Haechan dan Mark. Kalau kata orang sekitar, mereka itu bagai Air dan Minyak, enggak bisa nyatu soalnya sangat kontras.
Haechan galak dan Mark kalem.
Haechan banyak bacot dan Mark minim bicara.
Haechan ditakuti dan Mark disenangi.
Walau begitu, kedua...
"Hadian sama Pak Markie lagi berantem, ya?" tanya Janez yang sedang mampir ke divisi Marketing.
Dia datang karena Jaeden atau sering dipanggil Jejed, salah satu staff di divisi Marketing, memanggilnya untuk meminta penjelasan terkait revisi kontrak tertentu.
Jaeden pun menoleh ke arah ruangan Hadian, ia bisa lihat wajah kusut atasannya dari balik pintu kaca tembus pandang itu. Walaupun dibekali dengan gorden untuk memberinya privasi, tapi Hadian selalu membuka gorden ruangannya untuk memantau timnya dari dalam sana. Iya, dia tipe atasan yang mengerikan itu.
"Bukannya mereka emang berantem setiap hari?" kata Jaeden bingung. Sebab yang ia dengar setiap harinya hanyalah Hadian melontarkan sumpah serapah kepada divisi Analyst, terutama kepada Markie.
Janez menggeleng-gelengkan kepalanya. "No, no, no. Lu liat tuh, Jed."
Janez menunjuk ke arah Hadian, tatapan Jaeden pun mengikuti ke arah mana jari telunjuk Janez tertuju.
"Kalau alis si Hadian naiknya cuman 30°, berarti dia cuman marah biasa, bukan lagi berantem sama Pak Markie. Tapi kalau alisnya udah naik sampai 45° atau lebih, berarti udah gak beres itu alias siap-siap diajak gelud," jelas Janez panjang lebar.
Jaeden malah makin bingung.
Tidak mengerti dari mana Janez dapat menyimpulkan teori aneh tersebut, karena ia sungguh tidak dapat menemukan perbedaan sudut-sudut alis atasannya yang disebut-sebut oleh Janez barusan.
.
.
.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Markie: "Makanya makan dulu, itu pusing gara-gara perut kamu kosong."
Hadian: "Kagak ih, orang gue emang belom laper."
Markie: "Hadian ...."
Hadian: "Anak barunya diterima?"
Markie: "Anak baru?"
Hadian: "Iya, yang lu bilang cantik kemaren itu."
Markie: "Oh ... baru lolos interview pertama, masih ada 2 interview lagi sama tes kesehatan. Jadi saya belum tau dia bakal diterima apa engga." Markie: "Dan yang bilang cantik itu Pak Aheng ya, bukan saya."
Hadian: "Oh gitu."
Markie: "Terus? Kamu mau tau apa lagi, Di? Saya kasih tau semua."
Hadian: "Gak ada ...."
Markie: "Affah iya?"
Hadian: "Gak lucu lo bangsat. Diajarin Janez ya ngomong kayak begitu?"
Markie: "Gak lucu tapi kamu ketawa."
Hadian: "Siapa yang ketawa? Orang gue keselek oksigen." Hadian: "... Terus siapa dong?"
Markie: "Apa? Yang ajarin saya ngomong 'affah iya?' bener kok, Janez yang ajarin."
Hadian: "haduh, bego ... bukan itu." Hadian: "Itu loh yang kemaren gue tanya."
Markie: "Saya gak punya gebetan dan orang yang menurut saya cantik itu kamu Hadian, kemaren padahal saya udah jawab tapi kamu malah bilang saya gak jelas."
Hadian: "Hah? Apa?"
Markie: "Ayo, makan. Saya tunggu di depan lift, ya."
Hadian: "Kie? Markie!"
Tut ... Tut ... Tut ...
"Setan." Hadian termenung menatap kosong layar ponselnya. Ia bisa rasakan wajah hingga telinganya memanas. "Gue kira kemaren dia manggil, ternyata lagi jawab pertanyaan gue?"
Hadian menggaruk rambutnya sendiri gemas. "Setaaaan lo Markie!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Oh? Udah baikan mereka?" tanya Janez, mampir lagi ke meja Jaeden karena ternyata ponselnya tertinggal di meja Jaeden.
"Siapa?" tanya Jaeden, menoleh ke arah mana Janez memandang dan ternyata ke ruangan si kepala department Marketing yang baru saja keluar dari ruangannya menuju Markie berada.
"Tuh, Hadian. Alisnya udah balik 30°," jawab Janez, tersenyum simpul.
"Gue masih gak bisa liat apa yang lo liat dah, Nez." Jaeden hela napas berat sambil geleng-geleng kepala.
"Mungkin karena mereka bertiga udah temenan dari jaman kuliah kali ya makanya si Janez bisa paham. Gue harus belajar nih dari Janez, biar bisa baca suasana hati si bos sebelum minta approval dokumen!" batin Jaeden.
"Gapapa, pelan-pelan aja. Kalo udah terbiasa juga lo pasti paham. Dah ya, gue mau ke kantin. Ikut ga, Jed?"
"Ikut deh, tapi tunggu bentar ya. Gue gak mau satu lift sama Tom & Jerry itu."