Ep 7 : Mantan (1)

9.2K 731 40
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°°°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°°°

Tidak sampai 5 menit setelah memberikan instruksi khusus kepada Janez, Hadian masuk ke ruangan Markie dengan langkah gontai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tidak sampai 5 menit setelah memberikan instruksi khusus kepada Janez, Hadian masuk ke ruangan Markie dengan langkah gontai. Markie lekas meletakkan bantal punggungnya di kursi yang hendak Hadian duduki, tidak lupa ia merapatkan tirai ruangannya agar tidak ada orang yang dapat melihat mereka berdua di dalam.

Sebagai sahabatnya sejak SMA, hanya Markie lah tempat Hadian bisa bercerita apa saja dengan nyaman. Lelaki yang sejak kecil dididik keras untuk menjadi sosok tegar yang tidak bergantung pada orang lain itu, nyatanya tetap membutuhkan sandaran kala ia hancur dan kehilangan arah. Hadian beruntung, ia punya Markie sebagai sahabat yang ia percaya untuk menunjukkan sisi rapuhnya tanpa takut dihakimi.

"Istirahat aja dulu di sini yang nyaman, saya udah atur biar enggak ada yang masuk dulu." Markie menyerahkan sebotol teh pucuk kepada Hadian yang masih saja berdiri tak bergeming di depan pintu.

"Gue mau langsung aja, Kie." ujar Hadian, kedua maniknya yang sudah sayu terlihat semakin sayu saja. Berbanding terbalik dengan bibir ranumnya yang justru membentuk senyuman kecil, masih berusaha terlihat tegar rupanya.

"Ya udah, sini."

Markie rentangkan kedua tangannya lebar, siap menyambut tubuh lesu Hadian ke dalam dekapannya. Tanpa ragu lagi, Hadian pun segera menabrakkan tubuhnya ke tubuh Markie. Ia tenggelamkan wajahnya pada dada Markie, mendengarkan irama jantung Markie yang terasa menenangkan. Sedangkan Markie, langsung merengkuh tubuh Hadian dan menepuk-nepuk punggung sempitnya. Wajahnya ia letakkan pada ceruk leher yang lebih muda.

Mereka terus bertahan pada posisi itu, sampai Hadian merasa baikan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mereka terus bertahan pada posisi itu, sampai Hadian merasa baikan.

"Dah, battery full!"

Hadian lepas pelukannya sembari merapikan kemejanya, sebenarnya sih dia lagi salting. Pelukan seperti tadi itu bukan yang pertama kali, di kala Hadian merasa gundah dan mellow, entah kenapa ia sangat membutuhkan pelukan untuk membuat perasaannya menjadi lebih baik. Tapi bukan sembarang pelukan, itu harus pelukan Markie. Walau sudah sering melakukan ritual aneh itu, tetap saja Hadian akan merasa salting setelahnya.

"Ada yang bisa saya bantu, Di?" tanya Markie, masih berdiri termanggu, Hadian geleng-geleng. "Terus kamu mau ngapain?"

"Tinggal gak usah dateng ke kondangannya, easy."

"Oke, kalau itu yang terbaik bagi kamu saya dukung."

TBC

A/N: hai semua, mohon maap update-nya lama. book kali ini chapter-nya agak random, jadi aku bingung mending publish yg mana dulu :') book ini juga mungkin bakal lebih panjang dari book aku sebelum2nya dengan cerita random yg kadang nyambung kadang oneshot 👍 yg jelas ini hanya kisah keseharian Markie, Hadian, dkk. semoga betah ya! Thank you buat yg udah baca sampai sini <3

CONTRAST | MarkHyuckCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang