Ep 38 : Tahun Baru

7.3K 485 117
                                        

Tahun baru sebentar lagi tiba. Maka pada hari ini, tanggal 30 Desember, Markie dan Hadian sudah berada di bandara. Markie dengan tas jinjingnya yang berukuran medium, sedangkan Hadian dengan satu buah koper. Mereka duduk berdampingan sambil menyantap sebungkus Sh*hlin berdua sebagai menu sarapan mereka. Keduanya sedang menunggu penerbangan mereka menuju Semarang, hendak menghabiskan libur tahun baru bersama di kampung halaman orangtuanya Markie.

Baik Markie dan Hadian telah mengambil cuti sampai tanggal 2 Januari, sehingga mereka memiliki empat hari untuk menjelajah Kota Atlas tersebut berdua.

Baik Markie dan Hadian telah mengambil cuti sampai tanggal 2 Januari, sehingga mereka memiliki empat hari untuk menjelajah Kota Atlas tersebut berdua

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tidak butuh waktu lama di pesawat hingga mereka akhirnya dapat menginjakkan kaki di salah satu kota besar Jawa Tengah tersebut. Hati Markie terasa berdebar-debar gugup sekaligus semangat begitu kembali lagi ke tempat yang banyak menyimpan memori baginya, sudah hampir tiga tahun lamanya ia tak berkunjung. Apalagi dia yang biasanya datang kemari seorang diri, sekarang ada sang kekasih yang turut mendampingi liburan tahun barunya.

Tujuan pertama mereka adalah berkunjung ke rumah Bapaknya Markie.

"Bapak!" ujar Hadian riang begitu mendapati Bapak yang sedang duduk santai di teras rumahnya.

"Hadian!"

Bapak jelas terkejut atas kehadiran Hadian. Ia tidak diberitahu sebelumnya oleh Markie jika Hadian ikut bersamanya. Bapak pun berjalan cepat untuk segera memeluk pemuda manis itu, melewati sang putra kandung yang padahal berdiri tepat di sebelah Hadian.

Selesai menyalurkan rindu pada Hadian, Bapak lalu melirik ke arah Markie yang pura-pura acuh. Padahal jauh di lubuk hati terdalam, ia merasa rindu sekaligus lega melihat kondisi Bapak telah lebih sehat dan bugar setelah menjalani operasi. Maka Bapak tepuk pundak putra semata wayangnya itu sambil berdeham canggung.

"Welcome home, Kie."

.

.

.

Hari pertama di Semarang, mereka habiskan di rumah Bapak. Beristirahat, ngerumpi di teras, bermain gaple di ruang keluarga, hingga makan-makan bersama.

Malam ini, Bu Darmi telah menyiapkan banyak cemilan serta masakan khas Semarang dari mulai lumpia, bandeng presto, soto, dan sebagainya. Bisa dipastikan Markie dan Hadian sudah kenyang betul dibuat Bapak, mereka pun melanjutkan obrolan yang tak ada ujungnya di ruang makan sambil menyantap sepiring pisang goreng sebagai makanan penutup.

Tiba lah saatnya bagi Markie merasa gugup, ia sudah menanti-nantikan momen ini dan sedang mencari celah yang tepat untuk menyelipkan topik penting ini dalam pembicaraan mereka bertiga. Topik itu pula yang menjadi salah satu tujuan utamanya datang ke Semarang untuk menemui Bapak, ia pun mulai memberanikan dirinya untuk angkat bicara.

"Bapak."

Panggilan Markie berhasil membuat Hadian dan Bapak yang sedang asik mengobrol pun menoleh ke arahnya. "Ada yang mau Mas omongin."

CONTRAST | MarkHyuckCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang