Haechan dan Mark. Kalau kata orang sekitar, mereka itu bagai Air dan Minyak, enggak bisa nyatu soalnya sangat kontras.
Haechan galak dan Mark kalem.
Haechan banyak bacot dan Mark minim bicara.
Haechan ditakuti dan Mark disenangi.
Walau begitu, kedua...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Markie bersyukur bisa merasakan segala versi hubungan bersama Hadian.
Jadi kakak kelasnya sudah pernah, jadi teman seangkatannya sudah pernah. Jadi sahabatnya sudah pernah, jadi guru lesnya sudah pernah. Jadi teman sekolah, teman kuliah, sampai jadi rekan kerjanya pun sudah pernah. Jadi pacarnya juga sudah pernah dan kini dia bahkan bisa merasakan menjadi suaminya Hadian juga.
Dia pikir dirinya cukup beruntung, sebab pasti tidak banyak orang di dunia ini yang memiliki kesempatan luar biasa itu seperti dia.
Tapi satu hal yang pasti, apapun status mereka, selama itu pula perasaan Markie terhadap Hadian tetap sama.
Markie jatuh cinta pada Hadian dalam segala versi.
.
.
.
Sebenarnya, ada begitu banyak perubahan dalam kehidupan Markie setelah seorang Hadian yang selalu ia dambakan itu masuk ke kehidupannya secara resmi.
Pertama, ia tidak lagi makan sendirian di rumah.
"Kenapa? Kurang garam, ya?"
Lamunan Markie terpecah kala orang yang sedang ia pandangi parasnya sedari tadi tiba-tiba mengajaknya bicara. Ia pun langsung menggelengkan kepalanya dan lanjut menyuapkan sesendok nasi goreng buatan sang suami ke dalam mulutnya dengan lahap. Saat ini kedua pasangan sejoli itu tengah menikmati brunch mereka di satu meja yang sama, keduanya sama-sama baru bangun di pertengahan hari akhir pekan mereka.
"Enak banget, Di," jawab Markie dengan suara agak serak khas orang bangun tidur, tidak lupa beri senyuman puas sambil mengangkat jari jempolnya.
"Semua aja kamu bilang enak."
"Loh? Emang betul kok. Sejak nikah sama kamu rasanya gizi aku terpenuhi, haha."
Hadian tidak menjawab namun kepalanya tertunduk ke arah piringnya sendiri, menyembunyikan senyuman malunya akibat salah tingkah menerima pujian dari suaminya itu.
Tapi Markie bukannya melebih-lebihkan ucapannya. Walaupun sudah puluhan tahun tinggal sendiri, kemampuan memasaknya tidak pernah berkembang. Dulu menu sarapannya hanya roti panggang atau semangkuk cereal saja atau jika ada waktu untuk lari pagi, baru lah Markie biasanya sekalian membeli sarapan di luar. Ia juga berlangganan catering untuk makan siangnya, sedangkan makan malam biasanya beli di luar sekalian jalan pulang dari kantor atau memesan secara online.
Dan sekarang, dia tidak perlu melakukan semua itu lagi sebab kini ada Hadian yang hobi memasak selalu siap menyajikan beragam menu makanan tiga kali sehari untuknya.
"Hari ini kita mau jalan-jalan atau di rumah aja?" tanya Markie membuka obrolan.