Tegar melakukan back hug ke Jingga yang sedang fokus memotong-motong bawang di dapur.
"Ihh, ganggu aja. Orang lagi masak juga."
"Sebentar aja. Aku lagi butuh pelukan kamu!"
"Kenapa? Kok tumben?"
"Gak papa, lagi ingin aja. Ga boleh emangnya?"
Jingga melepaskan tangan Tegar yang melingkari lehernya. "Boleh kok. Masa gak boleh. Kan suami sendiri."
Tegar tersenyum lebar. "Kamu mau masak apa? Mau aku bantu?"
"Emang kamu bisa?"
"Bisalah. Mau lihat?"
Tanpa menunggu jawaban Jingga, Tegar langsung membuka apron Jingga, lalu memakaikannya ke tubuhnya.
Setelahnya, "kamu duduk aja disitu, biar aku yang masak."
"Enggak ah! Aku mau bantu kamu." Jingga menolak perintah Tegar untuk duduk diam.
"Kan hari ini pelayannya itu aku. Jadi, biarkan aja aku yang masak."
"Tapi..."
"Kalau kamu ga mau duduk, kamu lihatin aja. Gimana?"
"Hmmm? Ok."
Tegar pun melanjutkan aksi memasaknya hingga masakannya siap untuk disajikan.
"Selesai."
Jingga yang sedang memainkan handphonenya, langsung meletakkannya di meja makan. Setelahnya, dia menghampiri Tegar.
"Katanya mau lihatin. Tapi, malah duduk," sindir Tegar.
"Hehehe! Namanya aku suntuk. Yaudah, aku duduk aja sambil lihatin toko online."
Tegar tertawa kecil.
"Kenapa ketawa?" tanya Jingga.
"Imut," jawab Tegar singkat. "Bye the way, mau nyicip masakan aku gak?" Tegar mengalihkan pembicaraan awal mereka.
"Mau dong."
Tegar mengambil sendok makan, lalu menyendokkannya ke sup ayam yang dia buat tadi. Setelahnya, dia pun menyuapi Jingga.
"Waw. Enak ternyata."
Jingga takjub akan masakannya Tegar. Dia sendiri belum pernah masak, tapi hasilnya seenak masakannya Tegar.
"Apa aku bilang, kalau aku itu jago masak."
"Iya deh, iya," ujar Jingga.
"Yaudah, kamu duduk aja sana. Biar aku yang menghidangkannya untuk kamu."
"Oke," jawab Jingga dengan antusias.
*****
Jingga sudah menghabiskan makanannya, dia pun berdiri dari tempat duduknya sambil memegang piring kotornya.
"Mau kemana?" tanya Tegar dengan pertanyaan konyol.
"Mau ke pasar," jawab Jingga. "Ya, mau nyuci piring lah," lanjut Jingga.
"Gak usah, biar aku aja." Tegar menawarkan dirinya.
"Gausah, aku aja," tolak Jingga. "Ingat! List number 3, dimana kita harus saling bekerja sama untuk membersihkan rumah ini."
"Ah, iya juga ya," jawab Tegar. Semenit kemudian, "gimana kalau kita ngebersihin rumah ini nanti siang." Tegar memberikan ide agar minggunya diisi dengan hal yang berguna.
"Boleh tuh."
*****
Sesuai dengan rencana, Jingga dan Tegar berbagi tugas untuk membersihkan rumah mereka.
"Aku mau, kamu ngerjain yang ringan-ringan aja. Biar aku yang ngerjain pekerjaan yang berat," pinta Tegar.
"Ok."
Mereka melakukan tugas mereka, dimana Jingga akan mengelap debu, nyapu, ngepel, dan mencuci piring.
Sedangkan Tegar merapikan pekarangan rumah, membersihkan kamar mandi, membuang sampah, dan membersihkan langit-langit.
Setelah selesai, mereka berdua langsung beristirahat di dalam kamar mereka.
"Cape juga ya."
"Kamu baru segitu aja, udah ngeluh," sahut Jingga.
"Namanya aku ga biasa ngerjain yang begituan," jawab Tegar. "Kalau kamu gimana? Ga cape?"
"Enggaklah. Biasanya juga aku sendiri yang bersihin rumah ini."
"Ha, iya aku baru ingat."
"Apa?" tanya Jingga penasaran.
"Kamu gamau pake ART di rumah ini?"
"Enggak!" jawab Jingga singkat.
"Kenapa?"
"Biar akunya ada kerja. Kalau duduk aja, aku bisa bosan nanti."
"Oooh, ok. Tapi, kalau kamu mau make ART bilang ke aku aja. Biar aku cari nanti."
"Siap."
*****
Versi videonya ada di tik-tok mimin ya, di
@za_storryy
With love
♥♥♥♥
Zoe
KAMU SEDANG MEMBACA
Tegar & Jingga
FanficTegar & Jingga adalah sepasang pasangan yang dijodohkan. Anehnya, bukannya marah dan menolak, mereka malah menyukai perjodohan mereka. Mereka juga membuat beberapa komitmen agar hubungan mereka selalu terlihat harmonis.
