"Mami!!!!"
Gue berkacak pinggang menatap dua gumpalan manusia yang empat tahun lalu gue keluarin dari perut gue. Apalagi si laki-laki, Tuhan.. kenapa dia mirip banget sama gue, sih? Benar-benar gak bisa di atur.
"No more candy for today. Got it, Kairo?"
Kairo Nathaniel, kacang kedua yang keluar. Wajahnya persis bapaknya, tapi kelakuannya kenapa 90% nurun dari gue sih?
Sedangkan kacang yang pertama, Kaira Nathalie. Wajahnya persis gue pas kecil, tapi 90% sifatnya mirip bapaknya.
Emang aneh nih dua kacang.
Sebagai single parent yang juga mengejar karir, gua sedikitnya merasa kesulitan. Meskipun begitu, gua masih bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka dengan layak. Gaji gue belum sebesar itu untuk memberi hal-hal mewah dan branded buat anak gue sendiri. Tapi setidaknya, hal-hal sederhana juga udah cukup bikin mereka mengerti. Dan kebutuhan sehari-hari tercukupi. Gak perlu mewah-mewah, kan?
"Kai need sweeties mami.. i really love it!" rajuknya.
Gue menghela nafas kecil. Selalu begini. "Kai, listen mami ya.. bukannya mami gak bolehin kamu makan permen. Tapi kemarin kamu udah ambil terlalu banyak, sebagai gantinya hari ini mami kasih milkshake, mau?" bujuk gue.
Mata Kairo berbinar. "Really? Are you serious, mami? Kai boleh minum milkshake rasa apapun yang Kai mau?" serunya dengan senang.
Gue mengangguk sebagai balasan. Membuat Kairo bersorak senang. Menarik sang kembaran, Kaira yang sedari tadi fokus dengan TV jadi ikut berputar-putar bersama. Ah, lucunya...
"So, first thing you guys need do...?"
"Pakai seragam!" seru Kairo dan Kaira dengan kompak.
Gue terkikik geli, mendengar suara cempreng mereka. Meskipun Kaira lebih pendiam di banding Kairo yang cerewet, tetap saja dia masih anak-anak yang masih ceria-cerianya. Pilihan gue tepat. Selama ini, gue merasa pilihan buat mempertahankan mereka adalah pilihan paling tepat. Entah itu Kaira dan Kairo, mereka berdua seakan matahari gue. Gak bisa bayangin kalo bukan karna mereka, mungkin gak ada alasan buat gue tetap berdiri kayak sekarang.
Dan ya, mungkin ketika melihat wajah Kairo yang semakin lama semakin mirip dengan dia, gue gak mempermasalahkan. Gimanapun juga kan, Kai anaknya meskipun sifatnya tuh anak gue banget. Juga Kaira, anak perempuan memang paling banyak mengambil gen ayahnya. Gue gak begitu heran sih saat tau golongan darah, sikap, fitur wajah, bahkan pola pikir Kaira benar-benar ayahnya sekali.
Gue mencoba berdamai dengan masa lalu. Gak ada yang harus gue sesali. Masa lalu ya, masa lalu. Biar hari ini dilewati dengan apa yang diinginkan hari ini.
"Mami, next week nanti bisa dateng? Kita ada pentas seni,"
Ucapan Kaira membuat aktifitas gue yang sedang menyiapkan bekal terhenti.
Oh iya, Kaira dan Kairo sekarang udah genap 5 tahun. Makanya gue udah bisa daftarin mereka ke TK. Sebelumnya, gue masukin ke Playground deket apartemen, cuman 2Kai itu gak betah. Jadilah gue lebih memilih membawa mereka ke Daycare tapi sesekali doang sih, gue lebih suka nitipin ke Lia haha.
"Bisa kok sayang. Yesterday, Miss Jia told me about it. Pulang sekolah nanti kita beli baju buat pentas seni kalian ya?"
Mata Kaira berbinar, tangannya terulur kearah gue. "Promise me?" Gue tertawa geli dan menautkan jari kelingking gue dengan jari kelingkingnya. "i promise, princess."
"MAMIIII HELP!!! THERE'S A KECOAK!!! KAI TAKUT SEKALI!!!!"
Sungguh, pagi yang damai.
Setelah acara kecoak di pagi hari yang membuat Kairo histeris, gue bergegas bersiap untuk kerja, sekalian mengantar dua kacang ini ke sekolah. Namun, anak kecil tetaplah anak kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
RBB | Kevin Moon
Fiksi Penggemar[alternate Universe] ❝I know that I need someone to look after me and all I do. But no one else makes me smile the way you do. You're a bad boy and you're bad for me❞ Sequel of Bad boy Kevin Moon ©jungsereal 2019 cover by @aquilaeee
