Bukan cara yang terbaik

69 11 2
                                        

Setelah mendapat ramuan obat tradisional dari kakak temannya Tegar, Jingga rajin meminumnya setiap hari.

Dia bahkan tidak pernah melupakannya sekalipun.

Dan tepat di hari ini, Jingga telah meminumnya selama enam puluh hari. Tapi, sampai sekarang mereka belum mendapatkan apa yang mereka inginkan.

"Kayaknya aku udahan aja minun obat tradisionalnya," ujar Jingga sambil menatap obat tradisionalnya.

Jingga sengaja membawa obat tradisionalnya ke dalam kamarnya, agar bisa ditunjukkannya ke suaminya.

"Kenapa?"

Tegar menyudahi membaca artikel dari google. Dia menoleh ke Jingga yang sedang terlihat sedih.

"Kayak gak ada gunanya gitu, padahal aku udah minum selama dua bulan penuh."

"Tapi kan baru dua bulan. Coba satu bulan aja lagi. Mana tahu, jadi mujarab."

Jingga langsung menggelengkan kepalanya. "Pahit tahu. Bahkan ini adalah obat yang terpahit yang pernah aku konsumsi selama hidup aku."

"Sepahit itu ya?"

Jingga menganggukkan kepalanya. "Banget pun."

"Ya udah kalau kamu maunya begitu, aku gak akan maksa. Kita cari cara lain aja ya."

Jingga mengangguk setuju dengan ucapannya Tegar.

**********

Keesokannya

Dan sesuai dengan keinginannya, Jingga tidak lagi meminum obat tradisionalnya.

Tapi hal itu membuat Jingga jadi kepikiran. Dia takut kalau keputusannya adalah hal yang salah.

"Huft!" Jingga menghela napasnya kasar. "Apa aku lanjutin aja ya."

"Enggak usah."

Tegar tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Dia langsung menjawab ocehannya Jingga.

"Ha?"

"Enggak usah aja. Kita cari cara lain aja."

"Seperti?"

"Seperti konsultasi ke dokter."

"Ah, iya. Kok bisa lupa ya."

"Mungkin karena terlalu fokus sama yang tradisional."

"Mungkin ya," ujar Jingga. "Ya udah nanti pas kamu libur, kita ke dokter."

Tegar menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan perkataannya Jingga. Dia juga tersenyum lebar ke arah Jingga. "Pengen banget ya?"

Jingga mengangguk. "Banget. Kamu tahu, tadi pas aku belanja, aku lihat anak kecil yang imuuuut banget. Dia cewek, terus badannya gembul banget."

Jingga cerita dengan mata yang berbinar. Dan Tegar mendengarkan ceritanya dengan seksama.

"Aku jadi kepikiran. Kalau kita punya anak, dia kayak apa ya? Apa jadi kayak aku? Atauuu kayak kamu?"

"Yang pastinya jadi kayak kita berdua. Dia akan ambil versi yang terbaik dari kita."

"Jadi penasaran."

"Aku juga sama," ujar Tegar. "Bagaimana kalau kita usaha. Mana tahu, kali ini berhasil."

Jingga mengangguk. "Tapi posisinya harus benar ya. Tadi aku baca google tentang posisi tubuh untuk melakukan seks biar dia jadi janin. So, kita harus melakukannya dengan benar. Oke."

"Siap bu boss." Tegar memberi hormat. "Kita mulai dari mana nih?" tanya Tegar.

"Kamu maunya cewek apa cowok?" tanya Jingga.

"Apa aja sih," jawab Tegar. "Kalau mulai dari ciuman boleh kan?"

Setelah mendapat anggukan dari Jingga, Tegar langsung melumat bibir manisnya Jingga. Setelahnya, Tegar memulai aksinya.

********

Tegar & JinggaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang