18 | Benjamin : My Dangerous Boyfriend - My little brother, Narendra

7.2K 336 32
                                        

Halo semuanya, feign disini...

Terima kasih karena antusiasme kalian pada chapter sebelumnya, selamat membaca chapter ini ya. Semoga kalian selalu bahagia.

Salam hangat.

*****

Narendra duduk bersimpuh seraya menundukkan pandangannya, tubuh bersimbah darah miliknya tersandar lemas di tembok, menggigil. Akankah semuanya akan segera berakhir? Bukankah Wiradmaja akan menyelesaikan Narendra, melepaskan jiwanya—melepaskan jiwanya untuk pergi ke dalam keabadian bersama dengan Amira. Terakhir kali yang Narendra ingat, Narendra sedang ada di dalam mobil bersama dengan Ginanjar yang akan menyerahkannya pada Wiradmaja. Pria tua serakah itu pasti ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Sisanya, Narendra tidak tahu. Saat terbangun Narendra sudah berada di dalam ruangan besar dengan satu akses keluar masuk bersamaan dengan kaki kanannya yang sudah terpotong. Histeris, Narendra sempat histeris sebelum terduduk lemas seperti sekarang.

"Amira."

"Amira."

"Bawa aku Amira, bawa aku untuk bersama denganmu."

Lirih, Narendra bergumam dengan lirih seraya menyebut nama Amira. Narendra merasa sudah tidak sanggup bahkan untuk bernapas, Narendra ingin segera mengakhiri semua.

Amira—perempuan menggemaskan yang menjadi alasan Narendra mendamba akan hidupnya. Setelah menghabiskan masa kecil yang penuh dengan kejadian traumatis itu, hanya Amira yang bisa mengembalikan dirinya, mengembalikan kehidupan Narendra. Tumbuh bersama dengan Amira membuat Narendra menyimpan rasa, Narendra ingin bersama dengan Amira. Bersama dengan Amira sepanjang hidupnya. Semuanya berjalan dengan lancar, semuanya berjalan dengan lancar sebelum Amira mengenal Benjamin Wiradmaja.

Benjamin Wiradmaja, sosok agung sepertinya yang tidak mungkin menjadi tandingan bagi Narendra. Narendra dengan semua aspek dalam dirinya yang sangat sempurna, sempurna sehingga membuat Amira menaruh hati, menyerahkan dirinya secara sukarela.

Amira tidak bisakah kamu hanya mencintaiku saja?

Amira, apakah tidak bisa jika kamu meninggalkan rasamu pada Benjamin dan hidup selamanya bersama denganku?

Amira, apa bisa?

Kepala Narendra terdengar sangat berisik, dengan gerakan spontan Narendra memukul kepalanya keras. Berteriak dengan histeris. Kejadian-kejadian tidak menyenangkan di masa lalu berputar dengan sangat cepat di kepala. "Tidak, jangan lakukan itu. Lepaskan aku Nina, jangan lakukan..." Narendra berteriak dengan histeris, bayang-bayang masa lalu dimana Nina menyentuh tubuhnya, menjamahnya dengan jemari-jemari miliknya. Narendra merasa hampir gila.

Nafasnya tersenggal, tubuhnya gemetaran sebelum meluruh ke atas permukaan lantai yang dingin. Semuanya terasa nyata, tangan-tangan itu terasa menggerayanginya—"Tolong, mama tolong," seru Narendra seraya memeluk tubuhnya, meringkuk.

"Tuan muda kemari, mari saya puaskan..."

"Tuan muda, tuan pasti menyukainya."

"Kemarilah tuan muda, tuan muda Narendra."

Narendra memukul kepalanya lebih kencang, berteriak histeris. Sakit, seluruh tubuhnya terasa sakit. Jijik—Narendra membenci dirinya yang kotor ini. Narendra sangat membenci dirinya sendiri.

"Naren, adik kecil ku..."

Masih dengan tubuh yang gemetar, Narendra berusaha untuk mengembalikan kesadarannya setelah mendengar suara yang cukup familiar di telinganya, suara ini?

Mendongak, Narendra berusaha untuk beranjak dari posisi nya—matanya membulat bersamaan dengan gelengan kepala. Menyeret tubuhnya semakin merapat pada dinding, mereka ada disini. Di hadapan Narendra seraya tersenyum culas. 

Benjamin : My Dangerous BoyfriendCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang