7 : Empty House

393 35 4
                                        




"Daebak!"

"Aku menyukainya Namjoon-ssi" Sang CEO tersenyum lebar sambil bertepuk tangan.

"T-terimakasih Bang PD-nim..." Namjoon mengusap tengkuknya malu sambil ikut tersenyum.

"Maaf saya memasukkan adlibs dari bukan member"

"Tidak masalah untukku Namjoon-ssi"

"Hanya...nama temanmu itu tidak akan disebutkan dimana-mana"

"Kecuali ia resmi ikut dalam audisi"

"S-saya mengerti PD-nim..."

"Dan...."

"Tolong berikan temanmu itu bayaran yang sesuai" Bang PD kembali tersenyum lebar.

"Ah....terimakasih banyak Bang PD-nim"

Namjoon membungkuk berkali-kali sebelum keluar meninggalkan ruangan.



Hari itu Namjoon mengurungkan niatnya untuk berlama-lama di studio. Ia ingin segera menyampaikan kabar gembira ini pada Seokjin.

Hari masih belum terlalu gelap. Namjoon melajukan mobilnya dan berhenti di depan sebuah pagar putih.

Lampu terasnya menyala padahal matahari belum sepenuhnya tenggelam.

TOK TOK

Tidak ada jawaban.


TOK TOK TOK


"Seokjin? Kau di rumah?"

Ia melongok ke jendela yang tertutup tirai. Ruang tamunya pun gelap.

Lagi-lagi tidak ada jawaban.

"Ahh.....mungkin ia pergi...."

Langkah lunglainya bergerak menuruni tangga.

Sesekali ia menengok ke belakang.
Berharap tiba-tiba lampu ruang tamunya menyala dan Seokjin membuka pintu dengan wajah mengantuknya kemudian berkata 'aku ketiduran' dengan tawa khasnya.

Tapi tidak. Rumah itu masih sepi seperti tadi.

"Seokjin kemana?"


DRRTTT


'Aku sudah sampai...'
'Kau dimana?'

"Sial....aku lupa janjiku dengan Jackson!" Namjoon segera menuju restoran yang telah pria itu janjikan tadi siang.

'On my way'

Namjoon menjawab singkat.
Ia menoleh ke rumah itu sekali lagi sebelum benar-benar meninggalkannya.

"Masih marah ya?"
Tangan pria itu terjulur untuk menggenggam punggung tangan Namjoon yang berada di atas meja.

Ia tersentak dan menarik tangannya cepat.

"Joonie...maafkan aku..."

Jackson menatapnya sedih. Matanya mulai berkaca-kaca.

Ia tahu Namjoon lemah dengan air mata.

"Jangan menangis Jackson..."

Jawaban singkat dan datar itu meluncur dari mulutnya.
Biasanya ia membelai rambutnya dan tersenyum.

Malam ini benteng pertahanannya menguat.

Pikirannya terbagi antara kekasih yang berada di hadapannya dan pria yang baru saja beberapa hari ia temui.

"Aku.....merindukannya?"

Hello, Not GoodbyeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang