Ep 19 : Begini Rasanya

8.5K 711 60
                                        

Image cr Pinterest

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Image cr Pinterest

"Iya, Jed. Coba lu komunikasikan sama Janez deh itu baiknya gimana, sebelum nih kontrak dieksekusi lebih lanjut."

Celotehan Hadian serta suara mengetik keyboard laptop itu seperti sebuah background music di kamar Markie. Benar saja, sepulang dari rumah sakit kemarin Markie diantarkan pulang dulu oleh Hadian, sebelum lelaki itu pulang ke rumahnya sendiri untuk mengemas beberapa barangnya persiapan menginap di rumah Markie. Hadian tidak akan membiarkan Markie beranjak dari tempat tidur selain untuk pergi ke toilet, ia melakukan segalanya dari mulai menyiapkan makanan dan beberes rumah. Bahkan Markie tidak diizinkan membuka laptop untuk sekadar mendistribusikan pekerjaannya yang tertunda kepada timnya. Hadian lah yang melakukan itu semua dengan bantuan Janez juga tentunya.

"Hadian."

"Apa? Mau minum?"

Markie menggeleng.

"Terus mau apa?"

"Saya bosen kalau duduk doang."

"Tidur."

"Baru bangun udah disuruh tidur lagi."

"Terus apa? Istirahat, anjir. Awas lu kalau minta laptop, gue masukin lu ke rumah sakit biar dirawat inap sekalian."

"Main gitar boleh gak?"

Kedua mata yang tadinya fokus menatap laptop, kini beralih menatap Markie tajam. Orang yang dilirik auto ciut, Markie kembali menggulung diri dalam selimut. Tidak lama kemudian Hadian bangkit dari tempat duduknya dan beranjak keluar dari kamar Markie, ia lalu kembali lagi dengan gitar kayu yang sudah agak tua itu.

"Nih," katanya menyerahkan gitar itu pada sang pemilik.

Markie langsung sumringah, sedangkan Hadian kembali ke posisinya semula, lanjut bekerja.

Lelaki berkacamata itu pun mulai memetik senar gitarnya, memainkan sembarang melodi sampai akhirnya ia temukan lagu apa yang ingin ia mainkan. Markie bersenandung pelan sebelum memulai lagu dengan kemampuan vocal seadanya, ia nyanyikan sebuah lagu dari band Sheila On 7 berjudul 'Seberapa Pantas' sambil diam-diam menatap Hadian yang duduk di depan tempat tidurnya.

Celakanya
Hanya kaulah yang benar-benar aku tunggu
Hanya kaulah yang benar-benar memahamiku

"Cia ilah, nunggu siapa sih Bapak Markie?" celetuk Hadian, memutar kursinya yang tadi membelakangi kini menghadap Markie.

Markie tersenyum masih sambil melanjutkan lagunya, ia saling tatap dengan Hadian seakan lagu itu adalah pesan yang secara tidak langsung ingin ia sampaikan pada lelaki di hadapannya. Tapi seperti biasa, Hadian tidak menangkap sinyal dari Markie dan malah turut bernyanyi. Ia jadi ingat waktu kuliah mereka, saat Markie, Hadian, Janez, dan beberapa teman lainnya tampil di acara kampus membawakan lagu ini bersama.

CONTRAST | MarkHyuckCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang