Ep 35 : Percaya (3)

6.1K 486 68
                                        

A/N: eh enih lagu D.O artinya cocok banget sama ep kali ini hiks. oke happy reading manteman 🙇🏻‍♀️

________________

________________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Markie telah berada di depan pintu unit apartment Hadian, ia datang ke sana langsung dari kantor

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Markie telah berada di depan pintu unit apartment Hadian, ia datang ke sana langsung dari kantor. Setelah mendapatkan izin dari sang pemilik unit untuk masuk, ia pun menekan kode pintu yang ternyata masih belum diubah oleh kekasihnya itu. Sedikit lega ia rasa, walau gundah masih lebih mendominasi hati dan pikirannya.

08020606.

Begitu masuk dan melepas sepatunya, ia menemukan lelaki berkaos putih sedang duduk bersandar pada sofa ruang tengah. Tanpa menoleh ke arah Markie sama sekali, Hadian mematikan televisi di hadapannya dan bergeming di atas sofa dengan tangan tergulung depan dadanya. Markie melangkah ragu mendekatinya, kemudian duduk di sebelah Hadian.

Keheningan menyelimuti atmosfir mereka, sampai akhirnya Markie buka suara duluan dengan kepala tertunduk.

"Aku lagi enggak baik-baik aja," ucap Markie sebagai pembuka, membuat Hadian meliriknya sedikit. "Kepalaku rasanya mau pecah."

"Aku bingung gimana bilangnya. Semakin aku pengen ungkapin semua ke kamu, semakin besar juga aku ketakutan," ucap Markie dengan suara pelan, namun masih dapat ditangkap oleh telinga Hadian.

"Apa yang lo takutin?" tanya Hadian. Tidak biasanya sosok kelewat mandiri, tegar, dan selalu dapat diandalkan seperti Markie menunjukkan sisi muramnya seperti ini. Kini ia berbicara dengan suara bergetar, serta kaki yang bergoyang gugup seperti penjahit. Butuh satu menit bagi Markie untuk menjawab pertanyaan Hadian setelah menghembuskan napasnya.

"Losing you?" ujarnya.

Hadian menoleh cepat, ia lalu memutar posisi duduknya jadi menghadap Markie. Tak peduli lagi dengan agenda merajuknya dua hari ini, ia arahkan wajah Markie dengan kedua tangannya agar lelaki itu menatap matanya.

"Selama masalah lo bukan tentang selingkuh, gue gak akan pergi dari lo Kie."

Kedua manik Markie otomatis terbuka lebar, ia langsung terkekeh dan mengambil tangan Hadian dari wajahnya untuk ia genggam erat. Ia tatap pipi gembil itu sambil tersenyum, menyadarkan betapa besar rindunya terhadap sosok di depannya ini.

CONTRAST | MarkHyuckCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang