Haechan dan Mark. Kalau kata orang sekitar, mereka itu bagai Air dan Minyak, enggak bisa nyatu soalnya sangat kontras.
Haechan galak dan Mark kalem.
Haechan banyak bacot dan Mark minim bicara.
Haechan ditakuti dan Mark disenangi.
Walau begitu, kedua...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di suatu malam dingin yang gerimis, berdirilah Markie bersandar pada gagang balkon rumahnya sembari menyesap sebatang rokok. Hari itu dia baru saja pulang dari kantor, pulang sendiri pakai jas hujan walau Hadian selalu siap sedia menawarkan tumpangan di mobilnya setiap kali hujan turun. Tapi hari ini, Markie ingin pulang sendiri.
Pikirannya sedang kalut, maka temannya malam ini sudah pasti gulungan tembakau itu. Padahal Markie sudah lama berhenti merokok, tapi akhir-akhir ini ia sering tidak bisa menahan dirinya. Maka seperti malam ini, lelaki di usia kepala tiga itu hanya berdiri termenung menatap rintik air hujan di hadapannya. Kalau ditanya apa masalahnya, Markie pasti tidak mau cerita karena ia khawatir akan membebani orang lain. Jadi ia akan memendamnya dan menyelesaikannya sendiri, sebab baginya masalahnya hanya dirinya sendiri yang dapat mengahadapinya.
Apalagi jika mengenai masalah keluarga.
Bapaknya Markie, sakitnya kumat lagi. Serangan jantung. Ia diberitahu oleh Bu Darmi, orang yang Markie pekerjakan untuk mengurus Bapak di kampung.
Tapi pria paruh baya itu terlalu keras kepala untuk mendengarkan putranya. Markie selalu menganjurkan Bapak agar datang ke Jakarta dan menerima pengobatan di rumah sakit yang lebih besar, tapi Bapak kukuh tidak mau meninggalkan kampung halamannya. Padahal Markie membeli rumah ini alih-alih tinggal di indekos seperti teman-temannya yang lain, ya karena niatnya ia mau tinggal di Jakarta bersama Bapak sebab segala akses ke rumah sakit dan keperluan lainnya lebih mudah di Ibukota bukan? Namun, Bapak masih saja tidak rela meninggalkan Ibu sendiri di sana.
Ibu yang sudah lama pergi dari dunia tepat setelah Markie lulus SMA.
Salah satu alasan Markie sempat gap year yang pada akhirnya membuat dirinya, Hadian, dan Janez menjadi teman satu angkatan selama masa perkuliahan meskipun ia lebih tua satu tahun.
Markie sebenarnya masih memiliki jatah cuti panjang, tapi secara kebetulan ia sedang memegang bukan hanya satu proyek besar, melainkan tiga. Bukannya ia tidak memprioritaskan Bapak, tetapi ia juga tidak bisa egois meninggalkan seluruh tanggung jawabnya pada rekan kerja yang lain. Janez tentu akan menjadi korban utama jika Markie memutuskan untuk cuti panjang di tengah hectic-nya situasi di kantor saat ini, ia tidak mungkin tega melakukan itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.