Haechan dan Mark. Kalau kata orang sekitar, mereka itu bagai Air dan Minyak, enggak bisa nyatu soalnya sangat kontras.
Haechan galak dan Mark kalem.
Haechan banyak bacot dan Mark minim bicara.
Haechan ditakuti dan Mark disenangi.
Walau begitu, kedua...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Baru saja Hadian hendak keluar dari ruangannya untuk menyapa si orang baru, pintunya sudah diketuk terlebih dahulu. Ia pun menoleh dan menemukan Jian membuka pintunya bersama seseorang di belakangnya.
"Permisi, Pak. Ini ada Kadep Marketing 3 yang baru, Pak William mau nyapa katanya." Jian persilakan sosok jangkung itu masuk sebelum meninggalkannya berdua dengan Hadian di dalam sana.
Lelaki tinggi itu tersenyum ceria sambil mengulurkan tangan kanannya, sedangkan Hadian justru tampak sedikit terkejut sebab orang ini terasa sangat familiar.
"Lama tak jumpa, Hadian. Masih ingat kau sama aku?" tanya orang itu. Hadian segera menjabat tangannya, sambil terus berpikir dimana gerangan ia pernah menemui orang itu. "William loh aku, dulu sih jaman kuliah kalian panggil aku Liam."
"HAH? BANG LIAM YANG ITU?" sontak kaget Hadian, ia langsung tersenyum lebar dan memeluk singkat tubuh Liam.
William Bimantara Hasibuan, kakak tingkatnya semasa kuliah dulu. Hubungan mereka waktu itu cukup akrab, sebab Liam sempat menjadi pembina OSPEK-nya. Tidak pernah Hadian sangka akan satu perusahaan dengan seniornya itu, tentu ia merasa senang menyambut kehadiran Liam di sini. Mereka pun saling bertukar kabar sembari duduk di sofa yang berada dalam ruangannya Hadian, sampai akhirnya masuk pula satu sosok lagi.
"Hadian, ini cicilannya si PT Ne-- eh, ada tamu ya? Sorry, saya permisi." Janez yang baru masuk langsung mau keluar lagi, tapi Hadian hentikan lelaki itu.
"Nez! Sini, sini. Lo inget Bang Liam gak?" tanya Hadian. Liam juga langsung menoleh ke arah Janez, segera mengenali adik tingkatnya itu.
"Bah, ada si Janez yang ganteng kali itu pula di sini?" Liam langsung bangkit dari duduknya guna menyapa Janez. Pemuda mancung itu terperangah melihat sosok yang begitu ia kenal sedari dulu, maka Janez berikan high five pada Liam penuh semangat.
"Kalau tahu di sini semuanya almamaterku, udah dari dulu aja aku pindah ke Jakarta bah!" Logat kental Liam selalu berhasil mengundang tawa semua orang dalam ruangan itu.
"Bang, lo belom tahu aja kalau bukan cuman gue sama Hadian yang lo kenal di sini."