Halo semuanya, dengan feign disini...
Lama sekali rasanya tidak menyapa kalian secara langsung, akhir-akhir ini aku mengalami banyak hal yang luar biasa melelahkan, menguras banyak waktuku di dunia nyata yang berdampak dengan penulisan cerita ini yang terhambat. Aku berharap bisa menyelesaikannya segera.
Semoga kalian selalu bahagia dan baik-baik saja ya, salam hangat.
Feign
*****
"Kerjaan lo ini, udah yakin beres semua nih? Yakin banget nggak lo Tev?" Steven mendengus dengan kasar, menatap Natan dengan tatapan malas. Lihat, manusia menyebalkan yang satu itu berkacak pinggang sembari mengedarkan tatapan matanya ke sekitar. Seolah tengah mencari celah-celah atas hasil kerja kerasnya. Yakin? Sialan, Steven bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak satu minggu menjelang acara ini. Semuanya sudah dipersiapkan dengan matang dan sempurna — Steven sangat meyakini jika tidak ada celah atas pekerjaannya.
Keamanan, Benjamin mempercayakan segala hal krusial mengenai keamanan acara ini kepada Steven, mempercayainya. Steven sudah menyiapkan semuanya, baik keamanan tempat, tamu undangan, dan yang paling penting — Kamala. Benjamin benar-benar memberikan peringatan kepada Steven, berulang kali. Semuanya, semua kemungkinan yang akan terjadi ditempat ini. Kamala merupakan prioritas utamanya, dasar budak cinta memang.
Banyak sekali yang dikerahkan pada malam ini, orang-orang milik mereka bahkan aparat setempat. Hubungan baik Wiradmaja bersama dengan Perdana Menteri Singapura saat ini juga menjadi salah kemudahan mereka untuk dapat memobilisasi tim keamanan yang mereka miliki. Semuanya, Steven bahkan berani menggadaikan kepalanya untuk bertaruh mengenai keamanan di tempat ini.
"Lebih baik lo diem aja deh Nat, jangan ganggu kerjaan gue—gue udah profesional..." Sahut Steven sembari berkacak pinggang, menatap Natan dengan sengit. Terkekeh, Natan menatap Steven dengan tatapan tertarik. Bukankah menyenangkan jika memprovokasi Steven di tengah ke hectic an ini?
"Gue mau make sure aja sih, inget kalau sampai ada apa-apa kepala lo bisa digantung Benjamin di atas pohon toge!" Ucap Natan dengan kerlingan mata yang terlihat menyebalkan di mata Steven.
"Sialan..." Teriak Steven dengan kencang, melepas sebelah sepatu yang dikenakannya. Siap untuk melempari Natan.
Melihat respon Steven yang sesuai dengan perkiraan nya membuat Natan tertawa dengan terbahak, menjulurkan lidahnya sebelum berlalu untuk meninggalkan Steven yang pemarah itu. Natan masih menyayangi wajah tampan miliknya, menghindari lemparan sepatu milik Steven menjadi pilihan yang paling aman untuk saat ini.
Terengah, Steven menghela nafas sebelum menurunkan sepatu miliknya. Gila, bagaimana bisa Steven tumbuh bersama dengan manusia spesies seperti Natan selama ini? "Sabar Stev, orang sabar pacarnya dua..." Steven bergumam pelan sembari membenarkan tatanan jas miliknya, malam ini masih panjang. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, Steven harus menjaga suasana hatinya...
"Heh Stev, diem-diem aja lo disini? Kerja bego—yakin lo kalau semuanya udah beres ini?"
Inhale, exhale.
Sialan, setelah menghadapi si bodoh Natan sekarang datang lagi satu spesies seperti si bajingan Seno. Tersenyum sinis, Steven menatap Seno dengan posisi tangan terlipat di depan dada. "Setan, gue dari tadi kerja ya sialan!!!" Sahut Steven kesal. Setelah satu minggu kerja rodi nya, kenapa semua orang menuduhnya tidak bekerja? Yang benar saja? Apa mereka semua sudah buta?
"Oh kerja? Yaudah sih..." Seno berujar dengan santai sebelum kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Steven yang kepalang kesal, persetan dengan Steven. Seno merasa merindukan Mita sekarang, sebentar saja Mita tidak ada di dalam pandangannya, Seno merasa akan gila sekarang juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Benjamin : My Dangerous Boyfriend
General FictionMenjadi miliknya merupakan sebuah berkah sekaligus kutukan secara bersamaan.
