Ep 27 : Kangen

7.7K 621 27
                                        

"Jangan pernah nyakitin diri lo buat gue lagi, ya?"

Satu kalimat dari Hadian tersebut membuat Markie lekas menelponnya, ia bertanya apa maksud dari perkataan Hadian. Maka yang ditanya pun merasa tidak ada yang perlu ia sembunyikan, ia memberitahu kepada Markie tentang cerita dari Liam. Hadian juga melarang Markie untuk meminta maaf, asalkan Markie jangan sampai mengulanginya lagi. Ia mungkin bisa sedikit memahami alasan Markie tidak pernah memberitahunya mengenai kisah itu, yang jelas Hadian tidak akan meminta penjelasan lebih sebab ia tahu hal tersebut dapat melukai perasaan Markie.

"Janji, ya?" ucap Hadian melalui telpon.

"Hmm ...." Markie rasanya enggan menjawab. "Saya enggak janji, tapi akan saya usahakan."

"Ish, batu banget sih lo." Hadian mendecak kesal. Kalau saja si cowo berkacamata itu ada di hadapannya, sudah Hadian cubit lengan Markie. "Pokoknya gue gak mau ada pengorbanan dalam hubungan ini, gue mau kita sama-sama bahagia."

Markie tersenyum dari tempatnya sebelum memberikan Hadian jawaban.

"Iya, Hadian."

.

.

.

Jum'at malam yang sunyi, mobil sedan Hadian telah siap membelah jalan tol menuju Bandara Soekarno-Hatta seorang diri. Ia baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya, kemudian langsung mengganti kemejanya dengan selembar kaos yang sengaja ia bawa. Tidak lupa menyemprotkan tubuhnya dengan parfum, sebab seharian ini ia merasakan cuaca di Jakarta teramat terik.

Hadian memeriksa jam pada ponselnya, waktunya tersisa satu jam saja sebelum pesawat kekasihnya tiba kembali di tanah Jakarta. Sesuai janjinya, ia akan menjemput Markie (sekaligus Jaeden) di Bandara.

Hatinya terasa bergemuruh, ia tidak tahu apa sebabnya. Mungkin percakapannya dengan Liam semalam membuatnya agak terguncang, Hadian tidak bisa membayangkan wajah menangis Markie waktu itu. Terakhir kali ia melihat Markie menangis itu hanya pada saat sepeninggal Ibu lelaki itu, dan sungguh Hadian tidak pernah ingin melihat ekspresi Markie yang seperti itu lagi. Itu membuat hatinya sakit.

Hadian tidak pernah menyangka kalau ia pun telah menjadi salah satu penyebab pemuda baik hati itu terluka sampai harus menangisi dirinya.

Lelaki berkaos putih itu berdiri di depan pembatas pintu arrival, menantikan kedatangan kedua sosok lainnya sambil menguyah sepotong roti yang sudah ia beli

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lelaki berkaos putih itu berdiri di depan pembatas pintu arrival, menantikan kedatangan kedua sosok lainnya sambil menguyah sepotong roti yang sudah ia beli. Perutnya terasa lapar karena belum sempat makan malam, rencananya sih dia mau makan malam bersama Markie dan Jaeden sekalian jalan pulang.

Tidak sampai setengah jam menunggu, Hadian akhirnya dapat melihat wajah sumringah Markie yang melambaikan tangan ke arahnya. Ia tersenyum tipis dengan hati yang semakin berdebar hebat, kemudian melangkah cepat menghampiri sosok itu. Markie merentangkan kedua tangannya, lantas Hadian menghambur ke dalam pelukan hangat kekasihnya.

CONTRAST | MarkHyuckCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang