"YESS, BONUSAN UDAH CAIR."
Suara menggelegar Jaeden dari mejanya berhasil mencuri perhatian karyawan lainnya. Sontak semua orang yang mendengar pun memeriksa ponsel masing-masing untuk membuktikan kebenaran perkataan Jaeden. Terdengar banyak ucap syukur dan bahagia di sana.
Kecuali satu orang, Jian si anak baru. Pasalnya hanya dia yang tidak mendapatkan notifikasi menggembirakan tersebut, wajar saja kan anak baru, kerja setahun juga belum.
"Kenapa nih pada happy?" celetuk seseorang yang tiba-tiba nongol di divisi Marketing 1. Tidak lain tidak bukan, it's Hadian! Pasti baru balik dari ngerecokin divisi Analyst nih dia.
"Bonusan udah cair, Pak," jawab Jaeden berjoget kecil. "Beli Setarbaks, ah~"
"Oh, ya? Ya udah, Jed. Pesenin gih ke bawah buat semuanya, buat Marketing 2 juga sekalian ya. Gue Ice Latte aja ... sama Raspberry Blackcurrant. Nih, kartu gue." Hadian mengorek kantong jasnya untuk mengambil kartu kreditnya dalam dompet, sebelum akhirnya ia serahkan pada Jaeden yang matanya sudah berbinar-binar.
"Mantap betul memang bos kita tercinta, si paling ganteng, si paling dermawan, si paling-paling."
"Gak usah banyak cincong, lu muji gua kalo ada maunya doang. Cepetan pergi sana."
"Siap, Bapak Hadian yang paling saya hormati, cintai, banggakan, agungk--"
"Gua geplak ya lu, Jed."
Jaeden langsung berdiri tuh jaga jarak dari Hadian yang siap banget mau geplak kepala dia, si bos pun cuman geleng-geleng terus masuk ke dalam ruangan dia. Jaeden langsung joget-joget gak jelas, tapi ternyata karyawan lain sama senangnya dengan dia. Hadian ini memang paling top kalau soal traktir anak-anaknya, gak peduli harga, dan emang gak jarang gitu dia traktir dua divisi yang dia pegang. Biasanya Hadian rutin tuh traktiran di hari bonusan, di hari raya apapun, pas ulang tahun dia, pas berhasil tanda tangan kontrak sama klien gede, dan di hari random saat dia good mood.
"Jian sayang, tolong tanyain semuanya satu-satu pada mau apa ya. Dicatet, terus lu ikut gue ke bawah bantuin gue bawainnya," titah Jaeden. Jian si anak baru tentu menurut dan mulai mengelilingi meja pegawai lainnya satu per satu buat mencatat pesanan mereka.
Tidak sampai setengah jam, Jian dan Jaeden kembali ke tempat mereka lalu membagikan minuman sesuai pesanan masing-masing.
"Bang Jed, ini sisa Ice Latte sama Raspberry Blackcurrant tadi pesanan Pak Hadian."
"Oh, kasih gih ke orangnya. Sekalian ini balikin kartunya," jawab Jaeden sembari menyeruput minumannya dengan nikmat.
"Eh? S-saya, Bang?" tanya Jian meragukan telinganya. Jaeden mengangguk sebagai jawaban.
"Gak usah takut. Pak Hadian gak gigit kok, paling cuman nampol." Jian makin ngeri aja dibikin Jaeden. "Bercanda, Jian. Udah sana buruan, sering-sering setor muka sama dia biar penilaian kinerja tahunan lo bagus."
Bukan itu masalahnya, tapi Jian ini takut banget sama Hadian. Dia banyak mendengar desas-desus mengerikan tentang atasannya ini yang membuat Hadian banyak ditakuti oleh divisi lain. Tentang betapa kerasnya dia, galak, perfeksionis, ketus, dan lain sebagainya. Ia juga beberapa kali berkesempatan menyaksikan hal itu sendiri seperti mendengar suara menggelegar Hadian yang mengomel di telpon, ekspresinya yang ketus, dan sumpah serapah lainnya jika kontrak atau dokumen lainnya di-return oleh divisi Analyst karena hal sepele.
Dengan langkah berat pun Jian menuju ruangan atasannya. Tangannya tremor, jantungnya berderu, padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun tapi rasanya seperti hendak menyerahkan diri untuk dipasung. Satu ketukan, dua ketukan, tidak ada jawaban dari dalam. Jian pun memberanikan diri untuk mengetuk sekali lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
CONTRAST | MarkHyuck
FanfictionHaechan dan Mark. Kalau kata orang sekitar, mereka itu bagai Air dan Minyak, enggak bisa nyatu soalnya sangat kontras. Haechan galak dan Mark kalem. Haechan banyak bacot dan Mark minim bicara. Haechan ditakuti dan Mark disenangi. Walau begitu, kedua...
