"Kamala, tetap jaga batasanmu. Ingat, mata-nya berada dimana-mana."
Kalimat penuh peringatan itu terus terngiang di telinga Kamala, kalimat yang selalu saja di dominasi dengan kata-kata yang sarat akan sebuah ancaman. Memerintah—memaksanya untuk selalu patuh terhadap peraturan tak kasat mata yang memang sudah Dia ciptakan sebelumnya.
"Aku tahu."
Kamala benar-benar di buat tidak berdaya, ingin memberontak pun rasanya sudah tidak bisa—semuanya pasti akan berakhir sia-sia. Dua tahun bersama dengan Benjamin tidak serta merta membuat hidup Kamala menjadi tenang. Dia, Benjamin terus saja membuatnya hidup di bawah bayang-bayang ketakutan. Kehidupan normal miliknya sudah direnggut dengan paksa—menyisakan rasa hampa dan takut pada saat berhadapan dengannya.
Agya mengangguk puas mendengar jawaban Kamala yang sesuai dengan espektasinya. "Ayo, dia pengen banget ketemu sama lo."
Kamala membelalak—terkejut dengan apa yang Agya sampaikan. Oh, ayolah, ini masih sangat pagi sekali untuk mereka bertemu. Kamala masih ingin menikmati kehidupan bebasnya tanpa bertemu dengan dia.
Kamala menggelengkan kepalanya—menatap Agya dengan tatapan permohonan. Mencoba menarik simpati perempuan yang di perintahkannya untuk selalu menjaga Kamala.
"Jangan lakukan itu Kamala, mari bergegas Benjamin tidak suka menunggu lama." Tukas Agya dengan tatapan tajam miliknya. Kamala terdiam, tidak bisa berkutik sama sekali. Keinginan Benjamin bersifat mutlak dan Kamala di wajibkan untuk selalu menuruti semua perintahnya.
Kamala memilin jari-jari miliknya gugup—apa yang harus Kamala lakukan? Kamala sangat tidak ingin bertemu dengan Benjamin, tapi jika menolak, entah siapa lagi yang akan menjadi korbannya kali ini. Benjamin itu kejam, jahat sekali, Ia bahkan rela mengorbankan banyak orang demi terlaksanakannya kepentingan pribadinya—itu salah satu fakta yang membuat Kamala enggan untuk bersama.
Mengabaikan rengekan Kamala, Agya sedera mengandeng lengan Kamala—membawanya menuju sang tuan yang sudah menunggu. Agya segera bergegas, Ia tidak mau membuat dia menunggu terlalu lama. Kamala hanya pasrah, ketika tubuh mungilnya di paksa untuk mengimbangi langkah Agya yang membawanya menuju gudang belakang—tempat dimana dia berada.
Agya mendorong pelan punggung Kamala, membuat sosok cantik itu sedikit terdorong ke depan. Mendongakkan kepala—pemandangan pertama yang Kamala lihat adalah Benjamin yang tengah menatapnya dengan tatapan rumit, Kamala mencoba untuk menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Mencoba menebak apa saja yang tengah dia pikirkan.
Benjamin menggerakkan jemarinya, memberikan perintah pada Kamala untuk mendekat ke arahnya. Tubuh Kamala bergetar takut—menatap Benjamin yang terlihat tidak sabaran. Kamala sangat ragu untuk sekedar mendekat. Benjamin mengetatkan rahangnya, kedua netra miliknya seolah mengancam—jika Kamala tidak segera mendekat ke arahnya, maka Ia bisa melakukan apa saja yang bisa membuat Kamala melakukan apa yang di perintahkan.
"Kamala, jangan malu-malu! Cepat datangi Benjamin, jangan membuatnya menunggu terlalu lama." Ucap Natan dengan senyuman yang sarat akan ancaman. Tubuh mungil Kamala bergetar pelan—hatinya benar-benar tengah di landa kebimbangan.
"Kamala," desis Benjamin tajam.
Tersentak pelan—Kamala menatap Benjamin dengan sorot mata ketakutan. Tanpa pikir Panjang, kedua kaki mungil miliknya segera menghampiri Benjamin, mendekat. Melihat Kamala yang mematuhi perintahnya membuat Benjamin tersenyum puas, matanya menyiratkan rasa bahagia, sekaligus bangga.
Merasa Kamala sudah berada dekat dengan jangkaunnya, Benjamin menarik lembut lengan Amara, membawa tubuh mungil itu untuk duduk di pangkuannya. "Jadilah gadis yang penurut," ucap Benjamin penuh dengan ancaman. Kamala memekik tertahan, kedua matanya melirik kea rah teman-teman Benjamin yang tengah menyaksikan interaksi di antara mereka.
Seno terkekeh pelan, melihat interaksi sepasang kekasih ini. "Jangan galak-galak Ben, pacar lo bisa ketakutan." Kamala semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam ketika mendengar perkataan Seno. Benjamin semakin mengeratkan pegangan tangannya pada pinggang Kamala, membuat Kamala semakin sesak di buatnya.
"Seno benar, kucing kecil lo itu bisa aja lari karena ketakutan," sahut Steven dengan tawa menggelegar. Dari semua teman Benjamin, hanya Steven yang menurut Kamala berbeda. Steven merupakan satu-satunya teman Benjamin yang berasal dari etnis Tionghoa. Kulit nya putih pucat dengan mata sipit yang semakin menghilang ketika tertawa.
Benjamin mengelus pelan surai panjang milik Kamala, membawa kepala Kamala semakin menempel dengan dada bidang miliknya. Kamala bisa mendengar detak jantung Benjamin yang tidak berturan. Dalam poisi yang seperti ini membuat Kamala merasa tidak nyaman, menggeliat pelan – Kamala menjadikan kedua lengan mungilnya untuk menjadi tumpuan agar bisa terbebas dari kukungan Benjamin. "Kak lepas," lirih Amara dengan masih berusaha untuk melepskan lilitan lengan Benjamin pada pinggangnya.
"Kita cabut dulu Ben, lo berdua bisa leluasa." Ucap Seno sembari menggerling nakal, teman-teman Benjamin pergi diikuti dengan Agya yang turut membuntuti mereka.
Kini hanya tersisa Benjamin dan Kamala, Benjamin mengengkram rahang Kamala, membawa wajah ayu itu untuk menatap ke arahnya. Benjamin terdiam, menyelami kedua netra milik Kamala yang tengah menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan ketakutan—Kamala tampak sangat waspada.
"Be a good girl, Kamala. Or, you will regret something that might happen, because of your disobedience."
Kamala membelalak mendengar kalimat yang sarat akan ancaman yang keluar dari mulut Benjamin. Menatap Benjamin dengan tatapan takut, Kamala tahu, sangat-sangat tahu mengenai Benjamin dan semua sifat gila yang ada pada dalam dirinya. Benjamin bukan manusia baik hati yang penuh dengan pengampunan, Benjamin itu monster—monster mengerikan yang siap mengorbankan apa saja dan siapa saja yang berusaha untuk menghalangi langkahnya. Benjamin, sosok yang sangat mengerikan yang penuh dengan perhitungan di setiap keputusan yang diutarakan.
Kamala jelas tahu, dunia Benjamin tidak sesederhana kelihatannya. Banyak sekali hal-hal yang mungkin tidak berani Kamala bayangkan.
Benjamin dan segala kuasanya adalah sesuatu yang sangat Kamala takutkan, dua tahun bersama tidak juga membuat Kamala mengetahui seluk-beluk kehidupan Benjamin yang sebenarnya. Tapi yang jelas, Kamala sudah tidak dapat mengelak. Takdirnya hanya bersama dengan Benjamin, hidupnya, masa depannya, semua miliknya adalah milik Benjamin juga.
Kamala gemetar di dalam rengkuhan tubuh besar milik Benjamin, matanya berkaca-kaca dengan lengan yang mengenggam erat ujung seragam milik Benjamin. Biar saja kemeja rapi itu menjadi kusut yang terpenting Kamala bisa menyalurkan rasa sakitnya disana, Kamala benar-benar merasa ingin menangis sekarang, bagaimana bisa Ia terjebak bersama dengan moster mengerikan seperti Benjamin. Pemuda blasteran Indonesia-Belanda itu benar-benar sudah berhasil membuat Kamala menjadi gila.
Merasakan tubuh Kamala yang bergetar pelan membuat Benjamin sedikit melonggarkan pelukan. Menatap kedua mata Kamala yang menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca. Benjamin menghapus airmata yang sudah menetes mengenai permukaan pipi gembil Kamala—mencium kedua kelopak mata Amara berusaha untuk menyalurkan rasa aman.
"Asalkan kamu menjadi gadis yang patuh, semua akan baik-baik saja."
Ucapan Benjamin itu benar-benar membuat Kamala semakin mengeraskan isak tangisnya, Kamala benar-benar prihatin dengan dirinya sendiri. Apa Kamala harus selamanya terjebak dengan monster tidak berperasaan seperti Benjamin? Selamanya disisinya.
Prolog — Selesai
KAMU SEDANG MEMBACA
Benjamin : My Dangerous Boyfriend
Fiction GénéraleMenjadi miliknya merupakan sebuah berkah sekaligus kutukan secara bersamaan.
