8 : Light

382 37 3
                                        




"Bagaimana keadaanmu?"

"Lemas...."
Seokjin memaksakan senyumnya ketika dokter muda yang juga sahabatnya itu masuk.

"Jin-ah...."
"Sudah kau pikirkan?"

Seokjin mengangguk pelan dan tersenyum.

"Biarkan saja seperti ini...."
"Terapi ini juga membantu bukan?"

Dokter itu mengerutkan dahi sambil memiringkan kepalanya kecewa.

'Seokjin-ah...'

'Aku ke rumahmu tadi malam tapi kau tidak ada...'

'Apakah kau sudah tidur atau sedang pergi?'

Pesan itu terkirim tanpa balasan.






Dua minggu sudah sejak Namjoon tidak melihat sosok periang itu.

Hampir setiap hari ia sengaja memilih rute pulang yang agak jauh dari biasanya hanya untuk memastikan Seokjin sudah berada di rumahnya.

Dan rumah itu masih sama seperti terakhir ia mengunjunginya.

"Yah....mungkin aku harus fokus pada Jackson saja sekarang..."




"Hey...tumben kau datang siang hari"

"Aku ingin mengajakmu makan siang..."

Jackson yang berjalan di lobby kantor Namjoon menghampiri dan merangkul pinggangnya.




Mobil yang dikendarainya meluncur pelan menyusuri sisi jalan.

Namjoon menatap cafe-cafe yang berjajar di sudut trotoar. Hingga sebuah pergerakan besar mengusik sudut matanya.

Pria bersweater putih itu terjatuh ketika seorang ibu-ibu menabraknya tergesa-gesa di trotoar.
Ia lalu membungkuk dan pergi meninggalkannya.

Tinggallah pria itu berlutut untuk memunguti belanjaannya yang berserakan di jalan.

"Seokjin......" Batinnya meronta.
Telapak tangannya menempel di jendela mobil yang terus berjalan.

"Ada apa sayang?" Jackson menoleh sebentar lalu kembali fokus menyetir.

Namjoon menggeleng sambil terus memperhatikan pria yang tengah berdiri menepuk-nepuk lututnya.

Ia benar-benar merindukan Seokjin.



Lagi-lagi Namjoon terburu-buru menyelesaikan pekerjaannya dan keluar dari studio. Tak sabar ingin bertemu Seokjin.




Senyumnya mengembang saat memarkirkan mobilnya di depan deretan pagar putih rumah yang dituju.
Gorden jendelanya terbuka menampakkan ruang tamunya yang terang benderang.



TOK TOK TOK
TOK TOK
TOK TOK TOK TOK TOK

Dengan tidak sabar ia mengetuk pintunya.

Harum masakan tercium dari tempat ia berdiri.

"Yyaaaahhhhh tidak tahukah aku sedang memasak..."

Umpatan halus terdengar samar-samar dari dalam.
Sesaat pintu pun terbuka lebar.

Pria itu masih mengenakan pakaian yang sama dengan tadi siang.
Berlapis selembar celemek berwarna pink dan sendok kayu yang masih digenggamnya di satu tangan.

"Namjoon-aahhhh!"
"Kukira siapa" Ia terbahak.

Suara tawa yang terasa sangat lama tidak Namjoon dengar.

Tak sabar ia pun memeluknya erat.

Hingga bau gosong tercium dari dapurnya.

"Andwaeeee!"



"Namjoon-ahhhh....lihat apa yang kau lakukan pada udangku!" Ia mendesah kecewa.

"Aahhhh....maaf Seokjin-ah...."
Sang tersangka hanya bisa mengusap tengkuknya dan meringis.



"Namjoon-ah..."

"Udangnya menempel di pan"

Seokjin sibuk mencungkil-cungkil makhluk kecil yang malang itu.

"Lihat...."

"Sebelahnya hitam...sebelahnya lagi putih" Ia mencicit.

Kemudian suara wiper jendela itu muncul dan tak berhenti.

Ia terbahak sambil memukul-mukul lengan pria yang masih merasa bersalah di sampingnya.

Perlahan Namjoon pun melebarkan senyum dan memiringkan kepalanya menatap Seokjin.


"Tuhan...salahkah aku jika menginginkan pria ini?"

Hello, Not GoodbyeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang