Halo semuanya, dengan feign disini.
Selamat menyambut tahun baru, dengan semangat dan resolusi yang baru tentunya. Aku ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada kalian yang masih setia menunggu Benjamin hingga saat ini. Aku berharap di tahun yang baru ini, aku bisa dengan segera menyelesaikan naskah Benjamin dan menyajikan naskah-naskah baru lainnya.
Semoga kalian selalu sehat dan baik-baik saja.
Salam hangat, feign.
*****
"Kamu senang?" Benjamin memeluk Kamala dari belakang, meletakkan dagunya pada kepala Kamala. Rasanya sangat menenangkan, satu persatu beban yang membelenggunya semakin lama semakin berkurang. Dibawah pemandangan indah langit Singapura, Benjamin berhasil mengikat Kamala untuk semakin lebih dekat ke arahnya.
Mulai malam ini dan seterusnya, meskipun dunia akan hancur sekalipun. Kamala akan selalu berada disisinya, Benjamin adalah pemilik dari Kamala.
Semuanya yang berada di dalam diri Kamala terasa begitu menyenangkan, menenangkan — Benjamin bahkan beberapa kali merasa kehilangan kontrol atas dirinya karena perasaan yang mendebarkan ini.
Kamala merasa pelukan Benjamin semakin mengerat, memejamkan kedua matanya... Kamala mengangguk, "Aku selalu senang, kakak memperlakukanku dengan baik" Gumam Kamala pelan. Malam ini Kamala memilih untuk tidak memikirkan tentang apapun yang menunggunya di depan sana, Kamala hanya ingin menikmati kedamaian malam ini dalam diam. Menghalau berbagai perasaan cemas, takkut, dan semuanya. Kamala hanya ingin bersantai meski sejenak saja.
"Kamu tidak perlu takut, as long as you are with me everything will be fine." Benjamin berbisik pelan di telinga Kamala, mengecupnya pelan. Perlahan memejamkan kedua matanya, menghirup dengan rakus aroma milik Kamala yang selalu berhasil membuatnya mabuk kepayang. Benjamin mengamati Kamala dari belakang, menatap Kamala penuh puja. Kamala, Kamala nya—miliknya.
Benjamin menyentuh pelan kedua bahu Kamala, mengecup nya perlahan. "Kita harus kembali, ibu ingin memperkenalkan kamu dengan beberapa kolega milik keluarga."
Mendengar perkataan Benjamin membuat Kamala, membuka kedua matanya sebelum mendongak. Menatap Benjamin dengan tatapan bertanya, dahi sempitnya tampak sedikit berkerut. "Apa harus kak?" Ucap Kamala bertanya, jujur. Hampir semua tamu yang Kamala lihat di ballroom tempat acara mereka dilaksanakan, Kamala sama sekali tidak mengenal mereka. Hanya ada beberapa yang Kamala kenal, termasuk dengan kepala daerah atau rekan sesama menteri yang berasal dari kabinet yang sama dengan papa nya.
Meraih jemari Kamala, mengecupnya perlahan.. "Kamu hanya perlu berdiam diri, mereka yang seharusnya memperkenalkan diri."
Dengan perlahan, Benjamin menuntun Kamala untuk meninggalkan balkon. Sesaat setelah pintu dibuka, beberapa pria berseragam hitam itu dengan spontan membungkukkan tubuh mereka. Benjamin menuntun Kamala untuk masuk ke dalam lift yang sudah terbuka, diikuti oleh dua orang lainnya.
Kamala hanya terdiam, mengikuti setiap langkah yang juga Benjamin lakukan. Lift berdentang bersamaan dengan pintu yang terbuka, suasana lorong yang terhubung menuju ballroom masih sama. Didominasi oleh orang-orang milik Benjamin yang berjaga.
Kamala mengikuti langkah kaki Benjamin yang membawanya masuk ke dalam, suasana di dalamnya terlihat lebih santai dari yang Kamala pikirkan. Penerangan yang dibuat temaram bersama dengan iringan musik klasik yang dibawakan langsung oleh kelompok orkestra yang Renata datangkan dari Italia mampu menciptakan suasana yang magis bagi Kamala. Dibandingkan dengan pesta pertunangan, suasana disini bisa digambarkan sebagai perjamuan yang sering diadakan oleh para bangsawan, semuanya sama seperti yang Kamala sering lihat pada film-film fantasi kesukaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Benjamin : My Dangerous Boyfriend
General FictionMenjadi miliknya merupakan sebuah berkah sekaligus kutukan secara bersamaan.
