My Bestie

339 19 0
                                    

"Harus berapa kali papah bilang. Kamu harus lebih rajin latihan pernafasan. Mau jadi apa kamu kalau nggak serius latihannya. Jangan harap kamu bisa istirahat kalau nyanyi kamu masih kaya gini!" Papah berteriak dan menggebrak meja.

Aku menatap Nana nanar. Gadis itu meremas dua tangannya. Matanya mulai berkaca. Aku menggigit bibirku. Delapan finalis lainnya hanya bisa diam. Mereka toh akan dapat semburan juga nanti. Termasuk aku. Sean melirikku, memberikan kode agar aku segera ambil tindakan penyelamatan.

Takut-takut akupun maju, mendekat ke meja Papah. Ragu aku menjejarkan diri di samping Nana. "Pah, apa aku bisa minta ijin berlatih berdua dengan Nana. Aku janji sebelum kami bisa bernyanyi dengan baik, kami tidak akan istirahat,"

Papah mengembuskan nafas lelah. Aku tahu emosinya masih belum stabil. "Ya udah sana. Pergi ke ruang samping. Setelah jam latihan temui papah. Papah akan lihat gimana progress kalian,"

Aku mengangguk. Menarik tangan Nana. "Terimakasih papah. Kami permisi,"

Aku dan Nana sudah pindah tempat ke ruangan latihan personal. Nana duduk merapat ke dinding, menenggelamkan wajah di sela dengkulnya. Badannya sesekali bergetar, tanda dia sedang menahan tangis. Aku menunduk, ayal menyentuh pundaknya.

"Kita hanya berdua di sini. Kalau mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan. Gue ada buat lo Na,"

Selang dua detik tangisnya pecah. Sekonyong-konyong gadis Betawi itu menubruk badanku. Memelukku dengan begitu erat. Aku merasa pundak kananku basah. Ya ya.. tak apa besti, mau air mata atau malah ingus kamu, aku akan menampung semuanya di pundakku. Silahkan puas-puaskan menangisnya sampai kamu tenang.

"Gue rasa gue nggak bakal masuk ke panggung STAR IDOLS Sav,"

"Hush! Ngomong yang bagus!"

"Tapi nafas gue bener-bener pendek. Gue nggak bisa mencapai nada tinggi. Pada modulasi di lagu ini harus ada nada tingginya. Loe tahu sendiri, tadi jatuhnya suara gue jadi fals karena nada gue nggak nyampai. Huhuhu. Gue mesti gimana,"

Nana masih sesenggukan. Aku mendorong pundaknya, agar berdiri tegak. "Na, gue bilangin ya. Sebuah lagu yang spektakuler itu itu nggak melulu harus pakai nada tinggi. Kalau pun loe nggak bisa capai nada itu. Ya sudah! Kita cari nada lain yang bagus yang sekiranya loe bisa mencapainya. Dah, sekarang gini aja. Coba loe nyanyi dulu sesuai dengan yang papah ajarkan."

"Tapi tadi udah gue coba dan nggak bisa...,"

"Ya dicoba lagi dong Na. Jangan menyerah. Daripada loe sedih dan nangis kaya gini mending kita manfaatin waktu kita buat latihan,"

"Oke gue coba,"

Nana mencobanya 3 kali dan ternyata dia memang tidak bisa mencapai nada yang diajarkan Papah. Aku mengitari ruangan, mencoba mencari akal. Di part modulasi yang Nana tidak bisa mencapainya, harus diganti dengan improvisasi yang lebih sederhana. Nana tidak bisa memaksakan sesuatu yang dia tidak bisa menguasainya dengan baik. Well, mungkin dia akan melakukannya dengan baik, jika dia memiliki waktu yang cukup untuk berlatih. Tapi waktu kami tinggal 2 hari lagi. Waktu sesingkat itu tidaklah cukup menurutku untuk Nana bisa menaklukkannya.

Yach! Aku melentikkan jari. Menemukan sebuah nada sederhana yang menurutku Nana bisa mengeksekusinya dengan baik. "Na..Na.. sini...sini!"

Nana mendekat.

"Gimana kalau kita buat modulasinya kaya gini." Aku mencoba menyanyikan part itu.

Nana manggut-manggut dengan senyum yang menurutku teramat sumringah.

"Ya Allah kesayangan. Darimana loe dapat nada seindah itu?" Nana langsung memelukku. Aku seketika melepaskan pelukannya. Jujur sudah kenyang aku hari ini berpelukan dengan Nana.

"Ya gue harus berterimakasih pada jurusan kuliah yang  gue ambil. Dosen gue pernah mengajarkan bagaimana melakukan improvisasi jika menemui masalah di nada tinggi,"

"Oke-oke. Gue coba ya."

Nana mulai menyanyi dari intro, verse, bridge, chorus dan ketika dia berada di modulasi, dia mencoba menyanyikannya sesuai ideku. Aku tersenyum. Walau mungkin tidak sebagus nada aslinya, tetapi setidaknya Nana dapat menyanyikannya.

Saat Nana menyelesaikan lagunya, gadis itu meloncat-loncat kegirangan. Sekali lagi dia memelukku. Kali ini teramat erat. "Terimakasih Sav. Gue nggak tahu niat loe bantuin gue yang notabene lawan loe. Tapi gue yakin loe tulus bantuin gue."

"Na, kita memang lawan di atas panggung Na. Tapi bagi gue. Ajang ini nggak melulu soal pertarungan mimpi diantara kita. Tapi juga pertemuan persahabatan diantara gue dan loe. Jadi nggak ada alasan bagi gue buat nggak bantuin loe,"

Nana melepaskan pelukannya. "Tahu nggak Sav, gue ketemu loe masih beberapa minggu. Tapi gue ngerasa udah lama banget sahabatan sama loe. Terimakasih,"

Aku menggangguk dalam senyum tipis. Kalau boleh jujur Nana adalah satu hal yang harus kusyukuri diantara beribu kesulitan yang masih harus kuhadapi.

Aku juga berterimakasih karena sudah jadi temen terbaik beberapa minggu ini. Kuharap seterusnya kita bisa jadi sahabat Na.

<<>>

IDOLS IN LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang