Haechan dan Mark. Kalau kata orang sekitar, mereka itu bagai Air dan Minyak, enggak bisa nyatu soalnya sangat kontras.
Haechan galak dan Mark kalem.
Haechan banyak bacot dan Mark minim bicara.
Haechan ditakuti dan Mark disenangi.
Walau begitu, kedua...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
.
Hari itu, kebetulan divisi Analyst yang Karen kenal sedang pergi survei ke lokasi klien dan hanya menyisakan Karen si anak baru sendiri. Ia sebenarnya sudah cukup memahami pekerjaannya, namun ia ingin melancarkan rencananya untuk mendekati si bos yang terkenal ganteng dan baik itu. Sudah hampir memasuki minggu ke-4 sejak Karen pertama kali mulai bekerja di sini, satu kali pun dia belum pernah berkesempatan berbicara hanya berdua saja dengan atasannya.
Meskipun ada rasa gugup sebab bagaimana pun Markie adalah atasannya, Karen tetap mencoba memberanikan diri. Mumpung sedang tidak ada orang lain, pikirnya. Ia lalu berjalan mendekati ruangan Markie dengan membawa laptopnya, rencananya ingin pura-pura menanyakan sesuatu terkait pekerjaan.
Karen mengetuk pelan pintu ruangan Markie sampai terdengar suara pria itu membolehkannya masuk.
"Permisi, Pak." Kepala Karen menyembul dari celah pintu.
"Kenapa, Karen?" tanya Markie tenang, tapi hati Karen yang dibuat gila.
Penampilan Markie hari ini rasanya lebih ganteng dari biasanya. Walaupun pria sederhana itu hanya mengenakan kemeja batik dan kacamata bulat, yang jauh dari kata 'keren' atau 'seksi', malah lebih terlihat selayaknya pria usia 30 tahunan yang tidak begitu memperhatikan penampilan. Tapi entah bagaimana, aura Markie meneriakkan kata 'GANTENG' ... atau itu hanya perasaan Karen saja?
"S-saya ada pertanyaan, Pak. Kebetulan senior yang lain lagi pada pergi."
"Oh, gapapa kok Pak. Sebagian besarnya saya sudah cukup paham, cuman mau tanya ini aja Pak buat memastikan ...."
"Sini duduk aja, Karen. Kamu jauh banget, saya engga keliatan."
"Eh, iya Pak. Maaf," kata Karen berjalan ragu lalu duduk di kursi tepat di hadapan Markie. Baru kali ini rasanya ia berada di jarak sedekat ini dengan atasannya itu.
Astaga, harumnya semerbak. Bukan aroma mencolok, namun aroma segar seperti gabungan aroma Bergamot, Aldehyde, dan aroma uang. Eh? Ya, Karen tahu itu aroma parfum branded mahal.