Haechan dan Mark. Kalau kata orang sekitar, mereka itu bagai Air dan Minyak, enggak bisa nyatu soalnya sangat kontras.
Haechan galak dan Mark kalem.
Haechan banyak bacot dan Mark minim bicara.
Haechan ditakuti dan Mark disenangi.
Walau begitu, kedua...
A/N: Ep kali ini panjang bgt narasinya hiks sampe 3000an words :) semoga gak bosen 🤲 happy reading semuanya!
----------------------------------
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
.
"Permisi, Pak. Kata Bang Jed, Pak Hadian manggil saya?" Jian masuk ke ruangan Hadian dengan takut.
Pasalnya hari ini sudah ada tiga orang yang ia dengar kena semprot oleh atasannya itu, ia tahu sebab ia dengar semuanya dari tempat duduknya. Posisi duduk Jian itu memang yang paling dekat dari pintu ruangannya Hadian. Sepertinya suasana hati Hadian sedang tidak baik, makanya Jian kembali takut melihat aura gelap yang menguar dari lelaki manis itu. Bisa ia lihat kening yang mengernyit serta bibir yang membentuk garis lurus, tanpa secercah keramahan sejak pagi tadi.
"Ini dokumen-dokumen yang lu kerjain kenapa lagi-lagi belom ada paraf lu semua?" tanya Hadian sambil mengulurkan dokumen tersebut. Jian dengan segera melangkah maju dan mengambilnya, ia meminta maaf atas kecerobohannya yang telah berulang kali ia lakukan. "Gua udah cek dan udah lengkap semua, cuman emang tinggal paraf lu aja."
"Maaf, Pak. Akan segera saya paraf dan kasih ke Pak Hadian lagi." Ia membungkukkan tubuhnya beberapa kali sebelum berlari kecil ke pintu keluar.
"Eh, eh, ngapain lu mesti ke meja lu dah paraf secuil doang? Di sini aja biar sekalian gua tanda tangan nanti, nih pulpen gua. Habis itu langsung kasih ke Analyst, ya."
Jian pun menurut, ia menerima pulpen Hadian pakai kedua tangannya. Ia duduk di bangku depan Hadian sambil membubuhi paraf pada setiap lembar dokumen tersebut. Diam-diam Jian mencuri pandang, ia perhatikan wajah serius atasannya yang fokus menatap layar laptop di depannya.
'Serem ... tapi lucu banget itu bibir manyun-manyun kalau lagi serius?'
'Wangi banget nih orang ....'
'Satu, dua ... tiga? Pak Hadian punya banyak mole ternyata.'
Jian bergumam dalam hati, tanpa ia sadari kedua manik galak itu telah menatapnya.