26. Happiness (1)

111 7 1
                                        











SELAMAT MEMBACA


•••
Ot7


Namaku Mina, tahun ini usiaku telah genap 17 tahun yang artinya aku masih menduduki bangku SMA. Sore ini aku pulang lebih cepat dari biasanya lantaran kafe tempatku bekerja part time sedang tutup. Rasanya menyenangkan akhirnya mendapat libur usai setiap hari mengerjakan hal yang sama di sana.

"Aku pulang," Mataku langsung menatap sosok paruh baya dengan tatapan menuntut ke arahku.

Ah benar, karena tidak bekerja hari ini aku jadi melupakan makanan yang seharusnya kubeli seperti biasa.

"Maaf Yah, Mina lupa makanannya."

Sebenarnya bukan hanya karena lupa, gajiku bulan ini telah habis untuk membayar biaya sekolah dan keperluan-keperluan untuk tugas sekolah lainnya.

"Keluar kamu! Jangan pulang tanpa bawa makanan!"

Menatapku yang masih mematung, tangan ayahku tak segan menarik lenganku kasar. Menyeretku keluar lalu menutup pintu dengan kasar, yahh ini termasuk hal yang biasa kualami jadi rasanya akan baik-baik saja meski aku benar-benar tak diperbolehkan masuk hingga besok pagi.

Pukul sebelas malam langkahku berakhir di tepi jembatan besar yang sepi, meski begitu tempat ini indah dengan sorot lampu di mana-mana.

Memandang aliran di bawah sana rasanya ada sesuatu yang memanggilku untuk melompat turun, namun lagi-lagi aku hanya akan menggeleng dan kembali sadar bahwa aku masih ingin hidup.

Meski ribuan kali aku meyakinkan diri untuk kuat, air mata ini kembali membohongiku. Hancurnya hatiku takkan pernah tertutup meski dengan apapun aku mencobanya. Seringkali aku menyesal hidup di dunia, namun setiap kali aku merasakan penyesalan itu, aku akan mengingat orang-orang yang tidak seberuntung diriku. Masih banyak orang di luar sana yang tak punya tempat tinggal, tak bisa makan setiap hari yang bahkan dengan kekurangannya itu mereka masih bisa bersyukur.

Tapi tetap saja, mengapa Tuhan terus mengujiku dengan hal menyakitkan ini? Tidak bisakah aku bahagia saja? Aku lelah, sungguh aku ingin menjalani hidup yang biasa-biasa saja tanpa tekanan seperti ini.

Entah sudah berapa lama aku menangis di sini hingga sekarang terdengar lonceng jam yang menandakan tengah malam telah berbunyi. Hawa dingin yang sejak tadi memelukku erat seolah melepaskanku dengan sukarela. Rasa hangat yang entah datang dari mana ini tiba-tiba saja menjalar menembus seluruh lapisan kulitku.

Rasanya semakin hangat hingga entah dari mana tujuh sosok pemuda telah berada di hadapanku. Melihat mereka yang melayang serta memancarkan cahaya putih rasanya wajar kan jika aku takut? Aku kian memundurkan langkah membawa diriku menjauh dari mereka.

Hingga suara serta senyum lembut pemuda dengan lesung pipi itu mengudara, "Apa yang mengganggumu malam ini, Nona?"

Tak bisa dipungkiri, meski takut, rasanya hatiku juga menghangat. Ini adalah kali pertama aku mendapatkan pertanyaan yang sarat dengan perhatian seperti ini.

"Hey, bukankah kita harus memperkenalkan diri dulu?" Sahut si pemuda yang memiliki gigi kelinci dan mata yang memancarkan binar indah.

"Oke, aku Seokjin," Aku akan mencoba menghafalnya, hal yang mencolok dari pemuda ini adalah bahunya yang lebar.

"Yoongi," Yang ini memiliki mata kucing dan kulit yang begitu putih.

"Hoseok," Pemuda ini memiliki senyum secerah matahari, hanya dengan melihat dia tersenyum rasanya aku turut merasakan kebahagiaan.

Oneshoot BTS [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang