Namjoon kembali melamun di depan layar monitornya.
Ingatannya kembali pada malam dimana Seokjin tiba-tiba menjadi aneh.
Dan "Jangan sampai jatuh cinta padaku..."
Kata-kata itu terus terngiang di telinganya.
"Hyung!"
"A-apa Jimin-ah? Kau bilang apa tadi?"
"Hyuuunnggg...."
"Aku bicara panjang lebar dan kau tidak mendengar satupun keluhanku" Jimin mengerucutkan bibirnya kesal.
"Maaf...maaf..." Namjoon terkekeh.
"Aku bilang bagaimana jika fans tidak suka dengan laguku"
"Bagaimana jika menurut mereka lagu ini terlalu biasa saja"
"Jimin-ah....lagumu bagus kok"
"Kenapa kau jadi tidak percaya diri begini eoh?"
"Serendipity...."
"Tidak ada yang kebetulan di dunia ini...."
•
•
•
"Kau lelah Seokjin-ah?"
"T-tidak....tidak apa-apa Ken..."
"Sandeul bilang kau tidak boleh memaksakan...."
"Aku benar tidak apa-apa"
Seokjin tertawa sambil membawa cangkir-cangkir bekas kopi itu kembali ke belakang counternya.
"Shiftmu sudah hampir habis..."
"Ayo gantian..."
"Aku tidak mau kau sak..."
Sekjin buru-buru membekap mulut pria di depannya ketika seorang customer masuk ke dalam coffee shop itu.
"Jin?"
Namjoon mematung sebentar di pintu masuk ketika melihat mereka berdua.
Tangan Seokjin masih menempel di bibir pria itu sementara satu tangannya lagi dipegangi di depan dadanya.
"Silahkan kopinya..."
Seokjin yang sudah berganti pakaian duduk berseberangan dengan Namjoon yang memilih tempat dekat pintu keluar.
"Kau kerja disini sekarang?"
"Paruh waktu....hanya membantu temanku"
Ia tersenyum menatap Namjoon yang sedang menyeruput kopi tanpa menatapnya.
"Itu temanmu?"
"Ken......iya...dia pemilik coffee shop ini"
"Oh..."
"Oookayy.....kalau begitu aku pulang saja..."
"Sampai nanti Namjoon-ah..." Ia tersenyum melambai dan bergegas keluar dari cafe itu.
Namjoon hanya mengikuti langkah pria itu dengan kedua matanya.
Melihatnya berjalan cepat menyusuri trotoar dan berlari menyebrang jalan.
"Ahh...bodoh Kim Namjoon!" Ia berdiri dan berjalan cepat mengejarnya.
"Seokjin..." Namjoon menarik tangannya.
"Astaga Namjoon-ah....untung aku tidak berteriak" Ia terbahak sambil memukul lengannya.
"Ada apa?"
"Pekerjaanmu menyebalkan hari ini?"
"Atau Jackson mengganggumu?"
"Tidak...bukan..."
"Ini tidak ada hubungannya dengan semua itu"
"Seokjin...maaf...."
"Aku cemburu melihat kalian tadi"
"Namjoon-ah.....aku kan sudah bilang...."
"Jangan jatuh cinta....aku tahu...."
"Makanya aku minta maaf...." Ia menunduk.
"Baiklah..."
"Dimaafkan..."
Namjoon mendongak terkejut menatapnya.
"Semudah itu?"
"Aku terburu-buru Namjoon-ah....."
"Ada bazaar murah disana..."
Seokjin mengerucutkan bibirnya sambil menunjuk ke arah keramaian beberapa meter dari tempat mereka berdiri.
"Aiiisshhhh ini orang....aku sedang bicara serius..."
"Ayo!" Namjoon menarik tangannya.
"Namjoon-ah lihat..."
Seokjin mengambil mug besar berbentuk ikan paus berwarna biru.
"Eoh...hanya ada satu?" Namjoon mengangkat mug-mug lain yang terpajang di atas meja.
"Berarti ini hanya punyaku" Seokjin menyeringai dan membayar mug itu. Si penjual membungkus dan menyerahkan padanya.
Namjoon yang meninggalkan Seokjin kembali dengan dua buah es krim cokleat di tangannya. Ulurannya disambut dengan senang.
Mereka menikmati es krim itu sambil duduk di sisi taman.
"Seokjin-ah...lihat itu"
"Kaos couple"
"Agar kau ingat kencan pertama kita"
Namjoon menunjuk kaos berwarna putih bergambar kentang goreng di dadanya.
Suara wiper jendela itu kembali terdengar.
"Sejak kapan kau alergi kentang?"
"Dan....bawang putih" Ia kembali terbahak.
"Yyaaaahhh....kau ini orang Korea atau bukan" Namjoon terbahak.
Sebuah pukulan mendarat di lengannya hingga es krimnya terjatuh.
"Seokjin-aaahhhhh!"
Namjoon mengejar Seokjin yang sudah berlari saat es krim malang itu terlungkup di rumput.
Sesaat kemudian mereka berebut es krim seperti anak kecil di bawah pohon besar.
Berbagai macam tawa dan teriakan keluar dari mulut mereka.
Hingga akhirnya Seokjin melahap semua es krim miliknya tak bersisa dan mereka pun terbaring kelelahan.
"Hey..."
Namjoon kembali bangun dan menangkup pipi besar Seokjin yang masih berisi es krim dengan sebelah tangannya.
"Mmmmmm...." Ia menggeliat sambil memukul-mukul tangan Namjoon menahan tawanya. Hingga ia tersedak.
Ia berguling ke samping dan terbatuk.
"Jin...maaf...."
Seokjin masih tidak bergerak.
"Jin....." Namjoon menyentuh punggungnya hati-hati.
"Habiiisssss hahahaha....." Seokjin membuka mulut dan menjulurkan lidahnya.
Juluran lidah itu disambut oleh Namjoon.
Ia melumat sisa-sisa es krim cokelat di bibirnya.
Seokjin membalasnya. Menyisir rambut di samping kepala Namjoon dan menjambaknya pelan.
Suara lenguhan kecil meluncur dari bibirnya. Keduanya melepas ciuman itu dan terengah.
"Itu........untuk es krimku yang kau jatuhkan..."
