Halo semuanya, dengan feign disini.
Senang kembali menyapa kalian, selamat menikmati chapter ini — salam hangat semuanya.
*****
"Kakak." Benjamin mengulurkan tangannya pada Kamala yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, gadis itu tampak sedikit lebih segar dengan rambut yang terbungkus oleh handuk tebal. Menerima uluran tangan yang diberikan oleh Benjamin, Kamala di tuntun untuk duduk di salah satu pahanya. Benjamin memeluk erat tubuh mungil milik Kamala, menghirup aroma menenangkan yang tercium dari tubuh Kamala, sangat menenangkan.
Benjamin memberikan kecupan-kecupan ringan pada leher jenjang milik Kamala dengan gemas, rasanya Benjamin tidak bisa menahan dirinya sendiri ketika berhadapan langsung dengan Kamala. Kamala nya yang sangat mempesona.
"Kakak besok masih sampai sore, kelas tambahan?" Tanya Kamala yang dibalas anggukan oleh Benjamin, Kamala menganggukkan kepalanya. "Mala mau pergi sama Mita ya kak, mau coba coffee shop baru di dekat sekolah." Pinta Kamala pada Benjamin, tadi pagi pada saat sekolah Mita memberi tahu Kamala mengenai beberapa rekomendasi coffee shop yang ada di sekitar sekolah, banyak dari mereka yang menjual berbagai jenis dessert cantik yang menarik. Kamala merasa harus mencobanya.
Benjamin tampak menimbang sebelum menganggukkan kepalanya, mengelus pelan pinggang ramping milik Kamala. "Boleh, besuk di antar Pak Syarif, kamu bisa mengajak Mita." Kamala tersenyum senang seraya menganggukkan kepalanya, berterima kasih pada Benjamin yang sudah memberikan Kamala izin. Kamala akan segera mengabari Mita jika Benjamin sudah mengizinkannya pergi.
Setelah mengabari Mita, Kamala segera mengeringkan rambut panjang miliknya menggunakan hairdryer yang sudah disediakan oleh Benjamin untuknya, memastikan jika rambut nya kering Kamala segera memasukkan kembali hairdryer miliknya pada laci meja.
Kamala melirik Benjamin yang tengah mengerjakan sesuatu di meja kerja miliknya yang berada di dalam kamar, pria itu terlihat sibuk sehingga Kamala tidak mau mengganggu. Setelahnya, Kamala memilih untuk beranjak menuju ke arah ranjang, merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang milik Benjamin. Jemari miliknya bergulir di atas layar ponsel, mencari sesuatu yang menarik untuk dilihat.
Setelah kurang lebih satu jam berselancar di sosial media, Kamala memilih untuk mematikan ponsel miliknya, meletakkan ponsel itu di atas nakas sesekali mencuri pandang ke arah Benjamin yang masih terlihat fokus dengan sesuatu yang tengah dikerjakan. Mata nya sudah sangat berat sekali, Kamala menguap pelan sebelum mencari posisi yang nyaman untuk berbaring. Tidak lama setelahnya Kamala mulai terlelap.
Menyadari jika sudah tidak ada suara-suara dari ponsel milik Kamala membuat Benjamin mengalihkan pandangannya, tersenyum. Kamala sudah terlelap di atas ranjang miliknya dengan selimut tebal yang membungkus tubuh mungil gadis itu. Benjamin sudah menyelesaikan pekerjaan miliknya, beberapa tugas sekolah bersama dengan tugas-tugas yang Candra berikan untuknya sebagai bahan bagi Benjamin untuk belajar. Terlahir menjadi pewaris tunggal Wiradmaja membuat Benjamin selalu dituntut untuk menjadi sempurna, sejak kecil Benjamin memang dipersiapkan untuk hal ini. Mau tidak mau, suka tidak suka. Benjamin harus bekerja dengan sangat keras untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik. Kekuasaan besar memerlukan kemampuan yang sepadan, Benjamin harus bekerja keras untuk mempertahankan apa yang generasi terdahulunya siapkan.
Benjamin beranjak dari posisi duduknya, perlahan berjalan mendekat ke arah ranjang, menghampiri Kamala yang terlelap. Jemari miliknya terulur untuk mengelus pelan punggung Kamala, memberikan kecupan pelan pada sisi wajahnya sebelum beranjak pergi. Benjamin menuruni tangga, memanggil kepala penjaga kediaman utama. "Jaga kediaman utama dengan baik, nona kalian ada di dalam." Ucap Benjamin kemudian berlalu pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Benjamin : My Dangerous Boyfriend
General FictionMenjadi miliknya merupakan sebuah berkah sekaligus kutukan secara bersamaan.
