang, lokasi perpustakaan juga tidak terlalu jauh dari lapangan tempat gadis itu berlatih bersama anggota lainnya.
Sesampainya Raisa di lapangan basket, dia melihat sudah ada dua anggota yang hadir. Raisa tentu saja mengenalnya walaupun dua anggota tersebut duduk di semester lebih tinggi daripada dirinya. Lebih mudahnya, mereka adalah kating—kakak tingkat—Raisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Raisa untuk Cinta
ChickLitDari Raisa untuk Cinta Cinta, apakah aku pernah merasakah kehadiranmu? Aku hampir lupa bagaimana wujud dan perasaan saat kamu ada. Jika cinta tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaanku. Kuharap nantinya akan hadir seseorang di hidupku yang bisa me...
