Balkon lantai dua. Satu cangkir kopi susu, satu cangkir teh manis hangat. Suara derit dua bangku rotan.
Dua laki-laki di pertengahan usia tiga puluhan itu duduk sebelahan sambil memandang langit berwarna jingga di Minggu sore. Kali ini asbak di atas meja masih dalam kondisi bersih mengkilap, sebab sedang tak ada yang merokok dari keduanya. Satu lelaki berkacamata terlarut dalam melodi dari senar gitar yang ia petik, satu lelaki lainnya turut bersiul mengikuti irama.
Dua sobat, Markie dan Janez, menghabiskan waktu bersama lagi seperti orang jomblo di penghujung akhir pekan mereka. Keduanya sama-sama lagi ditinggal pacar hari itu. Hadian sedang mengikuti workshop di daerah Bogor, Jaeden sedang pergi bersama keluarganya karena dia baru gajian. Bosan menyerang Janez si anak rantau yang jauh dari keluarga, memutuskan untuk mengganggu waktu senggang sang atasan, dia mampir dadakan dengan membawa empat kotak Pizza ukuran besar beserta printilannya (garlic bread, potato wedges, dan choco puff).
Dari pagi mereka hanya makan Pizza yang tak kunjung habis sebagai sarapan, makan siang, dan sepertinya akan jadi menu makan malam mereka juga nanti. Salahkan Janez yang terbuai promo hingga belanja berlebih, berakhir membuat sisa Pizza tersebut kembali dalam kotak di atas meja makan. Kini keduanya hanya nongkrong sambil bertukar cerita di balkon rumah Markie, rutinitas yang sering mereka lakukan dulu saat keduanya masih sama-sama belum punya pacar.
"Seriusan si Hadian udah ngenalin lu ke bokapnya, Pak?" ucap Janez terkesiap penuh drama. "Terus, lu sendiri gimana Pak? Udah kasih tahu bokap lu tentang Hadian?"
"Belum, tapi mungkin segera. Libur tahun baru ini rencananya saya bakal pulang kampung, mau lihat kondisi Bapak juga setelah operasi," jelas Markie masih memetik senar gitarnya memainkan sembarang melodi sebagai musik latar mereka sore ini. "Nah, Hadian katanya mau ikut saya ke Semarang. Kayaknya pas itu juga saya bisa sekalian kenalin Hadian sebagai pacar saya ke Bapak."
Janez mengangguk-angguk dan tersenyum bangga, ia berikan dua jari jempolnya kepada Markie. "Hebat. Gue saksi hidup kisah percintaan kalian, gak nyangka lo bisa sampai di tahap ini juga Pak."
Lelaki berkacamata itu menertawakan pujian Janez untuknya, tapi berkat perkataan kawan seperjuangannya sejak jaman kuliah itu pula Markie jadi melihat kembali perjalanan asmaranya dengan Hadian.
Sangat panjang, sebab belasan tahun itu bukanlah waktu yang sebentar. Tiga kali hubungan mereka hampir kandas, tapi takdir seakan tak pernah lelah untuk terus menyatukan mereka.
Pertama di hari Markie menghilang setelah Ujian Nasional di SMA, tapi Hadian menemukannya dan menyelamatkannya. Kedua ketika Hadian memutus kontak duluan setelah hari sidang skripsinya, tapi mereka dipertemukan lagi waktu wisuda dan malah diterima kerja di perusahaan yang sama. Ketiga ketika mereka bertengkar tempo lalu, tapi Markie datang pada Hadian dan memutuskan untuk mempercayai kekasihnya itu sepenuhnya.
Meski perjalanan mereka cukup rumit dan beberapa kali terasa pahit, namun di sini lah Markie dan Hadian sekarang. Tidak ada perjuangan dan penantian yang sia-sia, sebab pada akhirnya kini mereka bersama dengan cinta yang saling berbalas.
"Habis itu apa, Pak?" tanya Janez sambil menyesap kopi hitamnya sebelum meletakannya kembali di atas meja. "Pacaran udah, kenalan sama orangtua juga udah, umur udah mateng, kalian berdua sama-sama mapan lagi."
Lelaki berkacamata itu berhenti memainkan gitarnya, ia lalu tertawa canggung sambil meletakkan gitar itu atas pangkuannya. "Saya belum tahu, Nez. Pacaran juga masih seumur jagung."
"Lah, walaupun baru bentar juga tapi kalau udah klop mah tunggu apa lagi Pak?"
Markie tertawa, ia sama sekali tidak menyanggah kata-kata Janez. "Kamu sendiri gimana, Nez?"
KAMU SEDANG MEMBACA
CONTRAST | MarkHyuck
Fiksi PenggemarHaechan dan Mark. Kalau kata orang sekitar, mereka itu bagai Air dan Minyak, enggak bisa nyatu soalnya sangat kontras. Haechan galak dan Mark kalem. Haechan banyak bacot dan Mark minim bicara. Haechan ditakuti dan Mark disenangi. Walau begitu, kedua...
